No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
ORTA

Murid Baru Pasraman Tumbak Bayuh
Griya Mas Tumbak Bayuh, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, kembali membuka kesempatan bagi para warga untuk mengikuti pendidikan tentang keagamaan, terutama menyangkut Weda. Pendidikan yang dibuka Ketua Parisada Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, diikuti oleh 50 peserta.
Sesepuh Griya Tumbak Bayuh Ida Rsi Hari Dantam, menyambut positif antusias warga Hindu yang mau belajar serta meningkatkan jnana tentang agama. Itu sebabnya, materi yang diberikan dalam pendidikan kali ini berupa catur weda, panca yajnya, makidung, macepat, makakawin, dan sukmaning banten serta cara pembuatannya. Sedangkan untuk memantapkan proses belajar mengajar, pihaknya juga menjalin kerjasama dengan Parisada Bali. “Melalui pasraman kita berharap warga Hindu dapat belajar bersama-sama menciptakan kedamaian bagi diri, lingkungan, bahkan jagat raya ini, ” demikian Ida Rsi Hari Dantam.

Pedoman Nyepi MMDP Gianyar
Hari Nyepi yang jatuh pada 7 Maret 2008 mendatang mendapat perhatian serius dari berbagai tokoh adat dan agama di Gianyar. Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Gianyar selaku wadah dari desa pakraman, jauh-jauh hari telah mengeluarkan surat edaran (SE). Dalam SE tertanggal 11 Pebruari, No. 07/MMDP/Rek/II/2008 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Hari Raya Nyepi, disampaikan untuk upacara malasti atau makiis dari tanggal 3 sampai 6 Maret. Tawur Tilem Kasanga pada 6 Maret sekitar pukul 18.30 wita, atau menyesuaikan dresta, keyakinan, dan aturan di desa pakraman masing-masing.

Sadana Camp di Banyuwangi
Hari Raya Kuningan di awal Pebruari lalu, menjadi hari penuh makna di kalangan pemeluk Hindu Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Hari suci yang datang tiap 210 hari (enam bulan sesuai kalender Bali) itu dimeriahkan kegiatan Sadana Camp atau perkemahan bakti.
Kegiatan yang bertujuan menyiapkan generasi muda Hindu agar memiliki sradha lebih kuat, diikuti ratusan pemuda Hindu, pelajar, dan mereka yang telah berkeluarga. Peserta hadir dari berbagai daerah Kabupaten Banyuwangi.
Di samping sebagai ajang menimba ilmu, Sadana Camp yang digelar selama tiga hari (31 Januari - 2 Pebruari) di wantilan Pura Agung Blambangan, Banyuwangi, sekaligus menjadi kegiatan reuni akbar bagi seluruh remaja Hindu di Banyuwangi. Lebih-lebih mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar kota, “Mereka bisa pulang kampung dan berkumpul dengan teman-teman lama.” beber Ketua Peradah Kabupaten Banyuwangi, Suminto. “Lebih menarik lagi saya bisa berkumpul dengan teman teman lama,” Wiweka Nanda Ardini, dara yang kini sedang menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor menambahkan.
Peserta yang ikut kegiatan tahunan Peradah banyuwangi ini tampak kompak. Mereka getol mengikuti seluruh materi yang disampaikan narasumber yang didatangkan langsung dari beberapa ahli agama di Jawa dan Bali.
Materi yang diberikan meliputi penguasaan sejarah Hindu, sejumlah pengetahuan modern, filsafat agama, serta pengetahuan medis yang diambil dari fiosofi Weda.
Pengawasan terhadap peserta juga berlangsung cukup ketat, mirip sistem yang diterapkan pada sebuah pasraman zaman dulu. Pagi, hari peserta ditempa dengan latihan yoga guna menguatkan pikiran dan badan. Selama mengikuti kegiatan peserta juga diwajibkan menggunakan baju adat sebagai satu wujud menguatkan kesan rohani. Mereka juga wajib tinggal di lokasi pura selama mengikuti kegiatan. “Mereka sengaja di karantina. Ini tradisi menghindari dunia luar,” sambung Suminto. Termasuk masalah makan, mereka juga diatur ekstra ketat. Peserta dilarang jajan di luar dan hanya boleh makan di tempat yang telah disediakan pantia. Jenis makanan pun teramat sederhana yang didominasi nuansa vegetarian. Sedana Camp diakhiri bertepatan dengan puncak piodalan di Pura Agung Blambangan sekaligus merayakan Kuningan.

