Edisi No. 106/ Tahun X Februari 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Adat
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Seni
Figur
Glosari
Inspirasi
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Nyama Braya
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Laras


   
SASIH

Saat Langit Hamil Tua

Hyang Maha Dewa  tengah beryoga. Alam terlihat    murung, manusia diuji sejumlah problema. Kini orang mesti ikhlas menerima apa saja yang datang, termasuk datangnya air yang melimpah.

Entah  kenapa setelah Sasih Kapitu (bulan ketujuh) daur sasih kini dinamai Kaulu. Tidak ada jawaban pasti  di balik penamaan itu. Tapi sesuai siklus nama-nama sasih, Kaulu merupakan  sasih kedelapan. Dan kata kaulu  berarti juga delapan. Namun demikian, dari sisi semantis, kata kaulu  berarti juga  menuju puncak, menuju titik  penuh.  Di titik ini,  kebetulan atau tidak simbol angka delapan pun merupakan tumpukan dua angka nol penuh. Lalu apa gerangan makna di balik simbol ini? Dalam bentang kosmoslogi Bali, tentu banyak hal bisa dibaca dari fenomena ini.
Dalam Sasih  Kaulu kini langit seakan tengah hamil tua, mendung tebal bergelayut di mana-mana, matahari jarang nongol. Hujan turun dengan lebat, air meluber di mana-mana. Dan Bali pun menjadi serba penuh buncahan air, maklum  kini  hujan jarang berhenti. Dengan begitu sasih ini merupakan  puncak musim penghujan. Orang Bali lalu menamai kondisi ini dengan basah gede— yakni  saat  air meluber di mana-mana,  para nelayan  dibuat keder melaut. Maklum angin kencang memicu gelombang laut makin meninggi.
 Memang, bila siklus sasih berjalan normal, angin kencang dan hujan lebat dipastikan akan mengguyur Bali sepanjang bulan ini. Baik astrologi Jawa dan Bali menyebut  kaulu sebagai sasih  berkarakter sirira, sasih  berhawa sejuk dan berkabut. Matahari jarang tampak, sinarnya dibendung kabut. Hawa dingin membikin kucing tak tahan menahan birahi. Maka jangan heran jika suara gaduh kucing berkejar-kejaran kerap mengganggu tidur nyenyak Anda.
Saat Kalaukini matahari tengah bergerak ke utara, dan nanti pada Sasih Kesanga (kesembilan), seputar 25 Maret 2009, tepat pada bulan mati Sasih Kesanga (kesembilan), matahari melintas tepat di atas garis khatulistiwa, hingga bayangan diri nyaris tidak tampak. Manusia Bali memilih momen ini sebagai saat tepat melakukan  tawur buta yadnya. Tawur untuk menyadari muasal diri dan unsur-unsur yang membangun bumi ini. Dan Kaulu kini jatuh tepat di hari Senin Wage Wuku Kulantir, 26  Januari 2009, bertepatan dengan tahun baru Imlek 2560, sehari usai Tilem Kapitu.
Kendati diguyur hujan lebat, angin ribut dan gelombang laut yang kadang-kadang tinggi, mudah-mudahan di sasih Kaulu kini penduduk bumi terhindar  bencana lindu (gempa). Sebab bilamana gempa terjadi saat sasih Kaulu, ini memberi pertanda alam yang mesti dibaca dengan bijak.  Dinyatakan Hyang Maha Dewa  sedang melakukan yoga. Semesta alam dibuat  murung, manusia diuji sejumlah problema. Dan  orang mesti ikhlas menerima apa saja yang datang, termasuk datangnya air yang melimpah. Kini petani mengalami nasib kurang menguntungkan, walangsangit perusak tanaman tengah berkembang pesat.
 Keadaan ini mendorong manusia Bali yang “beragama alam”  tidak bosan-bosannya mengaturkan upacara peneduh  dengan upacara  nangluk merana – berharap hama menjauh dan tanaman tumbuh subur. Pun dalam Sasih Kaulu orang dibuat sedikit cemas. Petir menyambar-nyambar, angin kencang, dan genangan air tak kunjung surut. Pohon kelapa beradu dibantai angin, seperti hendak saling cakar. Dari lubang-lubang kayu basah, serangga keluar dari sarang, handai hendak menanti hangat matahari. Burung-burung menjerit kedinginan, takut terbang karena sekujur bulunya basah.
Kaulu kini tengah ngunya Kapitu, hujan dipastikan bertambah lebat, dengan limit waktu lumayan panjang. Hal ini menyebabkan panen hasil bumi terutama kedelai, bawang, dan cabe  menyusut. Tangkapan ikan berkurang, cuaca buruk membuat nelayan enggan melaut. Dalam kondisi yang sedemikian rupa, lazim disebut musim becek, orang Bali biasanya menunda melakukan kegiatan yang bersipat permanen, misalnya  menunda menggelar upacara manusa yajna, pitra yajna, termasuk dewa yajna, maklum musim hujan.
 Namun demikian siklus Kaulu akan berakhir tanggal  24 Februari 2009, Selasa Pon Wuku Warigadean, tepat di Tilem Kaulu. Namun terpenting dilakukan saat sasih kaulu adalah menjaga sanitasi lingkungan tetap bersih. Hindari genangan air tempat bersarangnya nyamuk. Karena Kaulu merupakan musim becek, penyakit tak akan malu-malu menjenguk Anda. Kondisi becek dan lembab jelas berakibat buruk bagi kesehatan, untuk itu jaga sanitasi dan keserhatan Anda. S