No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
UPACARA

Bayuh Oton Agar Tenteram
Ida Bagus Putra Manik Aryana

Perihal Bayuh Oton
Tempo hari anak saya melakukan Bayuh Oton. Soal banten dan runtutannya saya mohon pada seorang balian yang kebetulan sangat menguasai wariga , dan paham ketentuan bayuh oton. Sebagai orangtua saya merasa bersyukur, anak saya yang dulu suka ngambek kini berubah menjadi penurut. Dengan demikian saya percaya setiap kelahiran punya utang besar pada penyokong hidup ini. Nah saya sedikit dibuat grogi , nyaris dibuat keblinger . Bayangkan, dalam Bayuh Oton itu saya disuruh mencari (nunas tirta) 33 mata air. Aduh tidak mungkin bisa saya penuhi dalam hitungan dua hari. Syukur ada banyak teman membantu, 33 mata air itu akhirnya diperoleh juga. Nah pertanyaan saya, apa fungsi 33 mata air itu? Sekiranya tidak dipenuhi apakah bisa dicarikan cara lain? Mohon penjelasan!
Ni Gusti Ayu Prabayani
Jl Astina, Gianyar

Jawab:
Baya oton ataupun bayuh oton muncul dalam budaya Bali dan bersumber dari lontar Pawatekan , untuk memahami bayuh oton ada baiknya pahami dulu makna kata pawatekan- nya. Kata pawatekan dibentuk dari kata dasar watek yang artinya golongan. Awalan pa dan akhiran an dalam kata pawatekan membawa arti perbuatan untuk mengidentifikasi golongan manusia berdasarkan wewatekan- nya. Wewatekan artinya watak, tabiat (Kersten,1984 : 639). Jadi pawatekan artinya usaha manusia untuk mengidentifikasi watak/tabiat manusia.
Watak dalam Bahasa Indonesia berarti sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku. Berwatak artinya mempunyai watak; berkepribadian; bertingkah laku. Sedangkan perwatakan artinya hal-hal yang berhubungan dengan watak (KBBI, 2002 : 1270). Adapun tabiat artinya perangai; watak; budi pekerti; 2 perbuatan yang selalu dilakukan; kelakuan; tingkah laku. (KBBI, 2002 : 1116).
Jika dibandingkan, maka arti kata wawatekan dalam bahasa Bali dengan kata watak dalam bahasa Indonesia kurang lebih memiliki arti yang sama, yakni sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku. Sedangkan kata pawatekan dalam bahasa Bali artinya juga kurang lebih berarti hal-hal yang berhubungan dengan watak.
Adapun kata baya dalam arti leksikalnya adalah bahaya, dalam kaitan ini menjadi bahaya kelahiran. Kata baya dalam makna gramatikal lebih condong kepada arti nebusin babayan yang dalam keterangan Kersten, yakni mempersembahkan sesajen untuk menghindari penyakit atau nasib malang (1984 : 182).
Jadi makna dari kata baya oton atau bayuh oton adalah bentuk ritual yang berfungsi meruwat bahaya ( baya ) kelahiran dan nasib malang. Bandingkan juga dengan kata bea, prabea yang berarti biaya atau ongkos; dalam kaitan ini berupa sesajen/ banten persembahan sebagai kompensasi meruwat hal-hal negatif dan diyakini akibat dari kelahiran.
Sedangkan oton adalah jangka waktu enam bulan Bali (210 hari), dipakai menghitung umur anak kecil. Maotonan artinya merayakan hari lahirnya. Ngotonin bermakna merayakan hari lahir anaknya (Kersten, 1984 : 433). Melihat ulasan di atas, otonan berarti hari kelahiran manusia dalam hitungan wawaran dan wuku dalam sistem wariga Bali, yang mana perhitungan harinya datang setiap 210 hari sekali. Oton dapat disejajarkan artinya dengan kata ulang tahun dalam bahasa Indonesia. Bedanya hanya pada siklus hitungan hari, di mana otonan mengacu pada sistem tahun wuku ( pawukon ) dalam kalender Bali ( wariga ), sedangkan ulang tahun mengikuti hitungan tahun atau kalender Masehi. Jadi pawatekan oton adalah watak dan ruwatan manusia berdasar pada hari kelahirannya sesuai sistem kalender Bali ( wariga ).
Pawatekan hampir mirip dengan astrologi atau pun horoskop. Bedanya, ramalan astrologi dan horoskop mengacu pada konstelasi bintang dan edarannya bagi watak kelahiran manusia. Sedangkan dalam pawatekan (berdasarkan sistem tahun wuku/pawukon ), pengaruh rasi bintang terhadap watak kelahiran manusia tidak memegang peranan penting. Malah bisa dikatakan terabaikan digantikan pangalian atau hitungan matematika tradisional wariga.