Lokasabha PHDI Denpasar
Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar, pertengahan Pebruari lalu menggelar Lokasabha ke III, bertempat di wantilan Taman Budaya Denpasar Denpasar.
Sekitar 250 peserta mengikuti acara ini, seperti sulinggih, pengurus Parisada di empat kecamatan di Kota Denpasar, Majelis Madia, dan Majelis Alit Desa Pakraman Kota Denpasar, serta para pamangku masing-masing dari Tri Khayangan Desa Adat Denpasar.
Berbagai rumusan berhasil ditelorkan pada lokasabha kali ini, seperti perubahan nama Parisadha Hindu Dharma Indonesia Kota Denpasar kembali kepada Piagam PDBH 1959, dan Piagam Samuan Tiga 2007, yaitu kembali kepada Parisada Dharma Hindu Bali (PDBH) Kota Denpasar.
Melahirkan kepengurusan baru PDHB Kota Denpasar periode 2008-2013 dengan susunan pengurus dan personalia terdiri atas sabha wiku 11 orang, sabha walaka 22 orang serta Ida Padanda Gede Telaga sebagai Ketua Umum dan AA Putu Oka Swetja sebaga Ketua Harian. Kepengurusan juga dilengkapi bidang keagamaan dan kemasyarakatan.

Kebodohan Sumber Kemiskinan
Sering terucap dan terdengar dalam bentuk wacana di masyarakat, bahwa kebodohan sangatlah dekat dengan kemiskinan. Bisa dibayangkan, masyarakat yang kurang cerdas pastilah kemampuan beraktivitasnya lemah. Demikian pula dalam mengatasi berbagai permasalahan yang mendera kehidupan sehari-hari mereka juga lambat bersikap.
Agar bisa terhindar dari kondisi seperti itu, maka pendidikan merupakan pondasi dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa guna meningkatkan kualitas dan kuantitas hidup.
Terlebih dengan program pemerintah yang dikenal dengan Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun mesti direalisasikan. Jika program wajar 9 tahun dapat terwujud, betapa masyarakat akan menjadi bangsa terpelajar.
Sayangnya di lapangan berkata lain. Realita sering berbalik-balik. Masih banyak anak-anak, terutama dari lingkungan keluarga kurang mampu, kesulitan menyekolahkan anaknya. Di sinilah peran penting masyarakat yang perekonomiannya sudah mencukupi untuk menyisihkan sedikit hartanya untuk berderma. Membantu sesama agar mereka yang berada dalam ambang kemiskinan tertolong dan mengenal lingkungan pendidikan.
Bertolak dari program pengentasan Wajar 9 tahun dan capaian program Tabanan Cerdas 2008, maka Yayasan Maderi Dharma Kerthi (YDMK), Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan, ikut berupaya membantu sesama dalam bidang pendidikan. Dan, selama setahun berdiri, YDMK telah menyalurkan bantuan beasiswa kepada keluarga kurang mampu yang tak hanya menjangkau Selemadeg dan sekitarnya, namun juga dapat menyentuh warga di Singaraja, Badung, dan Denpasar. Selain membantu memberikan beasiswa yang sumber pendanaannya masih ditangung pendiri, yayasan yang didirikan seorang tokoh masyarakat Selemadeg, Made Arta, juga memberikan fasilitas sekolah berupa alat tulis dan pakaian sekolah.
Di samping menyasar dunia pendidikan, kata mantan Ketua Parisada Bali ini, YDMK juga menggelar kegiatan penataran para pamangku dan serati. Satu tugas mulia yang memiliki tujuan mulia pula.

