|
UPACARA
Bayuh Oton Agar Tenteram
Ida Bagus Putra Manik Aryana
Perihal Bayuh Oton
Tempo hari anak saya melakukan Bayuh Oton. Soal banten
dan runtutannya saya mohon pada seorang balian yang
kebetulan sangat menguasai wariga , dan paham ketentuan
bayuh oton. Sebagai orangtua saya merasa bersyukur,
anak saya yang dulu suka ngambek kini berubah menjadi
penurut. Dengan demikian saya percaya setiap kelahiran
punya utang besar pada penyokong hidup ini. Nah saya
sedikit dibuat grogi , nyaris dibuat keblinger . Bayangkan,
dalam Bayuh Oton itu saya disuruh mencari (nunas tirta)
33 mata air. Aduh tidak mungkin bisa saya penuhi dalam
hitungan dua hari. Syukur ada banyak teman membantu,
33 mata air itu akhirnya diperoleh juga. Nah pertanyaan
saya, apa fungsi 33 mata air itu? Sekiranya tidak dipenuhi
apakah bisa dicarikan cara lain? Mohon penjelasan!
Ni Gusti Ayu Prabayani
Jl Astina, Gianyar
Jawab:
Baya oton ataupun bayuh oton muncul dalam budaya Bali
dan bersumber dari lontar Pawatekan , untuk memahami
bayuh oton ada baiknya pahami dulu makna kata pawatekan-
nya. Kata pawatekan dibentuk dari kata dasar watek yang
artinya golongan. Awalan pa dan akhiran an dalam kata
pawatekan membawa arti perbuatan untuk mengidentifikasi
golongan manusia berdasarkan wewatekan- nya. Wewatekan
artinya watak, tabiat (Kersten,1984 : 639). Jadi pawatekan
artinya usaha manusia untuk mengidentifikasi watak/tabiat
manusia.
Watak dalam Bahasa Indonesia berarti sifat batin manusia
yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.
Berwatak artinya mempunyai watak; berkepribadian; bertingkah
laku. Sedangkan perwatakan artinya hal-hal yang berhubungan
dengan watak (KBBI, 2002 : 1270). Adapun tabiat artinya
perangai; watak; budi pekerti; 2 perbuatan yang selalu
dilakukan; kelakuan; tingkah laku. (KBBI, 2002 : 1116).
Jika dibandingkan, maka arti kata wawatekan dalam bahasa
Bali dengan kata watak dalam bahasa Indonesia kurang
lebih memiliki arti yang sama, yakni sifat batin manusia
yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku.
Sedangkan kata pawatekan dalam bahasa Bali artinya juga
kurang lebih berarti hal-hal yang berhubungan dengan
watak.
Adapun kata baya dalam arti leksikalnya adalah bahaya,
dalam kaitan ini menjadi bahaya kelahiran. Kata baya
dalam makna gramatikal lebih condong kepada arti nebusin
babayan yang dalam keterangan Kersten, yakni mempersembahkan
sesajen untuk menghindari penyakit atau nasib malang
(1984 : 182).
Jadi makna dari kata baya oton atau bayuh oton adalah
bentuk ritual yang berfungsi meruwat bahaya ( baya )
kelahiran dan nasib malang. Bandingkan juga dengan kata
bea, prabea yang berarti biaya atau ongkos; dalam kaitan
ini berupa sesajen/ banten persembahan sebagai kompensasi
meruwat hal-hal negatif dan diyakini akibat dari kelahiran.
Sedangkan oton adalah jangka waktu enam bulan Bali (210
hari), dipakai menghitung umur anak kecil. Maotonan
artinya merayakan hari lahirnya. Ngotonin bermakna merayakan
hari lahir anaknya (Kersten, 1984 : 433). Melihat ulasan
di atas, otonan berarti hari kelahiran manusia dalam
hitungan wawaran dan wuku dalam sistem wariga Bali,
yang mana perhitungan harinya datang setiap 210 hari
sekali. Oton dapat disejajarkan artinya dengan kata
ulang tahun dalam bahasa Indonesia. Bedanya hanya pada
siklus hitungan hari, di mana otonan mengacu pada sistem
tahun wuku ( pawukon ) dalam kalender Bali ( wariga
), sedangkan ulang tahun mengikuti hitungan tahun atau
kalender Masehi. Jadi pawatekan oton adalah watak dan
ruwatan manusia berdasar pada hari kelahirannya sesuai
sistem kalender Bali ( wariga ).
