No. 95/ Tahun IX Maret 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca
Samatra
Sameton


   
KALANGAN

Cak Bona
Saat Berbenah Sebelum Punah

Lama tiada kabar, kecak Desa Bona kembali pentas. Tampil diperkuat seniman muda dengan lakon cak yang belum lumrah di masyarakat. Satu pertanda bangkitnya cak di tanah kelahiran sendiri?

Sinar temaram lampu neon menghiasi wantilan jaba Pura Puseh Desa Pakraman Bona, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Sabtu malam, tanggal 2 Pebruari silam. Puluhan orang hanya mengenakan sarung duduk bersila. Begitu bersemangat memang. Peluh yang mulai menetes dari badan tiada terhiraukan. Begitu komando “cak...”, muncul dari satu orang, penari lain menimpali dengan berucap “cak-cak-cak..., cak-cak-cak...” Begitulah seterusnya.
Di tepi arena pertunjukkan ratusan penonton dari berbagai kalangan—sebagian besar warga Bona dan beberapa warga asing—tampak berdesak-desakan. Mereka saling mendongakkan kepala, tak hendak melewatkan satu pementasan tari yang sempat amat melekat di hati warga Bona..
Malam itu di Pura Puseh Desa Pakraman Bona memang sedang berlangsung pementasan tari kecak. Satu kesenian yang sempat mengharumkan nama desa yang mewilayahi lima banjar adat ini hingga ke seantero dunia.
Pentas berdurasi satu jam 45 menit di awal tahun tikus (2008) itu, didukung penari tua dan muda. Seniman tua bahkan tak mau kalah energik dengan pemain muda.
Nuansa pentas kala itu memang terlihat beda, terutama dari lakon yang tak lagi mengusung cerita kesenian cak lumrahnya yang kini bertumbuh di Bali. Jika pentas cak selama ini—lebih-lebih yang disuguhkan untuk turis—cenderung berkiblat dari epos Ramayana, tentang penculikan Sita oleh Rahwana, tari cak garapan para seniman Bona pada hari Kuningan malam itu, mengambil lakon Sutasoma. Tokoh dalam kekawin Sutasoma yang dikenal berbudi luhur. Kental akan kasih sayang dan tulus dalam melakukan tugas-tugas selama hidup. “Kami ingin menyuguhkan sesuatu yang baru, terutama dari sisi cerita yang lebih menonjolkan cinta kasih dan pengendalian diri,” jelas penggagas sekaligus dalang cak Bona Ida Bagus Made Arjawa.
Satu suguhan yang amat memikat memang. Apalagi sang dalang begitu piawai dan cerdas berimprovisasi. Lawakan serta dagelan-dagelan nan segar, membuat geerr suasana. Penonton silih berganti memberi aplus pada penari.
Cak Bona belum punah memang. Paling tidak ranah-ranah seni tinggalan tetua tersebut masih bisa disaksikan generasi kini. Asa membangkitkan kembali dari warga begitu membahana.
Satu upaya mulia apalagi bila menoleh ke belakang, seni cak Bona sempat mengukir sejarah cukup panjang. Selain sempat menjadi ikon desa, pada masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia (RI) pertama, Ir Soekarno, tarian cak Bona seakan menjadi tarian wajib untuk dipersembahkan. Begitu Bapak Proklamator berkunjung ke Bali, maka cak Bona mesti pentas di Istana Presiden di Tampaksiring.
Pun dalam perhelatan kecak di Bali di masa-masa selanjutnya, dalam cermatan pemerhati seni I Wayan Dibia, cak Bona memiliki makna penting. “Tarian cak Bona punya keterkaitan erat dalam perkembangan kesenian cak di Bali,” mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu mengingatkan. Sebelum di Bona, cak sempat berkembang di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh. Cuma, kata guru besar ISI Denpasar, cak di Bedulu hanya berlangsung sekejap. Malah cuma sempat pentas sekali dan tak berkembang lagi. Justru kesenian tanpa dibantu alat musik itu berkembang subur di Bona.