Kasus HIV/AIDS Ibarat Deret Hitung
Penderita HIV/AIDS di Bali bak deret hitung. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Propinsi Bali, setiap tahun kasus serupa di pulau alit ini terus mengalami peningkatan. Tahun 2007 saja ada ditemukan sekitar 1.782 kasus HIV di seluruh Bali. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2006 yang mencapai 1.253 kasus.
Pasien HIV yang datang ke VCT RS Sanglah juga selalu mengalami peningkatan setiap tahun.
Cuma, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) AIDS Rumah Sakit Sanglah, Tuti Parwati, memandang peningkatan kasus itu tak selamanya menggambarkan kondisi buruk. Malah bisa menggembirakan. Pasalnya, gambaran fenomena gunung es HIV/AIDS sedikit demi sedikit mulai terkuak. Dengan adanya peningkatan kasus setiap tahun, berarti juga semakin meningkat kesadaran masyarakat untuk waspada dan memeriksakan diri. Sehingga kasus yang belum ditemukan obatnya semakin lama semakin terkuak. “ Dari sisi positif, peningkatan ini berarti semakin banyak penderita HIV yang mendapat pengobatan sehingga tingkat penularannya bisa diperkecil,” ingatnya.
Penderita HIV/AIDS di Bali memang ada kecenderungan mengalami peningkatan. Dari jumlah kasus yang terdata, sekitar 60 - 70 persen penderita yang memeriksakan diri sudah masuk ke stadium lanjut atau AIDS. Artinya, penderita sudah menunjukkan gejala dan sudah terlambat, setidaknya lima tahun untuk melakukan pengobatan. Hal itu pula menyebabkan kasus kematiaan HIV di RS Sanglah juga meningkat dari tahun ke tahun.
Dalam bahasa Tuti Parwati, pasien yang terlambat datang biasanya sel pertahanan dalam tubuh (CD4-red) mereka sudah rendah. Malah ada yang memeriksakan diri saat CD4 berjumlah 50. Akibatnya mudah terkena infeksi.
Padahal, idealnya dalam melakukan terapi ARV—terapi ini dilakukan pada penderita penyakit HIV/AIDS—, CD4 dalam tubuh berjumlah 200-100. Sedangkan bagi orang sehat, CD4 berjumlah 750 dan yang betul-betul fit berjumlah 1.000.
Jika terdeteksi secara dini, Tuti meyakini tingkat keberhasilan pemakaian ARV sampai 90 persen lebih dan penderita HIV tidak akan sampai ke stadium lanjut.
Orang diketahui positif atau tidak mengidap virus HIV adalah dengan melakukan pemeriksaan darah tiga sampai enam bulan setelah terindikasi terjangkit virus. Untuk penderita yang sudah meninggal, biasanya virus dalam tubuhnya juga akan ikut mati.

Sabha Yowana Lebarkan Sayap
Persoalan paling esensial yang dihadapi generasi muda Bali kini, adalah tergerusnya jati diri mereka sebagai akibat dari perubahan kultur yang makin hari terus menggerus. Bila masalah tersebut sampai terabaikan, maka kemampuan pemuda Bali untuk menjaga jati dirinya akan semakin merosot.
Di sinilah peran sekaa taruna sejatinya cukup penting kehadirannya. Baik di tingkat banjar, lebih-lebih di desa pakraman. Organisasi bernama sekaa teruna bisa menjadi wahana pembinaan bagi para yowana (generasi muda).
Mengingat betapa penting membina para yowana sebagai generasi penajut negeri ini, maka Sabha Yowana sebagai satu organisasi yang mewadahi pemuda, akan segera dibentuk di desa pakraman. Ketua Sabha Yowana Bali, Ida Bagus Wirawibawa berharap, kelahiran Sabha Yowana Desa Pakraman nantinya bisa menjadi forum komunikasi antar sekaa taruna yang ada. Peran nyata pemuda dalam berbagai dimensi pembangunan pun terus bisa digenjot.
Mampu menjaga keutuhan jati diri pemuda begitu penting. hal itu bisa ditumbuhkan di antaranya dengan memberi ruang kreativitas murni yang terlahir dari pikiran, ide pemuda itu sendiri. WS