BALE
BENGONG
1 | 2 | 3
Melihat Tuhan di Dalam Hati
Nyoman Sutrisna Widjaya
Saat anak-anak masih kecil kita sering kelimpungan ketika mereka bertanya, seperti apakah wujud Tuhan dan di manakah Dia berada? Kita bisa merasa terpojok, terperangkap dalam kebingungan tanpa daya. Pikiran kita menjadi terombang ambing di antara perasaan tidak berdaya dan keinginan menjadi orangtua yang mampu mengambil tanggung jawab, yang tahu segalanya di mata anak-anak.
Kita berusaha menenangkan pikiran, lalu mencoba mengingat berbagai dharma wacana yang pernah kita dengar, atau pelajaran-pelajaran agama yang kita ikuti dulu di sekolah. Kesabaran kita benar-benar diuji oleh pertanyaan anak yang deras mengalir bagai rentetan gelombang yang membanting pertahanan sampai ke ujung tanpa batas.
Bisa jadi kita kehabisan kesabaran lalu menjadi kesal, marah, dan merasa putus asa. Padahal, anak-anak secara naluriah sedang menjalankan curiosita , yakni rasa ingin tahu yang menurut Da Vinci, merupakan syarat utama dan yang pertama untuk bisa belajar. Masih beruntung jika kita segera sadar lalu memohon petunjuk kepada Tuhan, agar diberi jalan untuk bisa memberi jawaban masuk akal terhadap pertanyaan-pertanyaan anak yang begitu polos dan naif. Lalu Tuhan mengalirkan daya-ciptaNya kepada pikiran kita, hingga membangunkan kesadaran bahwa kita bisa mengembangkan imajinasi atau daya cipta (berasal dari kata “ image /imaji – in”, citra/gambaran yang dapat kita bentuk di dalam pikiran). Kemudian kita bisa menjawab, “Nak, Tuhan atau Hyang Widhi itu sesungguhnya tanpa wujud, tapi sebaliknya juga bisa mempunyai wujud tanpa batas. Beliau mempunyai wujud persis seperti yang bisa kamu bayangkan di dalam pikiranmu, ketika kamu terlelap dalam kehangatan selimut welas asih milik Beliau. Cobalah kamu bayangkan, cukup bayangkan saja, dan hayati perasaan-perasaan tenteram, damai, bahagia, dan sejahtera yang menyelimuti relung-relung hatimu. Semoga, seijin dan atas bimbinganNya kamu akan tahu bagaimana wujud Hyang Widhi”.
Para cendekiawan yang arif suka mengatakan bahwa Tuhan itu ada di balik pintu hati kita. Hati adalah pikiran yang mengandung muatan emosi, yang positif maupun negatif. Jika melihat seseorang yang hatinya senang, bahagia, tenteram, damai, dan bersikap rendah hati, itu menunjukkan emosi positif yang sedang menyertai pikirannya, ketika “jiwa” Hyang Widhi dirasakan ada di dalam diri orang itu.
Sebaliknya, berbicara tentang seseorang yang sedang marah, serakah, sombong, egois, iri dan dengki, segala macam musuh di dalam pikiran yang disebut Sad-ripu, kita melihat pikiran yang dibelenggu oleh emosi negatif, ketika “ego” atau “Butha Kala” mendapat kesempatan sepenuhnya mengendalikan orang itu. Kepada anak-anak sekarang, kita punya alternatif jawaban atas pertanyaan tentang keberadaan dari Tuhan, “Cukup bersihkan hatimu nak, buat kaca pintunya menjadi sebening kristal, maka kamu akan melihat Tuhan yang sudah ada di sana, persis di hatimu yang suci sejak kamu diciptakan olehNya”.
Dr Sutrisna Widjaya MPH, Ketua Lembaga Pengembangan Citra Diri (LPCD), Denpasar
|