Edisi No. 106/ Tahun X Februari 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Adat
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Seni
Figur
Glosari
Inspirasi
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Nyama Braya
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Laras


   
KERABAT KITA

Rocker Dulu Kini Tradisi

Melalui wirama, Ayu Laksmi berupaya berkarma untuk Bali. Mengenalkan budaya leluhur pada dunia internasional.

Akhir Juni 2008, Lapangan Puputan Renon, di seputaran gedung Bajra Sandhi terlihat meriah. Ratusan masyarakat umum plus pendukung calon Gubernur dan Wakil Gubernur Bali periode 2008 – 2013, tampak merangsek. Numplek di depan panggung.
Hari itu, tepatnya pada 22 Juni 2008, adalah hari keperdana pelaksanaan kampanye Cagub dan Cawagub Bali periode 2008 – 2013. Berbagai pesan pun disampaikan banyak pihak terkait pelaksanaan kampanye para kandidat nantinya.
Di tengah-tengah kemeriahan acara, seorang perempuan cantik tampil penuh santun. Mengenakan kebaya khas Bali, beralaskan bunga warna-warni, wanita ini meliuk-liukkan tubuh.
Orang pun dibuat sedikit tersentak, artis yang  selama ini dikenal akrab dengan musik beraliran cadas, condong keras hingga mengundang penonton ikut berjingkrak,  seperti musik rock, jazz, pop dan lagu-lagu berirama latin, kala itu terlihat beda.
Di kampanye perdana Cagub Cawagub Bali akhir Juni tahun lalu, Ayu Laksmi, begitu wanita bertinggi badan 160 sentimeter ini biasa dipanggil, tak lagi ikut-ikutan tren. Menyanyikan lagu berirama pop, metal, atau musik latin layaknya yang kini bertaburan di kalangan pemusik Bali.
Artis yang memilih membiarkan rambutnya terburai panjang itu justru melantunkan lagu-lagu irama khas Bali, kental nuansa tradisi yang umumnya disukai para golongan tua, yakni wirama Totaka.
Diiringi musik etnik, penuh kelembutan, membuat suasana yang semula riuh berubah hening. Para penonton pun jadi terkesima, seolah terhanyut pada alunan musik dan bait demi bait lagu  yang dilantunkan Ayu Laksmi.
Setelah menyanyi beberapa bait, Ayu Laksmi kemudian mengartikan ke dalam bahasa Indonesia, :
“Kita sebagai manusia hanya bisa saling menyalahkan Namun Tuhan akan membenarkan yang seharusnya dibenarkan Demikianlah sifat Tuhan yang tidak pernah kita bayangkan”
Itulah sepenggal arti dari Wirama Totaka yang dilantunkan Ayu Laksmi. Satu lagu yang sarat pesan moral pada calon-calon pemimpin di Bali maupun masyarakat umum.
Berkubang di wirama, kini menjadi bagian dari perjalanan Ayu Laksmi di dunia musik. Kiblat artis yang bernama lengkap Gusti Ayu Laksmiyani ke ranah tradisi, tentu bukan sebagai ajang pelarian setelah cukup lama berkubang di jalur musik rock dan pop. Pergulatan wanita yang telah melanglang buana ke berbagai negara ini dengan wirama, lebih banyak dipicu keinginan berbuat sesuatu untuk Bali. “Saya juga ingin berkaram yang berguna untuk Bali lewat mengenalkan budaya leluhur Bali bukan hanya di tingkat nasional, juga internasional,” ungkap putri bungsu dari empat bersaudara pasangan I Gusti Putu Wiryasutha dengan Gusti Ayu Sri Haryati ini mantap. Kebetulan dari kecil banyak bergumul di dunia musik dan lagu, maka lewat jalur satu inilah ingin beryajnya  bagi tanah kelahirannya.
Persentuhan penyanyi yang sempat melantunkan kekawin di Jakarta Internasional Festival pada awal Desember 2008, pada wirama sejatinya telah berlangsung sejak lima tahun silam.
Saat itu, adik dari sopir Ayu Laksmi yang menjadi juara gagitaan pada sebuah SMP di Denpasar dilihatnya begitu piawai menembangkan kekawin. Ayu pun dibuat terhanyut. Nuraninya mulai berbisik untuk ikut berkubang pada lagu-lagu bernuansa tradisi.
Ketika hasrat mendalami wirama telah mantap, wanita behidung mancung ini justeru didera kebingungan. Bukan ragu pada kemampuan menghafal atau referensi yang kurang. Dia tak tahu banyak bahasa Bali halus sehingga amat sulit mengupas makna di balik wirama yang akan dinyanyikan.