Perwatakan manusia yang hampir sama sistemnya dengan astrologi ataupun horoskop, dalam khasanah budaya Bali dikenal sebagai palalintangan , dimana hitungan harinya dibentuk dari gabungan panca wara dan sapta wara ( dadinan ), serta dasar interpretasi watak kelahirannya terkait dengan rasi bintang dalam persepsi budaya Bali.
Kesamaan astrologi ataupun horoskop dengan Pawatekan Wawaran dan wuku ini terletak pada kesamaan bidang kajian saja, yakni ramalan kehidupan dan watak manusia berdasar hari kelahirannya, jadi sama-sama tidak memerlukan tata cara rumit untuk mengidentifikasi watak manusia, seperti dalam kajian psikologi modern.
Berikutnya dari ramalan watak dan nasib manusia yang lahir pada hari-hari tertentu, barulah muncul istilah bayuh/mayuh dengan tujuan menghilangkan segala jenis watak dan nasib negatif yang muncul dari ramalan pawatekan. Prosesi ruwatan ( bayuh/mayuh ) tersebut ada berbagai jenis dari tingkatan kanista, madya, utama dan utamaning utama sesuai kemampuan.
Tingkatan kanista hingga utamaning utama secara garis besar dapat kita runut sebagai berikut, mantra japa ( kanista ), tirtayatra ( madya ), yajnya ( utama ) dan gabungan dari japa-tirtayatra-yajnya ( utamaning utama ). Orang yang tidak mampu secara finansial dapat meruwat watak dan nasibya dengan melakukan japa gamana kelahiran (mengucapkan secara berulang-ulang dan terus menerus) sesuai petunjuk lontar Janmaprawrtti . Mereka yang cukup mampu melakukan ruwatannya dengan tirtayatra mengunjungi dan mandi di mata air dengan jumlah tertentu sesuai petunjuk lontar Pawatekan. Mereka yang dipandang mampu melakukan ruwatan dengan yajnya atau persembahan sajen-sajen. Sedangkan bagi mereka yang berada atau yang berkeinginan untuk itu boleh melakukan semuanya.
Jadi pencarian 33 mata air (tirtayatra) plus yajnya seperti yang saudara lakukan sudah tergolong tingkatan baya/bayuh utamaning utama. Untuk mengupas maknanya paling tidak kita harus pahami dan yakini dahulu jika manusia dilahirkan ditemani oleh babajangan. Babajanga n adalah ‘roh-roh' alam yang dapat menjadi pengayom sekaligus menjadi pengganggu dari manusia yang jumlah seluruhnya 108. Sesuai hari kelahiran ( wawaran dan wuku ) masing-masing manusia memiliki bebajangan dengan jumlah tertentu, bebajangan inilah yang diruwat berdasarkan ketentuan kelahiran dengan harapan mereka ( bebajangan ) dapat menjadi pengayom setelah disucikan dengan mata air yang dicarikan, berikutnya manusia yang telah melakukan prosesi ini diyakini akan dapat terhindar dari hal-hal negatif kelahiran.
Sebenarnya prosesi bayuh oton dengan memanfaatkan mata air dengan jumlah tertentu tidak harus tercapai dalam satu kali bayuh oton , bisa dicicil beberapa kali otonan hingga pelaku prosesi ini tidak terlalu dipersulit dengan pencarian mata air dari puluhan sumber. Dalam prosesi bayuh oton pertama misalkan, hanya mencari air dari mata air sesuai keterangan panca wara saja. Berikutnya dalam bayuh otonan yang lain mencari air dari mata air sesuai petunjuk sad wara, bayuh oton selanjutnya petunjuk sapta wara -nya, dan seterusnya hingga tercapai keseluruhan.
Bagi orang yang mampu, ada aksioma bahwa dalam rentang kehidupan manusia paling tidak harus dapat melakukan tiga kali bayuh oton, maka pertama yang harus dilakukan mulai dari prosesi sesajen dan panglukatan (bersaranakan air dari mata air) panca wara, kedua sapta wara, dan terakhir sajen dan panglukatan wuku. Sedangkan yang mampu dan berkeinginan, tentu boleh melakukan semuanya dari sesajen baya tri wara, catur wara, hingga dasa wara, hingga mereka melakukan berkali-kali baya oton atau bayuh oton.
Berikut untuk Anda saya sajikan petunjuk pangalukatan (ruwatan) bersaranakan air dari mata air sekaligus petunjuk mantra gamana dan sesajen baya oton panca wara sesuai petunjuk lontar Pawatekan Oton milik Griya Mas Kaleran Delod Pasar Intaran Sanur Kauh, Denpasar, sebagai pembanding:

