|
TATWA
Memuja Tuhan Menggamit Kemakmuran
Tanya Jawab Tatwa
Tjok Rai Sudharta
Perihal Panca Sembah
Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) telah memutuskan bahwa, untuk keseragaman persembahyangan umat Hindu se-Indonesia, di setiap upacara persembahyangan wajib melaksanakan panca sembah. Untuk memperoleh gambaran lebih pasti, ada beberapa hal yang perlu saya tanyakan kepada pengasuh:
1. Dalam urutan ke berapa dalam persembahyangan panca sembah itu dilaksanakan pada saat kita menghaturkan bakti ke Dewa Pitara (Leluhur)?
2. Mengapa pelaksanaan Tri Sandhya di dalam setiap upacara persembahyangan di Bali umumnya, belum dilaksanakan secara konsisten, padahal warga Hindu kita di Jawa umumnya sangat taat sekali melaksanakan di awal-awal sebelum persembahyangan dengan panca sembah-nya?
Suteja
Kelurahan Gianyar, Kabupaten Gianyar
Jawab:
Sebelum menjawab dua pertanyaan dari Suteja, perlu disampaikan bahwa Tri Sandhya dan kramaning sembah merupakan keputusan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) saat Mahasabha VI tanggal 13 September 1993.
Jadi, pengaturannya baru saja, walaupun pelaksanaan persembahyangan penganut Hindu sudah berlangsung dari dulu, sejak Agama Hindu ada di Bali dan di Jawa. Tuntutan-tuntutan para panglingsir Hindu pasti sudah disampaikan dari sejak itu, walau tak memakai istilah Panca Sembah atau Tri Sandhya.
Penulis mengutip Reg Weda X,4.1, yang artinya sebagai berikut:
Kepada Hyang Widhi kami persembahkan sesajian
Kepada Hyang Widhi kami panjatkan doa kami
Kepada Hyang Widhi yang dipuja dalam doa kami
Kami memuja kemuliaan Tuhan di bumi, di langit, di sorga
Semoga Tuhan memberi kami kedamaian
Berikutnya dalam Reg Weda VI, 86.30 :
Pemuja yang penuh cinta kasih
Memuja Tuhan dengan khusuk
kepadaMu seluruh makhluk berpaling
Reg Weda VIII, 66.13 :
Ya Tuhan, sesungguhnyalah kami adalah milikMu,
Kami pemujaMu di bawah kekuasaanMu
Hanya Engkaulah yang selalu kami puja tidak ada yang lain
Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang melimpahkan Rahmat
Reg Weda VII, 94.4 :
Kami memuja Tuhan sebagai Yang Tersuci di antara yang suci
Kami memuja Tuhan sebagai pendobrak dengan kekuatan yang tak tergoyahkan
Kami memuja Tuhan sebagai Pahlawan Utama, kami memuja Tuhan Pemimpin kehidupan bangsa kami
Reg Weda VI, 47.11 :
Tuhan sebagai Penolong, Tuhan sebagai Penyelamat
Tuhan Yang Maha Kuasa yang kami puja dengan gembira dalam setiap pemujaan.
Tuhan Maha Sakti yang selalu dipuja
Kami memohon semoga Tuhan Yang Maha pemurah melimpahkan rahmat kepada kami
Reg Weda VIII, 43.31 :
Kami memuja Dewa yang berbahagia dengan hati yang berbahagia, Yang mencintai semua yang bersinar suci dan menyucikan
Reg Weda VII, 95.7 :
Marilah kita semua memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Suci dengan pujian yang sama. Dia yang dimuliakan dengan lagu-lagu pujian. Semoga Yang Suci dan Yang Pemurah menerima dengan senang.
Reg Weda X, 121.1 :
Dewa apakah yang kami puja dengan persembahan kami ini? Ia Yang Suci dan Yang Ada dalam Permulaan. Yang diwujudkan sebagai Tuhan Sang Pencipta dan Yang Menguasai Bumi dan Langit.
Reg Weda X, 121.2 :
Dewa apakah yang kami puja dengan persembahan kami ini?
Ia Yang memberikan kekuatan jiwa dan tenaga
Yang hukumnya dipatuhi oleh seluruh alam, dipatuhi oleh kekuatan kosmos
Yang bayangannya adalah keabadian dan kematian
Reg Weda X, 89.3 :
Kepada Tuhan kami panjatkan doa suci, terus menerus yang tidak ada taranya di bumi dan di langit.
Kepada Tuhan yang memperhatikan semua mahluk hidup
Jadi perihal persembahyangan sudah terdapat dalam Reg Weda. Tentu tidak menyangkut pelaksanaannya sebagai Panca Sembah yang disesuaikan dengan desa dala datra. Yang sudah ada itu pengaturan individu, sendiri-sendiri. Malah kalau zaman dahulu sembahyang bisa lama karena khusuknya. Berbeda kini, dalam persembahyangan dilakukan secara umum, berkelompok, harus bergelombang atau antre, perlu pengaturan khusus yang sekarang dinamai Panca Sembah.
