No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
CAKEPAN

Membongkar Kekerasan Pikiran Orang Bali

Judul Buku : Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran
Penulis : IBM Dharma Palguna
Tebal : 187 Halaman
Penerbit : Sadampatyaksara, Mataram
Cetakan : Cetakan Pertama Oktober 2007

Decak kagum dan sesekali harus geleng-geleng kepala ketika sebuah buku yang berjudul ” Budaya Kepintaran Sampai Budaya Kekerasan Pikiran ” berada di tangan saya sebagai teman ngobrol bersama secangkir kopi Bali yang lebih mengantarkan saya untuk larut dalam dialog pikiran penulis. Betapa tidak, kendati dengan gaya bahasa yang lugas dan kadang terkesan kocak, penulis mampu menciptakan dialog dengan pembaca dan sudah barang tentu mampu menyampaikan pesan kritisnya seperti yang dia harapkan dalam Kata Pengantar buku ini.
Dengan lugas Palguna memperkenalkan tehnik (yang secara sekilas terlihat) baru dalam penulisan, yaitu pemahaman sebuah — sebut saja — istilah dengan mencari lawan kata dari istilah itu. Misalnya, arti kata pintar bagi orang Bali justru bisa ditemukan oleh perilaku orang bodoh dsb. dsb. Dengan demikian pembaca (diharapkan) akan memahami secara utuh virus kegelisahan yang hendak dimuncratkan Palguna, walau dalam bentuk yang labil-asimetris.
Jujur saja, tehnik yang ditawarkan Palguna bisa dibilang tidak baru-baru amat. Bagi publik Bali mungkin iya, tapi tidak bagi lalu lintas wacana pemikiran dalam negeri sekali pun. Goenawan Moehamad misalnya, selalu mencari hal-hal yang sifatnya kontradiktif dalam hampir setiap tulisannya. Atau bisa juga dicari pada pemikir yang 'pangkat'nya lebih tinggi, yaitu Heidegger yang selalu menggunakan analisa dua kata yang saling berlawanan untuk memahami satu istilah. Misalnya istilah seni yang merupakan perpaduan-saling-serang antara makna-kata techne dan psyche . Itulah sebabnya, Heidegger terkenal dengan julukan filsuf hutan. Beda dengan koleganya, Karl Jasper yang terkenal dengan sebutan filsuf laut.
Dua puluh tujuh tulisan lepas Palguna dalam buku ini, walaupun dia katakan sebagai hasil mengkritisi kebudayaan sendiri (Bali), nampaknya lebih merupakan pedang bermata dua. Artinya, secara esensi, disadari atau tidak, atau bahkan secara kebetulan, penulis juga telah mengkritisi kebudayaan di luar Bali. Dalam wujud yang berbeda tentunya, masyarakat-masyarakat adat yang ada di Nusantara ini nampaknya memiliki pandangan yang sama dalam upaya mempertahankan tradisi. Dalam wujud yang berbeda pula masyarakat-masyarakat tradisional di Nusantara ini terjebak dalam tipu muslihat dan permainan bahasa untuk kepentingan kuasa. Pendek kata, penulis telah mengatakan bahwa kesadaran kita telah dininabobokkan oleh permainan bahasa demi kepentingan kuasa dan mengantarkan kita pada dunia keterasingan.
Secara keseluruhan, tulisan Palguna dalam buku ini lebih merupakan gumaman seorang penyair yang mewakili orang-orang yang terbelenggu dalam ketidakberdayaannya. Tentu, dengan embel-embel tehnik penulisan yang secara sepintas membuat orang berkerut kening. Dengan metafor radikal dan analogi kritis yang kocak, dia mencoba membangunkan pembaca pada kesadarannya. Dia tidak akan memilih menjadi Gunung yang tenang pada permukaan dan menyimpan gejolak di kedalaman, pun dia juga tidak mau menjadi laut yang selalu nampak gelisah dan memukul-mukulkan badan pada batu karang. Nampaknya Palguna ingin menjadi angin sepoi-sepoi yang selalu menghebuskan udara sejuk dan membisikkan kesadaran atas ancaman budaya kekerasan pikiran sebagai buah kontruksi-bawah-sadar dari modernisme. Walau tidak dia katakan, secara implisit nampak jelas cara berfikir yang dia gunakan sangat dipengaruhi oleh teori-teori kritis posmodernisme, utamanya Dekonstruksi serta Bahasa dan Kuasa.
Dengan sedikit lancang, peresensi mencoba menyimpulkan keseluruhan isi buku ini, Palguna ingin mengingatkan kita bahwa hampir seluruh kehidupan kita telah dikuasai oleh roh jahat yang selalu merasuki pikiran dalam kehidupan kita. Kalau tidak salah tebak, roh jahat yang dimaksud adalah kapitalisme. Sosok roh yang mampu merubah dirinya dalam segala wujud — termasuk idiom-idiom lokal. Dia mampu merubah ruang-ruang publik menjadi pasar, mampu merubah uang menjadi Tuhan, dan yang lebih mengerikan dia mampu merubah manusia menjadi makhluk yang memiliki etika predator.
Lalu, “Orang yang paling senang bersembunyi di balik kata adalah penyair”, tulis Palguna pada halaman 81. Ungkapan itu lebih tepat untuk mengatakan siapa dirinya. Paling tidak, seperti halnya angin sepoi-sepoi yang membisikkan serta menyilet kesadaran-diaspora orang Bali. Kehadirannya hanya dapat dirasakan melalui-pesan-pesan cerdas yang disampaikan. Tidak terjebak pada ke-Aku-an, walau keberadaan sang penyair saat ini dalam kesepian dan keterasingan atas kesadarannya. Akhirnya, dalam pesan kesadaran yang dia bisikkan, buku ini telah menjadi teman dialog yang menyodorkan logika-logika kritis dan cerdas. Sebuah tehnik dekontruksi yang tidak hanya bisa diterapkan bagi budaya Bali, tapi juga bisa di terapkan pada budaya lain.
Titis S. Pitana , staf pengajar pada Jur. Arsitektur, Fak. Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta yang saat ini sedang menempuh program studi S-3 Kajian Budaya Universitas Udayana Denpasar.