Kelahiran tari cak di desa yang terkenal dengan beraneka kerajinan berbahan daun lontar ini, sejatinya sudah ada sejak dasa warsa 1930-an. Semula lebih diarahkan untuk persembahan ritual. “Dari cerita tetua di Bona, dulu di desa kami sering terserang wabah,” tutur Ida Bagus Arjawa. Bukan hanya warga tanaman di huma juga tiada henti diterjang beraneka hama penyakit.
Guna menetralisir keadaan sekaligus mengatasi serangan hama pertanian, maka perlu ada satu penetralisir. Entah bagaimana awalnya, pilihan jatuh pada seni pertunjukkan tanpa pengiring alat musik. Kesenian itulah yang dinamakan cak.
Di masa-masa selanjutnya, tari kecak kerap dipentaskan saat ada upacara di Pura Puseh. Masyarakat Bona kala itu punya keyakinan dengan ditampilkan tari kecak yang dilengkapi tari sanghyang (dedari dan jaran), maka bisa memakmurkan masyarakat. Tanaman di huma maupun tegalan terhindar dari hama. Tumbuh subur.
Saat pariwisata mulai berkembang di Bali, dasawarsa 1960-an, tari kecak Bona tak lagi sebatas bersifat ritual. Turis yang berkunjung ke Bali, tak cukup menikmati budaya khas daerah atau pemandangan alam. Mereka juga ingin menikmati tari-tarian pulau alit ini. Kala itu, ada tiga jenis tarian yang seakan menjadi tontonan wajib tetamu asing. Tari legong dan barong (biasanya dari Peliatan, Ubud atau Saba, Blahbatuh), dan kecak dari Bona.
Jadilah tari kecak yang semula dipersembahkan untuk ritual, menyerempet ke komersial. Di Bona sendiri, suguhan tari kecak pada turis tergolong sederhana. Tak ada panggung permanen layaknya tempat pentas sekarang. Turis menikmati tari cak dengan duduk di kursi bambu yang dibawa langsung para penari. Kala itu ada semacam kewajiban bagi penari membawa satu kursi bambu bila ada tamu yang hendak menonton. “Itu sebabnya, antara kerajinan kursi bambu dengan seni kecak bertali temali amat erat di Bona,” Ida Bagus Arjawa berkisah ulang perihal keterkaitan tari cak dengan kursi bambu.
Cuma, pada masa-masa selanjutnya, kerajinan kursi bambu bukannya berkembang pesat di Bona. Peluang emas itu justru dibaca bernas warga desa tetangganya, perajin Belega yang mampu mengembangkan kerajinan kursi bambu hingga kini.
Kisah suram kerajinan kursi bambu Bona ternyata bertemali dengan tari kecak. Tatkala dunia pariwisata menggeliat di Bali, maka banyak daerah terutama di kantong-kantong seni yang mudah terjangkau turis, seperti Desa Batubulan dan Singapadu (Kecamatan Sukawati, Gianyar) serta di Kota Denpasar, mulai ramai membangun grup tari kecak. Garapannya sama persis dengan kecak Bona.
Alhasil, turis dan biro perjalanan pun lamat-lamat berpindah menonton kecak ke tempat yang lebih strategis dan gampang menempuh. Sebaliknya, ketenaran kecak Bona seolah tanpa denyut, terus melorot. Jadwal pentas yang tadinya seminggu sekali, bisa sampai sebulan tak ada permintaan. Dan, dasawarsa 1990-an tari lawas ini benar-benar redup. Hilang dari peredaran.
Ingin bangkit, terasa sulit mengkoordinir seniman. Lebih-lebih warga telah disibukkan dengan kegiatan lain yang hasilnya nyata di depan mata. Praktis anak-anak yang lahir tahun 1990-an ke atas hanya kenal cak Bona lewat nama saja. Tanpa tahu persis wujud tariannya. Barulah di akhir 2007 keinginan membangkitkan kembali tari cak mencuat ke permukaan. “Kami awalnya mencoba mencermati faktor penyebab sampai tari kecak redup di Bona,” ingat Ida Bagus Arjawa. Setelah melakukan berbagai analisa masalah, ditemukan penyebab, seperti kekurangsigapan menghadapi persaingan, tidak tepat waktu, dan sistem manajemen yang masih kurang bagus.
Artinya, di samping memoles cerita lama dengan lakon baru, maka memperbaiki kelemahan terdahulu amatlah penting dilakukan, sehingga cak Bona bisa bersanding dengan kesenian sejenis di daerah lain. I Wayan Sucipta, Box

