SAMETON
Merentas Jalan Satukan
Pengusaha
Komitmennya begitu kuat rela meninggalkan status
sebagai pegawai negeri. Dia justru menghimpun pedagang
kecil untuk bersatu. Membangun sebuah kekuatan menghadapi
para pemodal besar.
Pancaran
sinar mentari pagi pada pertengahan Pebruari lalu, menggoda
burung perkutut yang tergantung apik di tepian langit-langit
sebuah rumah di bilangan Jalan WR Supratman, Jero Gede
Puri Pemayun di Banjar Kedaton, Desa Kesiman, Kecamatan
Denpasar Timur, Kota Denpasar, untuk bersenandung riang.
Suaranya mendayu-dayu saling bersahutan dengan burung
puter. Bunyi kukuruyuk ayam jantan menambah sumringah
suasana. Sungguh menyentuh kalbu memang. Gaduh riuh
Kota Denpasar pun seakan sirna.
Di tengah-tengah kesibukan penghuni rumah menunaikan
beraneka tugas rutin, seorang lelaki tua mengenakan
sarung, berkaos oblong warna putih tampak sedang sembahyang.
Ketika SARAD mencoba menanyakan ada seorang yang ada
di rumah, wanita paruh baya itu menyuruh menunggu sesaat.
“ Jantos ajebos nggih , (tunggu sebentar ya...),”
himbau wanita tadi.
Sesaat kemudian, pria kelahiran Kesiman, 8 Pebruari
1921, dari pasangan I Gusti Ketut Pugeg dan Jero Tunjung
ini pun keluar dari pamerajan . Itulah I Gusti Ketut
Gede.
Orang-orang mengenalnya sebagai wirausaha tulen, mempelopori
pendirian berbagai usaha. Hampir sepenuh hidupnya dia
abdikan menjadi seorang usahawan. Berkiprah di swasta.
Dulu, ketika masih muda, saat banyak orang menghindar
dari pekerjaan di swasta, dia justru berani pasang badan.
Mempelopori dunia wirausaha. “Kalau di zaman saya
muda dulu, bagi yang berpendidikan menengah ke atas
semuanya mengejar profesi menjadi pegawai negeri,”
dia mengenang.
Ada berbagai pertimbangan hingga orang kerap menghindar
menjadi wirausaha. Bila jadi pegawai negeri, begitu
diangkat langsung mendapat penghasilan. Berbeda dengan
wirausaha, harus cari hasil dulu baru berusaha.
Kiprah Gusti Ketut Gede di bidang usaha, sejatinya dilalui
penuh perjuangan. Diawali dari Kota Buaya, Surabaya.
Tahun 1937, saat usianya baru 15 tahun pergi ke Surabaya
guna melanjutkan sekolah. Di kota ini dia menempuh pendidikan
di Institut Voor Handelsonderwys (sekolah dagang), yang
kala itu beralamat di Jalan Bali Werti No. 3 Surabaya,
di kawasan Blauran. Pilihan jatuh di sekolah dagang
karena ingin sekolah di tempat lain ternyata terlambat.
Daripada menunggu sampai setahun, akhirnya pilihan jatuh
di sekolah dagang. Di sini belajar sekitar tiga tahun.
Setelah menyelesaikan studi di sekolah dagang tahun
1940-an, mulailah mencoba hidup mandiri dengan bekerja
di pelabuhan Tanjung Perak sebagai klerek (setingkat
lebih tinggi dari juru tulis). Sembari bekerja, dia
melanjutkan kursus tata buku. Tahun 1942 Jepang menguasai
Indonesia dan nasib kurang bersahabat mendera perusahaan
tempatnya bekerja. Jepang tak memberi ijin perusahaan
di tempat kerjanya beroperasi lagi di pelabuhan alias
ditutup. Karyawan di pelabuhan memang ada yang tetap
bekerja tapi tak digaji hampir tiga bulanan.
Pemilik perusahaan jawatan pelabuhan akhirnya melapor
ke Pemerintah Kota Madya Surabaya, akhirnya dikasih
tempat saja. Lokasinya di sekitar jembatan merah. Perusahaan
pun punya kantor, cuma tak diijinkan masuk lagi ke pelabuhan
oleh Jepang.