Pawatekan hampir mirip dengan astrologi atau pun horoskop.
Bedanya, ramalan astrologi dan horoskop mengacu pada
konstelasi bintang dan edarannya bagi watak kelahiran
manusia. Sedangkan dalam pawatekan (berdasarkan sistem
tahun wuku/pawukon ), pengaruh rasi bintang terhadap
watak kelahiran manusia tidak memegang peranan penting.
Malah bisa dikatakan terabaikan digantikan pangalian
atau hitungan matematika tradisional wariga.
Perwatakan manusia yang hampir sama sistemnya dengan
astrologi ataupun horoskop, dalam khasanah budaya Bali
dikenal sebagai palalintangan , dimana hitungan harinya
dibentuk dari gabungan panca wara dan sapta wara ( dadinan
), serta dasar interpretasi watak kelahirannya terkait
dengan rasi bintang dalam persepsi budaya Bali.
Kesamaan astrologi ataupun horoskop dengan Pawatekan
Wawaran dan wuku ini terletak pada kesamaan bidang kajian
saja, yakni ramalan kehidupan dan watak manusia berdasar
hari kelahirannya, jadi sama-sama tidak memerlukan tata
cara rumit untuk mengidentifikasi watak manusia, seperti
dalam kajian psikologi modern.
Berikutnya dari ramalan watak dan nasib manusia yang
lahir pada hari-hari tertentu, barulah muncul istilah
bayuh/mayuh dengan tujuan menghilangkan segala jenis
watak dan nasib negatif yang muncul dari ramalan pawatekan.
Prosesi ruwatan ( bayuh/mayuh ) tersebut ada berbagai
jenis dari tingkatan kanista, madya, utama dan utamaning
utama sesuai kemampuan.
Tingkatan kanista hingga utamaning utama secara garis
besar dapat kita runut sebagai berikut, mantra japa
( kanista ), tirtayatra ( madya ), yajnya ( utama )
dan gabungan dari japa-tirtayatra-yajnya ( utamaning
utama ). Orang yang tidak mampu secara finansial dapat
meruwat watak dan nasibya dengan melakukan japa gamana
kelahiran (mengucapkan secara berulang-ulang dan terus
menerus) sesuai petunjuk lontar Janmaprawrtti . Mereka
yang cukup mampu melakukan ruwatannya dengan tirtayatra
mengunjungi dan mandi di mata air dengan jumlah tertentu
sesuai petunjuk lontar Pawatekan. Mereka yang dipandang
mampu melakukan ruwatan dengan yajnya atau persembahan
sajen-sajen. Sedangkan bagi mereka yang berada atau
yang berkeinginan untuk itu boleh melakukan semuanya.
Jadi pencarian 33 mata air (tirtayatra) plus yajnya
seperti yang saudara lakukan sudah tergolong tingkatan
baya/bayuh utamaning utama. Untuk mengupas maknanya
paling tidak kita harus pahami dan yakini dahulu jika
manusia dilahirkan ditemani oleh babajangan. Babajanga
n adalah ‘roh-roh' alam yang dapat menjadi pengayom
sekaligus menjadi pengganggu dari manusia yang jumlah
seluruhnya 108. Sesuai hari kelahiran ( wawaran dan
wuku ) masing-masing manusia memiliki bebajangan dengan
jumlah tertentu, bebajangan inilah yang diruwat berdasarkan
ketentuan kelahiran dengan harapan mereka ( bebajangan
) dapat menjadi pengayom setelah disucikan dengan mata
air yang dicarikan, berikutnya manusia yang telah melakukan
prosesi ini diyakini akan dapat terhindar dari hal-hal
negatif kelahiran.