Meniti Tinggalan Tetua

Ida Bagus Arjawa

Bagi masyarakat Desa Bona, tari kecak punya nilai sejarah tersendiri. Lahir sebagai bagian dari persembahan ritual, untuk menetralisir keadaan di desa. Selain itu, model cak yang kini berkembang di Bali, termasuk yang dipentaskan pada para turis juga bermula dari garapan seniman di Bona. Tari kecak pula yang sempat lama menjadi ikon dari desa ini.
Sayang, dalam perjalanannya tarian ini mengalami kemunduran bahkan tenggelam bak ditelan bumi. Para pelanjut di desa ini tiada banyak yang mau terlibat dalam seni ini. Hingga di akhir tahun 2007, segelintir generasi muda mulai tergugah asanya untuk kembali membangkitkan Cak Bona beserta tari sanghyang.
Adalah Ida Bagus Arjawa, satu di antara turunan warga Bona yang begitu bersemangat membangkitkan kembali seni pentas yang sempat mengharumkan nama desa ini.
‘'Sebagai generasi penerus, kami merasa bertanggungjawab untuk membangkitkan kembali kesenian cak di Bona,'' ujar jebolan Jurusan Padalangan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, tahun... ini
Tiada mudah memang menyetrum minat generasi muda Bona membangkitkan tari kecak. Arjawa mesti rela berkorban dalam banyak hal. Waktu, pekerjaan, bahkan materi.
Toh, itu tak pernah terhiraukan. Keinginan membangkitkan kembali Desa Bona sebagai pusat pementasan tari cak justru mengalahkan semua yang telah dikorbankan. “Terpenting bagi saya, mengembalikan identitas Bona sebagai pusat pengembangan tari kecak jauh lebih penting,” ayah dua putra ini berkilah.
Bersama beberapa kerabatnya yang mempunyai kepedulian kuat akan kebangkitan kecak Bona, Arjawa mulai menelisik mencari warga sebagai penari. Di luar dugaan, ternyata banyak warga yang memberi semangat akan upaya seniman ini.
Setelah berhasil mengumpulkan seniman muda sekitar 80 orang, sejak lima bulan lalu latihan mulai digelar. Dibina seniman tua Bona seperti dalang kesohor Made Sija, latihan dilakukan dua kali seminggu.
Putra kedua Ida Bagus Windu,--- Ida Bagus Windu saat masa jaya cak Bona dikenal sebagai tokoh Rama---, punya cara tersendiri dalam menarik minat turis menyaksikan kecak Bona. Di samping menampilkan kisah cerita berbeda, yakni mengambil lakon Sutasoma, waktu pentas yang digelar siang hari akan dikemas layaknya menonton kecak di malam hari.
Tak hendak berhenti di tari kecak. Arjawa juga merintis kembali kerajinan yang sempat mekar di Bona bersamaan dengan harumnya tari kecak, yakni kerajinan kursi bambu. Dalam bahasa Ida Bagus Arjawa, dia berusaha menghidupkan kembali dua tinggalan dari tetua Bona tempo dulu. WS