Sampai akhirnya pertengahan 1942, karena nasib tak menentu
dan Pemerintah Kota Madya Surabaya mencari pegawai,
akhirnya kesempatan tersebut tak disia-siakan. Gusti
Ketut Gede bersama banyak warga Surabaya ikut melamar.
Nasib lagi berpihak pada pria yang menikahi I Gusti
Ayu Ari pada Desember tahun 1942. Lamarannya diterima
dan dia mendapat posisi sebagai pegawai bagian asisten
pembantu kepala pembukuan.
Di Kota Madya Surabaya dia bekerja sampai tahun 1945.
Namun akibat ada revolusi fisik—kejadian bermula
dari kedatangan NICA yang ingin melucuti tentara Jepang
di Surabaya. Tapi karena ada penembakan terhadap seorang
tentara NICA yang ada di atas kapal, akhirnya pasukan
sekutu Inggris yang ditunggangi pasukan Belanda ini
‘ngamuk'—Surabaya jadi kacau. Hingga tanggal
24 Nopember 1945, arus pengungsi besar-besaran terjadi
dari Kota Surabaya melalui Jor-joran ke selatan terjadi.
Revolusi fisik pasca kemerdekaan Agustus 1945 memang
sulit terhindarkan. Hal itu pula memaksa Gusti Ketut
Gede bersama istri dan anak keduanya yang masih bayi
mengungsi sampai ke Sidoarjo. Dalam desingan peluru
dia berusaha menyelamatkan diri, bergabung dengan pengungsi
lain. Perjalanan yang dilalui penuh dengan debaran jantung,
karena dalam perjalanan sering bertemu dengan tentara
Jepang yang tidak mau dilucuti tentara NICA, malah masih
bersikap sok kuasa.
Perjalanan menuju ke Bali tak melewati jalur yang lumrah
ditempuh. Selalu mengambil jalan yang sekiranya lebih
aman. Setelah hari kelima perjalanan dari Sidoarjo baru
sampai ke Jember dan di kota ini menginap di rumah seorang
temannya. Setelah lima hari terdengar kabar bahwa pasukan
RI tak bisa kembali ke kota (Surabaya). “Kalau
begini saya tak bisa terlalu lama mendompleng di tempat
teman,” dia mengenang.
Akhirnya cari jalan terus ke timur dan menarik diri
menuju ke Banyuwangi. Di sini pun keamanan tak terjamin,
karena pasukan Jepang terus memburu warga pribumi.
Kebetulan telepon masih tetap nyambung, saling kontak
antarteman pun terjadi. Jika sudah aman disuruh melanjutkan
perjalanan.
Setelah melalui perjuangan cukup panjang dan melelahkan,
akhirnya pada 8 Desember 1945 dengan menaiki perahu
berhasil mendarat di pantai Cupel, Jembarana. Setelah
bermalam di Jembrana keesokan harinya, tanggal 9 Desember
1945, baru diangkut ke Denpasar. “Selama di Denpasar
saya bersama teman-teman juga berusaha berjuang mengusir
penjajah,” kata ayah lima putra ini heroik.
Tahun 1946, setelah mulai mereda, akhirnya muncul keinginan
untuk mencari kerja. Cuma kerja apa yang diambil juga
tak pasti. Nah, ketika sempat berbincang dengan Cokorda
Agung Ngurah Agung dari Puri Satria yang sempat menjadi
punggawa di Puri Kesiman, muncul ide membentuk koperasi.
Usaha yang ditangani ini nantinya akan mendistribusikan
barang-barang dari pemerintah ke rakyat.
Ide brilian tersebut tak hendak dibiarkan tertelan waktu.
Mulailah Gusti Ketut Gede mengontak orang-orang untuk
diajak masekaa membangun usaha koperasi. Ajakan Gusti
Ketut Gede disambut positif para kerabat. Akhir April
1946, koperasi terwujud, namanya Koperasi Pusat Kesiman
dan Gusti Putu Gede langsung didaulat memegang posisi
pimpinan. Anggota saat itu berjumlah sekitar 12 orang
sebagian besar kalangan perbekel, seperti perbekel Penatih,
Peguyangan, Tonja, Kesiman, Kedaton, Kelandis, Sanur,
Renon, dan Sesetan. Nominal setoran sesuai hasil kesepakatan
antara Rp 1.000 sampai Rp 1.200 per anggota. Baru setahun
berjalan ternyata koperasi yang dikelolanya memperoleh
untung.