Sebenarnya
prosesi bayuh oton dengan memanfaatkan mata air dengan
jumlah tertentu tidak harus tercapai dalam satu kali
bayuh oton , bisa dicicil beberapa kali otonan hingga
pelaku prosesi ini tidak terlalu dipersulit dengan pencarian
mata air dari puluhan sumber. Dalam prosesi bayuh oton
pertama misalkan, hanya mencari air dari mata air sesuai
keterangan panca wara saja. Berikutnya dalam bayuh otonan
yang lain mencari air dari mata air sesuai petunjuk
sad wara, bayuh oton selanjutnya petunjuk sapta wara
-nya, dan seterusnya hingga tercapai keseluruhan.
Bagi orang yang mampu, ada aksioma bahwa dalam rentang
kehidupan manusia paling tidak harus dapat melakukan
tiga kali bayuh oton, maka pertama yang harus dilakukan
mulai dari prosesi sesajen dan panglukatan (bersaranakan
air dari mata air) panca wara, kedua sapta wara, dan
terakhir sajen dan panglukatan wuku. Sedangkan yang
mampu dan berkeinginan, tentu boleh melakukan semuanya
dari sesajen baya tri wara, catur wara, hingga dasa
wara, hingga mereka melakukan berkali-kali baya oton
atau bayuh oton.
Berikut untuk Anda saya sajikan petunjuk pangalukatan
(ruwatan) bersaranakan air dari mata air sekaligus petunjuk
mantra gamana dan sesajen baya oton panca wara sesuai
petunjuk lontar Pawatekan Oton milik Griya Mas Kaleran
Delod Pasar Intaran Sanur Kauh, Denpasar, sebagai pembanding:
Pangalukatan Panca Wara :
• Umanis : Lukat di pinggir jalan dengan 18 mata
air, mantra Marga Gamana.
• Pahing : Lukat dengan 12 mata air, saat dilukat
dikitari api yang menyala, mantra Siwa Gni.
• Pwon / Pon : Lukat di jalan dengan 8 mata air,
mantra Marga Gamana dan Siwa Baruna Gni.
• Wage : Lukat di bagian dalam pintu masuk rumah
dengan 6 mata air, mantra Siwa Gamana dan Lingga Gamana.
• Kliwon : Lukat di sungai dengan 14 mata air,
mantra Gangga Gamana dan Tirta Gamana.
Pangalukatan Sad Wara :
• Tungleh : Lukat di hutan dengan 7 mata air,
mantra Wana Gamana.
• Aryang : Lukat di pinggir sungai dengan 9 mata
air, mantra Tirta Gamana dan Siwa Gamana.
• Wurukung : Lukat di sanggar dengan 19 mata air,
mantra Lingga Gamana dan Sahak Akrama.
• Paniron : Lukat di sanggar dengan 20 mata air,
mantra Lingga Gamana.
• Was: Lukat di atas batu dengan 3 mata air, mantra
Wana Gamana.
• Maulu: Lukat di pinggir jalan dengan 11 mata
air, mantra Marga Gamana.
Pangalukatan Sapta Wara :
• Redite: Lukat di pinggir jalan dengan 16 mata
air, mantra Marga Gamana.
• Coma: Lukat di lapangan luas dengan 14 mata
air, mantra Setra Gamana.
• Anggara : Lukat di pempatan jalan dengan 10
mata air, mantra Marga Gamana dan Wana Gamana.
• Budha : Lukat di dalam pintu masuk rumah dengan
10 mata air, mantra Buda Gamana .• Wrespati :
Lukat di pinggir jalan dengan 20 mata air, mantra Marga
Gamana dan Siwa Gamana.
• Sukra : Lukat di lapangan luas dengan 20 mata
air, mantra Setra Gamana.
• Saniscara : Lukat di gunung dengan 30 mata air,
mantra Giri Gamana.
Pangalukatan Asta Wara :
• Sri : Lukat di pantai dengan 12 mata air, mantra
Siwa Baruna Gni.
• Indra : Lukat di pinggir jalan dengan 8 mata
air, mantra Marga Gamana , Giri gamana , dan Durga Gamana.
• Guru : Lukat di gunung dengan 11 mata air, mantra
Giri Gamana.
• Yama : Lukat di jalan dengan 9 mata air, mantra
Marga Gamana.
• Rudra : Lukat di gunung dengan 7 mata air, mantra
Giri Gamana dan Arga Gamana.
