BALE
BENGONG
hal 1 | hal
2 | hal 3
Hiruk Pikuk di Hari Sepi
Agus S Mantik
Pergantian tahun Saka dimulai pada tanggal
1 bulan Waishakamasa (bulan ke sepuluh di mana Sravana
adalah bulan pertama) yang hampir tidak ada bedanya
dengan Tahun Baru Masehi (yang sebenarnya juga bulannya
dimulai dengan bulan Maret). Perhitungannya juga sama
yaitu mengikuti peredaran matahari. Kita tidak memiliki
bukti pasti mengapa kedua hal itu bisa demikian, barangkali
saat terjadi pergantian kedua Tahun Baru tersebut, matahari
sedang bergerak di atas katulistiwa dan menuju ke utara
( uttarayana ); sesuatu yang dianggap masa paling baik
untuk melaksanakaan pekerjaan apapun di dalam penanggalan
Hindu.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap kedua Hari Raya
itu, di mana mana diadakan keramaian (festival). Bulan
Waishaka di Jawa dianggap sebagai bulan di mana cuaca
mulai terang benderang, segar, dan menyenangkan. Hujan
pun sudah reda.
Pada hari yang dicanangkan sebagai hari pergantian tahun
(penambahan satu tahun di dalam penanggalan), orang
pergi berduyun-duyun ke gunung dan menonton berbagai
jenis pertunjukan terutama wayang kulit. Rumah rumah
dihiasi janur dan pesta keramaian diiringi dengan gamelan,
kendang, dan seruling sambil mendengarkan kisah-kisah
yang dipetik dari epos Mahabharata. Kita tidak tahu
apakah hal seperti ini pernah dialami di Bali. Atau
sejak kapan penyelenggaraan Hari Raya Nyepi yang mirip
dengan yang kita kenal sekarang mulai dilaksanakan di
Bali?
Yang jelas bahwasannya apa yang kita laksanakan di Bali
bukanlah mainstream dalam pemahaman pemeluk Hindu biasanya
menghadapi Hari Raya Tahun Baru.
Kita bisa saja mengatakan bahwa apa yang berlangsung
di Bali khas Hindu, akan tetapi bentuknya sudah di-rohani-kan
( spiritualize ), seperti biasanya masyarakat Bali me-rohani-kan
hal-hal lain. Pemimpin pemimpin agama di Bali barangkali
beranggapan bahwa bentuk syukuran yang paling bagus
adalah dengan melihat ke dalam, bukannya mementingkan
yang bersifat keluar, seperti ritual maupun seremonial
tiap mereka menyatakan terimakasihnya pada Hyang Widhi.
Hal ini sebenarnya bisa dilihat sekarang ini juga, di
mana ada usaha untuk memasyarakatkan Hari Raya Siwaratri.
Padahal penghormatan atas hari ini pada zaman dahulu
hanya dilaksanakan oleh beberapa puri dan griya saja.
Bisa juga diperkirakan bahwa Hari Raya Nyepi sudah ada
bahkan sebelum Hindu/Budha masuk ke Bali, dan hal ini
memastikan bahwa ketika kita menerima keimanan kedua
agama itu, sesungguhnya kita juga sudah memiliki tradisi
keagamaan yang utuh dan mendalam. Berlainan dengan kepercayaan
agama semitik. Hindu dan Budha menerima dan menganggap
sejajar serta memberikan ruang pada tradisi dari agama/kepercayaan
sebelumnya.
Di zaman globalisasi ini kita melihat ada fenomena baru
di dalam setiap perayaan Nyepi. Sebagian pemeluk Hindu
mulai bingung dengan cara mengisi waktu liburan Tahun
Baru Saka. Persyaratan mengenai amati karya dan amati
lalanguan malah merepotkan mereka. Orang-orang merasa
tak etis pergi ke mall misalnya atau piknik ke tempat-tempat
mengasyikkan, lebih lagi untuk menikmati santapan di
berbagai restoran. “Ajaran agama” tidak
membenarkan mereka berbuat demikian. Puasa, tak ke mana-mana,
tanpa nyala lampu tapi mereka harus tetap terjaga (
melek, tidak tidur). Inilah menyebabkan mereka gelisah.
Pikiran tak pernah dilatih untuk diam. Padahal, hanya
pikiran diam saja yang mensyaratkan tiadanya kegiatan
(yang bersifat keluar). Kegelisahan pun terjadi karena
mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Walaupun fenomena serupa tak menghinggapi semua orang,
keadaan ini tentu saja memprihatinkan. Akibatnya, dalam
masa liburan hari Nyepi, penyewaan VCD/DVD pun laris
manis. Termasuk juga makanan/minuman dan tentu saja
minuman ber-alkohol. Modernisasi di sini menjadi bertentangan
dengan kontemplasi, perenungan di mana biasanya dalam
hari raya seperti ini kita diwajibkan untuk mawas diri.
Melihat ke dalam diri kita sendiri.
Meditasi, diskusi tentang falsafah agama tentu saja
masih dilaksanakan di beberapa tempat, tapi jumlah makin
lama tambah berkurang. Termasuk yang tidak menjalankan
upawasa sebagai salah satu bentuk untuk pendisiplinan
diri ( sadhana ) juga bertambah banyak. Kita tentu berhak
untuk khawatir atas perkembangan seperti ini, yang jika
dibiarkan, maka makna daripada perayaan Tahun Baru Saka
menjadi semakin sirna. Arus globalisasi membawa kita
semakin jauh ke susuatu bersifat luar ke arah hiruk
pikuk yang menonjolkan lahiriah. Padahal seperti yang
sering saya sitir dari tafsir Prof Radhakrishnan di
dalam Gita, kehidupan rohani (spiritual) adalah (i)
bhakti yang mendalam, (ii) samadhi yang diam, (iii)
dibukanya kesadaran yang terdalam dari jiwa yang menghubungkan
diri sejati dengan azas Tuhan, (iv) tidak memerlukan
bantuan dari luar, (v) tidak ada kepercayaan terhadap
dogma, (vi) tanpa partisipasi di dalam ritual, dan (vii)
visi kreatif karena digabungkannya penyerapan dengan
tiadanya keterikatan.
Apabila kita ingin menduniakan semangat Hari Nyepi seperti
yang sering dikumandangkan banyak pihak belakangan ini,
maka makna inilah yang harus dipertahankan.
Perohanian ini membawa kita kepada arti yang sesungguhnya
dari kehidupan mistik, bahwa: (i) bukanlah teori bersifat
intelektual atau keilmuan, (ii) pada dasarnya dia adalah
azas hidup yang aktif, formatif, kreatif, dan yang memuliakan,
(iii) pemahaman rohani daripada tujuan dan masalah-masalah
hidup pada tingkatan yang lebih nyata dan lebih akhir
dibandingkan dengan kemungkinan yang hanya melalui akal
dan fikiran saja, (iv) pemuliaan yang berjenjang dalam
nilai nilai rohani, dalam pengalaman dan cita cita rohani
( spiritual ideals ), (v) memiliki beragam sisi dalam
perkembangannya, sangat kaya dan komplit seperti hidup
itu sendiri, (vi) di dalam semua pengikut mistik di
dunia, ada rasa mendalam mengenai perlunya pikiran yang
bersih, penyangkalan diri. Selalu tertujunya pikiran
kepada Tuhan ( ekagrata ).
Agus S. Mantik