|
SASIH
Mulailah dari Air
Inilah arti penting perjalanan ke pusat air. Secara
simbolik tak semata diartikan menuju sumber air ragawi,
namun meretas jauh melampui kedalaman samudra batin
mahaluas, mahaening, suci nirmala, galang malilang.
Bali
tengah memasuki musim pancaroba kini. Peralihan musim
basah ke musim kering sedang berjalan. Sasih Kaulu (bulan
kedelapan) baru saja lewat. Memasuki Sasih Kasanga kini,
belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Angin berembus
kencang, merobohkan pohon-pohon dan rumah-rumah. Bencana
alam, dan ancaman marana sasab (epidemi) senantiasa
mengintai. Kilat dan petir kerap menyambar-nyambar.
Angin berhembus dari arah selatan dengan kekuatan kencang.
Pagi, siang dan malam udara terasa beeng (gerah). Maklum
Kasanga kini tengah ngunya Kalima (bulan kelima), karakter
hawa memang sedikit gerah.
Kendati telah memasuki pertengahan Sasih Kasanga, nelayan
masih ragu turun melaut, ancaman badai bisa menghadang
tiba-tiba. Bagi petani yang taat pada ketentuan kretamasa,
aturan musim tanam, saat menggembirakan tengah menunggu
kini. Bulir-bulir padi kian merunduk, panen menjelang
tiba. Sejumlah pala gantung, buah-buahan semisal: duku,
jeruk manis, salak matang dipohon. Pertanda bahagia
ini, dibahasakan dengan candra : “wedharing wecana
mulya”, tersiarnya berita bahagia.
Kini saban Kasanga tiba, orang Bali senantiasa diingatkan
merawat sumber-sumber alam, terutama merawat sumber-sumber
mata air, baik sumber air itu bernama danau, sungai,
campuhan, klebutan , laut, pancuran, dan sebagainya.
Bagi orang Bali yang nota bene “beragama air”
lazim disebut “beragama tirta” memang senantiasa
menempatkan air sebagai sumber mahahidup, karenanya
air disebut juga toya, artinya: Ya, dia sang pemberi
hidup. Inilah alasan mendasar, kenapa menjelang hari
Nyepi, orang Bali melakukan perjalanan menuju tepi air,
disebut dengan malasti . Tentu lewat upacara ini orang
Bali diingatkan melakukan pensucian lahir-batin ke pusat-pusat
mata air, serta-merta menyucikan segala pralingga, stana
dewa-dewa pujaan.
Memang memasuki pergantian sasih, terutama menjelang
memasuki sasih Kadasa, Bali pulau kecil yang terletak
di garis selatan Khatulistiwa, akan menunggu daur hidup
baru. Cuaca perlahan cerah, udara berangsur bersih.
Musim hujan segera berakhir. Air sungai semakin bersih.
Bunga-bunga mulai mekar, masa subur umumnya datang.
Patani menunggu masa panen, seterusnnya menikmati jeda
panjang guna menjalani penyucian dan penenangan batin.
Berkenan dengan penyucian diri itu, yang dilakukan tepat
di hari Tilem Kasanga, teks Sundarigama misalnya menyuratkan
jelas, “Mwang tka ning tilem, wenang mupuga lara
roga wighna ring sarira, aturakna wangi-wangi ring sanggar
parhyangan, mwang ring luhuring aturu . Tiba saat hari
Tilem (bulan mati), hendaknya dilakukan penyucian diri,
menghaturkan bunga-bunga serba harum di sanggar parhyangan,
dan di hulu tempat tidur.”
Tiga hari menjelang Nyepi, tepat hari Selasa Umanis
, Wuku Krulut, tanggal 4 Maret 2008, merupakan puncak
upacara palelastian . Perjalanan menuju tepi air. Seluruh
pratima dan pralingga (arca) stana dewa-dewa disucikan.
Diusung menuju sumber mata air: samudra, danau, klebutan
(pusat mata air), dan campuhan (titik pertemuan aliran
air). Ini drama sosio-religius, memang. Perjalanan spritual
gaya Bali, kental suasana agraris.
Melawati jalan setapak, membelah hambaran huma subur.
Gemuruh tetabuhan, tambur, gong gambelan, genta pinandita
diseka kidung suci, menyatu doa semesta. Harapan mereka:
supaya sawah dan tegalan yang dilalui iringan-iringan
dewa-dewi diberkati kesuburan. Semoga panen berhasil,
hama penyakit menyingkir, dan ternak terselamatkan.
Semoga air sumber hidup tetap mengalir, membasahi sawah,
memberi kehidupan. Semoga damai semua.
Melasti mengingatkan orang untuk senantiasa menghargai
air. Air penting bagi hidup. Bila sumber air mengering,
berarti ada sesuatu yang tidak harmoni dalam ekosistem
hutan. Air akan tetap mengalir jernih bila hutan-hutan
tetap utuh, bukit dan gunung-gunung tetap lestari. Bila
hutan dan gunung gundul, mata air akan menyurut. Bencana
kekeringan dan longsor tinggal menunggu waktu. Karena
itu mulailah memperbaiki hidup dari merawat air. Jika
air tetap jernih bening, tak tercemar, niscaya hati
dan pikiran pun jadi damai.
Di titik ini malasti atau perjalanan menuju air menjadi
semacam ritus mengarungi air hidup. Inilah arti penting
perjalanan ke pusat air. Secara simbolik tak semata
diartikan menuju sumber air ragawi, namun meretas jauh
melampui kedalaman samudra batin maha luas, sekaligus
maha ening, suci nirmala, galang malilang.
Kasanga, sasih kesembilan dalam dua belas sasih yang
ada dalam kalender Bali merupakan momen penting dalam
tatanan kosmologi Bali. Saat ini, matahari tengah “melintas”
di garis khatulistiwa, “bergerak” ke lintang
utara, ngutarayana . Lintasan ini menentukan babakan
penting perjalanan hidup manusia Bali, di mana di seantero
Bali digelar serentak upacara bumi suddha , penyucian
diri, tawur untuk kesucian dan keseimbangan jagat. Tawur
yang diniatkan mengembalikan unsur-unsur yang membangun
semesta alam ini agar alam ini tetap memberi daya hidup.
Begitulah sepatutnya orang Bali menyambut nyepi, mesti
diawali dengan “tawur” merawat sumber-sumber
alam.
|