Pangalukatan Panca Wara :
• Umanis : Lukat di pinggir jalan dengan 18 mata air, mantra Marga Gamana.
• Pahing : Lukat dengan 12 mata air, saat dilukat dikitari api yang menyala, mantra Siwa Gni.
• Pwon / Pon : Lukat di jalan dengan 8 mata air, mantra Marga Gamana dan Siwa Baruna Gni.
• Wage : Lukat di bagian dalam pintu masuk rumah dengan 6 mata air, mantra Siwa Gamana dan Lingga Gamana.
• Kliwon : Lukat di sungai dengan 14 mata air, mantra Gangga Gamana dan Tirta Gamana.

Pangalukatan Sad Wara :
• Tungleh : Lukat di hutan dengan 7 mata air, mantra Wana Gamana.
• Aryang : Lukat di pinggir sungai dengan 9 mata air, mantra Tirta Gamana dan Siwa Gamana.
• Wurukung : Lukat di sanggar dengan 19 mata air, mantra Lingga Gamana dan Sahak Akrama.
• Paniron : Lukat di sanggar dengan 20 mata air, mantra Lingga Gamana.
• Was: Lukat di atas batu dengan 3 mata air, mantra Wana Gamana.
• Maulu: Lukat di pinggir jalan dengan 11 mata air, mantra Marga Gamana.

Pangalukatan Sapta Wara :
• Redite: Lukat di pinggir jalan dengan 16 mata air, mantra Marga Gamana.
• Coma: Lukat di lapangan luas dengan 14 mata air, mantra Setra Gamana.
• Anggara : Lukat di pempatan jalan dengan 10 mata air, mantra Marga Gamana dan Wana Gamana.
• Budha : Lukat di dalam pintu masuk rumah dengan 10 mata air, mantra Buda Gamana .• Wrespati : Lukat di pinggir jalan dengan 20 mata air, mantra Marga Gamana dan Siwa Gamana.
• Sukra : Lukat di lapangan luas dengan 20 mata air, mantra Setra Gamana.
• Saniscara : Lukat di gunung dengan 30 mata air, mantra Giri Gamana.

Pangalukatan Asta Wara :
• Sri : Lukat di pantai dengan 12 mata air, mantra Siwa Baruna Gni.
• Indra : Lukat di pinggir jalan dengan 8 mata air, mantra Marga Gamana , Giri gamana , dan Durga Gamana.
• Guru : Lukat di gunung dengan 11 mata air, mantra Giri Gamana.
• Yama : Lukat di jalan dengan 9 mata air, mantra Marga Gamana.
• Rudra : Lukat di gunung dengan 7 mata air, mantra Giri Gamana dan Arga Gamana.
• Brahma : Lukat di bagian dalam pintu masuk rumah dengan 10 mata air, Siwa Baruna Gni.
• Kala : Lukat di pinggir sungai dengan 11 mata air, Gangga Gamana dan Tirta Gamana.
• Uma : Lukat di jalan dengan 8 mata air, mantra Marga Gamana dan Nawa Gamana.

