No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
RERACIKAN 95 [SAJIAN SARAD]

Paruman………………………Lanjut
Nyepi sepatutnya dimaknai sebagai hari pendakian menuju kesunyian. Jeda sehari untuk menggapai keheningan hati. Empat larangan yang dinamakan Catur Brata Panyepian pun menjadi satu jalan mengendalikan diri. Tapi, praktek di lapangan sering tak sejalan dengan teori. Sebelum Nyepi tiba, hura-hura telah dimulai. Ketika Hari Nyepi pun hiruk-pikuk berlanjut. Ada yang makan serba enak sampai bermain judi. Jika sudah begini, kapan makna Nyepi itu akan terealisasi secara pasti?

Nyamabraya...............Lanjut
Filosofi berbisnis orang Bali: berkumpul, membanting uang, merumuskan visi, dan membuat. Urusan pengelolaan serahkan pada profesional. Tapi, bukankah dengan mengelola uang sendiri untung yang didapatkan lebih berlipat.

Paras-paros…........Lanjut
Awalnya bernama Pura Hyang Api, namun sejak tahun 1950-an berganti nama menjadi Pura Pucak Geni. Sebuah tempat suci di Desa Pakraman Seribupati, Desa Cau Belayu, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, multi fungsi. Pura yang selalu dipadati panangkilan berasal dari berbagai daerah. Pada hari-hari tertentu, seperti hari Keliwon, banyak pula orang tangkil malukat sekaligus mohon berkah dari Ratu Mas Lingsir.

Sameton..................Lanjut
Dia punya komitmen begitu kuat di dunia usaha. Sejak berdiam di Bali, pasca kemerdekaan Indonesia, Gusti Ketut Gede justru membuat satu gebrakan dengan menghimpun pedagang kecil untuk bersatu. Membuktikan bahwa pengusaha Bali mampu unjuk gigi dan bersaing menghadapi para pemodal besar dari luar Bali.