Akhirnya ketika pulang ke kota kelahiran di Singaraja, dia menyempatkan diri belajar kepada seorang rohaniwan (jero mangku) di Desa Pengastulan, Singaraja. Di samping
Agama amat sensitif memang. Sedangkan kekawin maupun  kidung itu selalu bertalian dengan ajaran agama. Itu sebab moto Bhineka Tunggal Ika selalu jadi pegangan Ayu Laksmi. Artinya, kekawin atau kidung yang dibawakan mestilah bersifat universal. Mengangkat tema-tema kehidupan dan ciptaan Tuhan.
Di samping memegang teguh moto berbeda tapi tetap satu jua,  sebelum melangkah lebih jauh apalagi hendak mengubah musik pengiring dan iramanya ke aliran musik modern, maka wanioa kelahiran 25 Nopember 1967 ini, terlebih dulu mendatangi sulinggih, minta petuah serta petunjuk apakah kekawin yang akan dinyanyikan terutama di panggung terbuka, pantas dia bawakan dengan musik pengiring lain. “Umumnya para sulinggih tak memasalahkan, sepanjang makna yang terkandung dalam wirama itu tak menyimpang,” kenangnya.  Setelah ada lampu hijau dari para rohaniwan, barulah berani melangkah.
Selama membawakan lagu berirama kekawin,  ternyata tak semudah menghafal lagu berbahasa Inggris atau musik pop. “Hampir lima tahun berjalan, baru dua lagu yang betul-betul tyang bisa hafalkan,” katanya jujur.
Keterbatasan melafalkan kekawin, jelas bukan dikarenakan daya ingat artis yang sempat masuk nominasi 10 besar dalam Festival Film Indonesia tahun 2008—Ayu Laksmi masuk nominasi Peran Utama Wanita Terbaik  lewat film Under The Tree ( Di bawah pohon) karya Garin Nugroho—yang kendor. Lebih dari itu, Ayu Laksmi   dalam membawakan satu irama kekawin menampilkan penuh makna dan terasa hidup.
Mungkin ada banyak petembang Bali dalam hitungan seminggu atau sebulan mampu menghafa empat lima jenis kekawin. Tapi itu tak dilakukan Ayu Laksmi. Dia betul-betul hendak memaknai kata demi kata yang dinyanyikan. Jika cuma menghafal, dalam sebulan bisa saja lebih dari dua lagu. Tapi katanya, “Makna dan taksu dari wirama yang saya bawakan  tak akan pernah merasuk ke sukma”.
Tiada salah disampaikan Ayu Laksmi. Banyak orang Bali belakangan belajar mawirama baru sebatas menghafalkan syair dan irama lagu. Kapan suara harus tinggi, di mana mesti bernada rendah. Tapi terkadang mereka lupa memakna mendalam yang terkandung di balik syair wirama tersebut.
Begitulah Ayu Laksmi, mencoba memaknai sekaligus menebar arti hidup melalui kekawin.Toh artis Bali satu ini amat menyayangkan banyak musik daerah yang sarat kandungan etnik dan budaya, ternyata belum mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia sendiri. Mereka, lebih-lebih generasi muda yang menyukai musik beraliran barat. “Barangkali perjalanan waktu dan pendewasaan seniman sedikit demi sedikit akan merubah semuanya,” dalih wanita yang ikut aktif mendukung Nyanyian Dharma. Nyanyian Dharma merupakan kumpulan lagu-lagu rohani bernuansa religius yang dinyanyikan artis-artis Bali dan didukung seniman musik nasional.
Ayu tak jauh-jauh mencari perbandingan. Dirinya yang dulu selalu tampil mengusung musik beraliran barat, pop, atau latin, beberapa tahun belakangan malah menjadikan musik tradisional sebagai ikon.
Maka, jangan heran tiap kali tampil dia tampil di hadapan publik, baik orang asing maupun warga pribumi, pasti ada permintaan membawakan wirama. Permintaan itu tak hendak ditolak, malah dimaknai sebagai sebuah penghargaan. Sebab lewat lagu-lagu seperti itu selain dapat menghibur juga menebar filosofi kehidupan. “Mau memperoleh pendapatan lebih dari menyanyikan lagu tradisi, memang tak bisa berharap banyak. Lebih dominan kandungan nilai sosialnya,” tunjuknya. Maka, di musik pop atau jazz Ayu Laksmi lebih mengutamakan finansial sedangkan di tradisi bentuk sosialnya.
I Wayan  Sucipta