Pangalukatan Sanga Wara :
• Dhangu : Lukat di sawah dengan 9 mata air, mantra Setra Gamana dan Siwa Gni.
• Jangur : Lukat di jalan dengan 8 mata air, mantra Marga Gamana dan Giri Gamana.
• Gigis : Lukat di gunung dengan 6 mata air, mantra Giri Gamana.
• Nohan : Lukat dengan 8 mata air sembari kitari api yang menyala, mantra Siwa Gni.
• Ogan : Lukat di gunung dengan 7 mata air, mantra Giri Gamana.
• Erangan : Lukat di hutan dengan 7 mata air, mantra Wana Gamana.
• Urungan : Lukat di hutan dengan 7 mata air, mantra Wana Gamana.
• Tulus : Lukat di hutan dengan 7 mata air, mantra Wana Gamana.
• Dadi : Lukat di gunung dengan 6 mata air, mantra Giri Gamana dan Arga Gamana.

Baya Oton Panca Wara :
Umanis : prosesi dilakukan malam hari, bantennya : nasi pancungan , lauknya ayam putih yang dipotong-potong kemudian digoreng lalu disatukan kembali ( winagun urip ), wuduh gerih , sambel gancah , sayur kulub ranti ( jangan kulub ranti ), nasi tape ( tape skul ). indubang bajang: Babu Juru among Babu Kanendah (penjaga si kecil bernama Babu Juru dan Babu Kanendah, hendaknya dipanggil pada waktu upacara), tancapi dengan padang lepas (sejenis rumput), hutangnya 505.
Pahing : b antennya terdiri dari: nasi pancungan , terasi merah, lauknya ayam wiring yang dipanggang, sambel kemiri, sayur kulub lambayung ( jangan kulub lambayung ). Indubang bajang : Babu Jenggi, among Babu Pangkah (penjaga si kecil bernama Babu Jenggi dan Babu Pangkah, hendaknya dipanggil pada waktu upacara) , tancapkan padang lepas (sejenis rumput), hutangnya 909.
Pon : b antennya terdiri dari: nasi pancungan , lauknya ayam putih siyungan yang di panggang (bulunya putih berkaki kuning), tulang babi ( balung gagending ), katuwang agung , wuduh gerih , isen-isen pare , sambel jahe, sayur kulub ranti , sayur turi ( jangan tuwi kinulub ), sambel os kinamiren (sambel kemiri) , tantinarasen (tanpa terasi) . Indubang bajang : B abu Uladalid (penjaga si kecil bernama Babu Uladalid, hendaknya dipanggil pada waktu upacara) tancapkan padang lepas (sejenis rumput), hutangnya 707.
Wage : ba nten nasi pancungan , nasi aron-aron , lauknya ayam hitam dipanggang, balung gagending (tulang babi) , calon agung , jangan pepe ingasem (sayur pepe bumbu asam), sambal jahe. Indubang bajang : Babu Sugih, among Babu Wiro (penjaga si kecil bernama Babu Sugih dan Babu Wiro, hendaknya dipanggil pada waktu upacara), tancapkan padang lepas, hutangnya: 404.
Kliwon: Wetonan niya ajajongkong malayu (banten otonannya berisi jongkong malayu / bugis). Bantennya : nasi pancungan , ayam brumbun yang dipanggang, gerangasem babi, antiga (telor), jangan kulub pepe (sayur kuluban pepe), sambel sahang . Indubang bajang : Babu Karokoh , among Babu Kalaprawoni (penjaga si kecil bernama Babu Karokoh dan Babu Kalaprawoni, hendaknya dipanggil pada waktu upacara), tancapkan padang lepas, hutangnya 808.