• Brahma : Lukat di bagian dalam pintu masuk rumah
dengan 10 mata air, Siwa Baruna Gni.
• Kala : Lukat di pinggir sungai dengan 11 mata
air, Gangga Gamana dan Tirta Gamana.
• Uma : Lukat di jalan dengan 8 mata air, mantra
Marga Gamana dan Nawa Gamana.
Pangalukatan Sanga Wara :
• Dhangu : Lukat di sawah dengan 9 mata air, mantra
Setra Gamana dan Siwa Gni.
• Jangur : Lukat di jalan dengan 8 mata air, mantra
Marga Gamana dan Giri Gamana.
• Gigis : Lukat di gunung dengan 6 mata air, mantra
Giri Gamana.
• Nohan : Lukat dengan 8 mata air sembari kitari
api yang menyala, mantra Siwa Gni.
• Ogan : Lukat di gunung dengan 7 mata air, mantra
Giri Gamana.
• Erangan : Lukat di hutan dengan 7 mata air,
mantra Wana Gamana.
• Urungan : Lukat di hutan dengan 7 mata air,
mantra Wana Gamana.
• Tulus : Lukat di hutan dengan 7 mata air, mantra
Wana Gamana.
• Dadi : Lukat di gunung dengan 6 mata air, mantra
Giri Gamana dan Arga Gamana.
Baya Oton Panca Wara :
Umanis : prosesi dilakukan malam hari, bantennya : nasi
pancungan , lauknya ayam putih yang dipotong-potong
kemudian digoreng lalu disatukan kembali ( winagun urip
), wuduh gerih , sambel gancah , sayur kulub ranti (
jangan kulub ranti ), nasi tape ( tape skul ). indubang
bajang: Babu Juru among Babu Kanendah (penjaga si kecil
bernama Babu Juru dan Babu Kanendah, hendaknya dipanggil
pada waktu upacara), tancapi dengan padang lepas (sejenis
rumput), hutangnya 505.
Pahing : b antennya terdiri dari: nasi pancungan , terasi
merah, lauknya ayam wiring yang dipanggang, sambel kemiri,
sayur kulub lambayung ( jangan kulub lambayung ). Indubang
bajang : Babu Jenggi, among Babu Pangkah (penjaga si
kecil bernama Babu Jenggi dan Babu Pangkah, hendaknya
dipanggil pada waktu upacara) , tancapkan padang lepas
(sejenis rumput), hutangnya 909.
Pon : b antennya terdiri dari: nasi pancungan , lauknya
ayam putih siyungan yang di panggang (bulunya putih
berkaki kuning), tulang babi ( balung gagending ), katuwang
agung , wuduh gerih , isen-isen pare , sambel jahe,
sayur kulub ranti , sayur turi ( jangan tuwi kinulub
), sambel os kinamiren (sambel kemiri) , tantinarasen
(tanpa terasi) . Indubang bajang : B abu Uladalid (penjaga
si kecil bernama Babu Uladalid, hendaknya dipanggil
pada waktu upacara) tancapkan padang lepas (sejenis
rumput), hutangnya 707.
Wage : ba nten nasi pancungan , nasi aron-aron , lauknya
ayam hitam dipanggang, balung gagending (tulang babi)
, calon agung , jangan pepe ingasem (sayur pepe bumbu
asam), sambal jahe. Indubang bajang : Babu Sugih, among
Babu Wiro (penjaga si kecil bernama Babu Sugih dan Babu
Wiro, hendaknya dipanggil pada waktu upacara), tancapkan
padang lepas, hutangnya: 404.
Kliwon: Wetonan niya ajajongkong malayu (banten otonannya
berisi jongkong malayu / bugis). Bantennya : nasi pancungan
, ayam brumbun yang dipanggang, gerangasem babi, antiga
(telor), jangan kulub pepe (sayur kuluban pepe), sambel
sahang . Indubang bajang : Babu Karokoh , among Babu
Kalaprawoni (penjaga si kecil bernama Babu Karokoh dan
Babu Kalaprawoni, hendaknya dipanggil pada waktu upacara),
tancapkan padang lepas, hutangnya 808.
|