BALE
BENGONG
1 | 2 | 3
Memaknai Nyepi
I Kadek Satria
Memasuki Sasih Kesanga, kita mulai mempersiapkan beberapa rangkaian hari raya Nyepi. Sebagai salah satu hari raya Hindu yang diakui negara, Nyepi merupakan hari raya yang mesti mendapat pemahaman utuh. Tentu bukan hanya itu, perayaan Nyepi yang jatuh setahun sekali, tepat pada penanggal apisan sasih Kedasa sebaiknya memberi warna baru bagi pendalaman spiritualitas – di mana hari raya kini kerap menjadi rutinitas kosong.
Pemahaman pada agama merupakan suatu yang hakiki, tentu. Di mana manusia bisa menata keterjalinan harmonis kehadapan sang pencipta alam. Dinyatakan hakiki karena agama merupakan satu-satunya warisan yang bisa menghubungkan sang diri kehadapan sang Mahapengada itu. Lewat pemahaman agama kita mensyukuri rahmat-Nya. Tentu banyak hal dapat kita bangun sebagaimana harapan bersama, yakni: menjadikan agama sebagai sumber kebajikan dan kesantunan hidup.
Bagi umat Hindu, semua hari raya merupakan momen penting untuk selalu eling kepada Sangkan Paraning Dumadi, yang menyebabkan kita ada di bumi, dan akan kembali ke alam roh atas kehendak sang mahapenentu hidup -- pengedali aras putar tri kona, utpati-stiti-pralina. Setiap momen upacara jelas diniatkan menghaturkan sujud bakti seorang penyembah. Dan, upacara inilah yang saban hari digelar orang Bali, dengan harapan ia mendapat anugerah kerahayuan dari sang Pencipta.
Nyepi dengan segala runtutannya, mulai dari aktivitas Makiis, tawur kesanga dengan prosesi pangrupukan-nya , serta pelaksanaan Nyepi dengan catur brata panyepian , diakhiri dengan ngembak geni . Pentingnya pemaknaan Nyepi hendaknya dipahami sebagai momentum mencapai kesadaran diri dalam kepuhan makna hidup. Pada dasarnya proses pelaksanaan Nyepi merupakan salah satu dari sekian banyak hari suci yang harus dimaknai lebih intens. Namun, Nyepi merupakan momen yang sangat utama kita renungkan.
Hendak memahami Nyepi agar mampu memetik maknanya dengan baik, maka perlu dikenali secara definitip runtutan hari raya Nyepi itu sendiri. Dimulai dengan Makiis , yang secara etimologis mengandung pengertian menuju air. Sehingga yang dimaksudkan pada saat Makiis adalah melakukan pembersihan dan penyucian dengan menggunakan sarana air. Prosesi Makiis ini menarik, yakni dengan membawa pratima-pratima Ida Bhatara menuju sumber air, yang kemudian dilaksanakan persembahyangan bersama memohon kerahayuan kehadapan Tuhan melalui seluruh manifestasinya agar dilimpahkan kebersihan dan kesucian jasmani dan rohani.
Kalau kita memandang pelaksanaan Makiis dari sudut filsafat, maka Makiis tak lain suatu proses penyucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Ini dapat kita lihat dari tujuan prosesi upacara Makiis yang dipuput para pemangku, pinandita, dan sulinggih, yaitu: “ anganyutaken malaning gumi, angamet tirta amerta.
Jadi prosesi Makiis ini merupakan langkah untuk membersihkan bhuana, baik bhuana alit maupun bhuana agung. Jika demikian halnya, maka sumber-sumber mata air perlu kita jaga kelestariannya. Momen Makiis merupakan titik awal, mengingatkan kita di Bali akan pentingnya pelestarian alam.
Yang kedua, tawur agung Kesanga. Merupakan salah satu bagian upacara bhuta yajnya . Dalam kurun satu tahun Kalender Bali, sasih Kesanga dijadikan momen penting menggelar tawur. Tepatnya tanggal terakhir sasih ini. Hal mana menyiratkan makna, bahwa umat Hindu Bali menyadari, bahwa selama satu tahun telah melakukan begitu banyak kesalahan dan kekhilafan terhadap semesta alam ini, sehingga dengan pelaksanaan tawur manusia Bali berniat mengharmoniskan kembali kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif menjadi kekuatan positif.
Pada sore hari, setelah prosesi tawur diadakan pengarakan ogoh-ogoh, dengan pemaknaan semua bentuk bhuta digambarkan sebagai raksasa, pisaca dan jenis-jenis yang lain. Ogoh-ogoh diarak di jalan raya yang ketika menemukan perempatan diputar secara presawya, diputar ke kiri sebagai wujud mengharmoniskan kekuatan negatif. Tentang keharusan ada dan tidaknya ogoh-ogoh banyak menuai kontroversi di masyarakat, memang. Tetapi, hendaknya kita bijaksana memahami makna pengarakan ogoh-ogoh pada hari pangrupukan . Sebagai kaum muda, kreativitas memang penting dimekarkan. Tapi apakah kreativitas itu melulu mesti disalurkan lewat pembuatan ogoh-ogoh?Nyepi akan kita pahami secara gamblang dengan melakoni perintah Catur Brata Panyepian . Pada pelaksanaan Nyepi kita di harapkan tidak bekerja, amati karya , serta mengekang hawa nafsu, amati geni dengan simbol tidak menyalakan api. Tidak melantunkan lagu-lagu yang membuat kebisingan, amati lelanguan , dan terakhir tidak melakukan aktivitas bepergian, amati lelungan . Dari keempat brata ini kita dapat memberi makna, bahwa Catur Brata Panyepian merupakan konsep yoga yang diajarkan sesara turun-temurun para leluhur. Pelaksanaan “nyipeng” terjadi dalam kurun waktu 24 jam, sehingga bisa direnungkan bagaimana “merdekanya” alam dan segenap isinya. Pelaksanaan Nyepi berakhir dengan ngembak geni, yang mana menyiratkan berakhirnya proses upacara diri melakoni proses catur brata panyepian . Dan setiap pelakon yang teguh tentu akan lahir sebagai manusia-manusia baru.
I Kadek Satria
Mahasiswa Semester I Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar.
|