Dari kenyataan tersebut, pria yang memiliki lima putra
ini mengambil satu kesimpulan bahwa bila dikelola secara
benar dan profesional, koperasi bisa menjadi badan usaha
yang cukup menjanjikan.
Setelah membentuk koperasi, dia pun sering ke kota lain
dan bertemu kawan-kawan lama. Bersua banyak orang yang
berkutat di berbagai usaha.
Pada tahun 1947, pemerintah melalui Perkumpulan Dagang
Indonesia (Perdi), mengeluarkan pengumuman bahwa pengusaha
Indonesia punya kesempatan menjadi importir. Para serikat
dagang di Bali memiliki peluang emas untuk berkembang,
termasuk menjadi pengimpor berbagai jenis barang dagangan
dari luar negeri. Mendengar pengumuman seperti itu,
semua pengusaha turut melamar. Sayang semua ditolak,
karena tak satu pun saudagar di Bali kala itu memiliki
badan hukum. Satu syarat penting supaya bisa bergerak
di bidang usaha. Sayang, karena kecil dan tak kuat dari
permodalan, maka para serikat pekerja tak mampu menangani
usaha dalam kapasitas lebih besar, lebih-lebih hingga
tembus ke mancanegara. Apalagi tak memiliki badan hukum.
“Peluang saat itu sebenarnya cukup besar,”
ingatnya
Penolakan akibat tak memiliki badan hukum ternyata tak
menyurutkan para pengusaha di Bali agar bisa mengimpor
barang dari luar. Mengingat kesempatan itu tak boleh
disia-siakan. Sedapat mungkin harus dimanfaatkan dengan
baik.
Gagal bergerak sendirian, akhirnya falsafah sapu lidi
yang kuat ketika bersatu, coba diterapkan dalam kehidupan
nyata. Suatu ketika ada 17 serikat dagang di Bali menyatakan
diri menyatu dalam satu wadah koperasi. “Semangat
yang kami bangun saat itu di samping memperkuat modal
juga menunjukkan kekuatan pada pihak luar,” dia
beralasan. Bahwa saudagar Bali juga memiliki kemampuan
menangani berbagai bidang usaha, termasuk impor beraneka
jenis tekstil.
Berhasil? Belum ternyata. Mengingat koperasi juga tak
memiliki badan hukum resmi, maka pemerintah saat itu
juga tak memberikan izin bagi kumpulan pedagang ini
mengambil peran sebagai importir. Akhirnya kumpulan
serikat pedagang itu membikin NV (kini setingkat PT)
yang jelas payung hukumnya, dan sesuai rencana awal
dinamakan Gabungan Impor Bali.
Tapi
dalam persiapan mengatur anggaran akhirnya terpikir
tentang peluang ekspor yang tak akan ada menangani.
Akhirnya, jadilah GIEB (Gabungan Impor Ekspor Bali).
Dari 17 perusahaan yang berhasil dihimpun Gusti Ketut
Gede, mampu mengumpulkan modal awal Rp 64.000. Sedangkan
agar bisa menangani impor dana yang mesti terkumpul
harus mencapai Rp 100.000. “Beruntung ada kerjasama
dengan Bali Darma di Singaraja hingga ketentuan untuk
bisa mengimpor barang terpenuhi,” pria yang langsung
didaulat memimpin GIEB itu berkisah.
Dengan modal yang terkumpul mulailah serikat pedagang
yang kala itu mengepakkan sayap mengimpor tekstil dari
Jepang dan Eropa. Tahun 1951, usahanya ditambah menjadi
pengekspor berbagai jenis kesenian, kopi, kacang tanah,
dan produk pertanian lainnya. “Semangat menyatu
serikat dagang kala itu cukup kuat. Resepnya, saling
percaya pada anggota, terutama dalam mengurus manajemen
usaha,” ujarnya.
Selama mengomandoi GIEB, mulai tahun 1948—kini
I Gusti Ketut Gede duduk sebagai Komisaris PT GIEB—berbagai
pernik terlewati, termasuk mampu membangun usaha lain.
Tahun1957, GIEB dengan membuat badan baru mampu membangun
Pelayaran Nusa Tenggara. Kala itu pelayaran Belanda
mulai ditarik, makanya ilmunya di ambil dan tenaga kerjanya
dipindah ke Pelayaran Nusa Tenggara. Pasca G 30 S/PKI,
banyak usaha di Indoensia kelimpungan. Kala itu harga
rupiah durun drastis. Nilai uang seribu menjadi Rp 1.
Dan, GIEB kala itu tak ikut-ikutan kena imbas. Malah
boleh dibilang terselamatkan oleh kondisi saat itu.
“Kami pada masa itu banyak hutang. Sedangkan gudang
penuh dengan beraneka barang,” katanya. Jadi dengan
turunnya nilai rupiah, hutang bisa dibayar lebih besar.
Di bawah pimpinan Gusti Ketut Gede, GIEB memang cukup
memiliki peran dalam kancah perbisnisan di Bali.
Sambil mengomandoi GIEB, pria yang pada tahun 2004,
mendapat penghargaan dari PT Bali Post dalam kapasitas
sebagai pelopor karya di Bali, tetap aktif membidani
berdirinya berbagai perusahaan di Bali. Sesuai catatan
yang disodorkan, selain mendirikan Koperasi Kesiman
dan PT GIEB, Gusti Ketut Gede juga mendirikan sekaligus
sebagai Komisaris Percetakan Bali tahun 1950, mendirikan
NV (kini PT) Pelayaran Nusa Tenggara tahun 1957, Turut
mendirikan PT Mabakti tahun 1970, mendirikan sekaligus
sebagai Direktur PT Stiti/Karya Bhakti tahun 1980, serta
turut mendirikan sekaligus sebagai komisaris di penerbitan
Upada Sastra tahun 1988.
Sedangkan sejak tahun 1967 menerbitkan Buku Upadesa
dan Kalender Bali. Tahun 1979 menerbitkan buku Eka Dasa
Rudra di Besakih. “Persatuan antarpengusaha di
Bali kala itu memang cukup kuat,” tegas Gusti
Ketut Gede. Resepnya, saling percaya pada anggota, terutama
dalam mengurus manajemen usaha.
Sesuatu yang amat sulit ditemukan kini. Lebih-lebih
sejak pariwisata berkembang cepat, pengusaha Bali lebih
egois. Sifat-sifat individu yang justru menonjol, tak
lagi mau bergabung. Pengusaha yang bergerak dari tahun
1952 dan berhasil sampai kini, kelihatan bahwa modalnya
tak rela digabungkan dengan yang lain. Dalam pandangan
mereka tentu jika modal yang tersedia diputar sendiri,
maka hasilnya akan jauh lebih banyak. Dan itu benar
adanya walaupun reziko lebih tinggi.
Beda dengan dulu, persatuan antarpengusaha begitu kuat,
sehingga mampu mengumpulkan dana cukup banyak dan bersaing
dengan pengusaha luar. Tahun 1952, tunjuk Gusti Ketut
Gede, pengusaha di Bali yang menggabungkan diri menjadi
satu malah mampu membangun bank. Namanya Bank Perniagaan
Umum (BPU). Anggotanya mendekati 1.000 orang dan berhasil
mengumpulkan modal sampai setengah milyar.
BPU memang hanya mampu bergerak sampai dasawarsa 1990-an.
Karena setelah tak berhasil mengumpulkan modal di Bali
sesuai target, akhirnya komisaris yang baru mengajak
untuk memindahkan head office ke Jakarta. Di sana mencari
pengusaha yang diajak sebagai penyandang dana (kongsi),
dan dapat modal sekitar Rp 5 milyar. Sayang modal itu
kembali digerogoti yang diajak bergabung itu. Akhirnya
cari penyandang dana lain dan menemukan anak pengusaha
bank di Bali sebagai direktur.
Sayang, sang direktur ini memanipulasi keuangan dengan
membuat berbagai usaha. Ujung dari manipulasi itu, BPU
kena imbas dan dipailitkan. Sedangkan GIEB, masih tetap
berjalan sekalipun kini sebagian sahamnya dimiliki bukan
oleh pengusaha Bali, tapi dari pusat. “Pernyataan
modal dari luar tersebut, karena di tahun 1997, saat
krisis moneter tiba, GIEB keteteran sehingga harus ada
menyuntikkan dana cukup besar,” ujar pria yang
di usianya semakin uzur lebih banyak istirahat di rumah.
Bercengkerama bersama anak-anak, bercanda dengan cucu-cucunya.
I Wayan Sucipta