Urutan Panca Sembah itu sebagai berikut:
Pertama, muspa puyung/kosong sebagai awal pemujaan
Ya Hyang Widhi yang merupakan Atma dari Tattwa, sucikanlah hamba
Kedua, muspa dengan bunga, ke hadapan Sanghyang Siwa Raditya
Ya Hyang Widhi, hamba sembah Dikau dalam manifestasi sinar surya yang merah cemerlang, berkilauan cahayaMu, Engkau putih suci bersemayam di tengah-tengah laksana teratai, Engkau bhaskara (sumber cahaya) yang hamba puja selalu.
Oh Hyang Widhi, sumber cahaya segala sinar, hamba menyembahmu agar segala dosa dan kotoran yang ada pada jiwa hamba menjadi sirna, binasa, karena Dikau adalah sumber bhukti dan mukti, kesejahteraan hidup jasmani dan rohani, hamba memujaMu, Oh Hyang Widhi
Ketiga, muspa dengan bunga/kawangen ke hadapan Sang Hyang Widhi
Ya Hyang Widhi, hamba memujaMu sebagai dewa sumber sinar, yang bersinggasana paling utama, hamba memuja Dikau sebagai Siwa penguasa semua mahluk, hamba memujaMu sebagai satu-satunya penegak segala, yang bersemayam di padmasana. Hamba tujukan pujaan hamba kepadaMu ciwaraditya dan hamba puja Hyang Widhi sebagai ardhanareswari (perwujudan tunggal dari laki dan perempuan)
Keempat, muspa dengan bunga/kewangen ke hadapan Istha Dewata/Dewa Pitara untuk mohon waranugraha
Ya, Istha Dewata (leluhur), limpakanlah anugerahMu yang menggembirakan hambaMu. Maha pemurah yang melimpahkan segala kebahagiaan yang dicita-citakan serta dipuja-puja dengan segala pujian, hamba puja Dikau yang melimpahkan segala macam anugerah. Sumber kesidian semua dewata, yang semuanya berasal dari korban suci kasih sayangMu.
Limpakanlah kemakmuran, kasidian dan umur panjang serta keselamatan dan kebahagiaan selalu. Hamba puja Dikau untuk dianugerahi kesejahteraan, hamba puja Dikau untuk dianugerahi kebahagiaan, dan:
Kelima muspa tangan kosong (tanpa bunga)
Untuk menghaturkan terima kasih atas anugerah yang telah dilimpahkanNya
Ya, Sang Hyang Widhi, kami memujaMu dalam wujud sinar suci yang gaib, serta wujud maha agung yang tidak dapat dipikirkan. Semoga semuanya damai di hati, damai di dunia dan damai selalu, atas karunia Sang Hyang Widhi.
Setelah puja persembahyangan selesai dilanjutkan dengan matirta dengan urutan sebagai berikut:
Masirat/maketis tiga (3) kali di Shiwadwara (ubun-ubun) dengan maksud dan tujuan menyucikan pikiran, disertai mantra : OM Ang Brahma Amerta ya Namah.
Mengenai bagaimana urutan kalau kita mau sembahyang, menghaturkan bakti ke Dewa Pitara (leluhur). Pelaksanaannya pada urutan ke 3. Kalau di pura kita menghaturkan kepada Istha Dewata, tetapi saat Pitra Yajnya urutan ke 3 itu kita hadapkan kepada Dewa Pitara dengan permohonan anugrah itu. Cakupan tangan diletakkan di dahi pada pertengahan kedua alis. Tetapi kalau kita sembahyang pada waktu mayat itu baru “dimandikan”, karena masih berupa mayat maka cakupan tangan itu diletakkan di dada, di ulu hati. Jangan di dahi.
Terkait pelaksanaan Tri Sandhya, perlu ketahui di India tidak ada Tri Sandhya yang 6 bait sebagaimana di Nusantara ini. yang diucapkan hanya Mantra Gayatri (bait pertama Tri Sandhya diucapkan sebanyak mungkin).
Di Bali, Lombok, dan Jawa, Tri Sandhya baru disebarluaskan setelah Parisada Hindu Dharma Indonesia menerbitkan Buku Upadesa.
Pelaksanaannya di Bali tidak begitu cepat, mula-mula di sekolah-sekolah waktu pelajaran akan dimulai. Kemudian di rapat-rapat pada waktu rapat akan dimulai. Kemudian di kantor-kantor bupati yang bupatinya orang Hindu. Kemudian di pura pada waktu persembahyangan Panca Sembah akan dimulai. Inipun kadang ada yang ngrengkeng masak dini ma Tri Sandhya buin, ken jumah suba ma Tri Sandhya (masak di pura sekarang lagi ber Tri Sandhya, kan di rumah tadi sudah kita lakukan). Penulis sendiri tak mengerti mengapa demikian. Apakah karena di Bali sudah tahu masyarakat beragama Hindu, sehingga tidak perlu digembar-gemborkan, sedangkan di luar Bali mereka bersaing dan ingin menunjukkan jati dirinya atau identitas diri sebagai penganut Hindu. Kalau demikian, maka pemikiran itu keliru. Pelaksanaan Tri Sandhya bukan untuk digembar-gemborkan kepada pemeluk lain. Tri Sandhya itu adalah oleh diri sendiri kepada Hyang Widhi. Setiap saat kita dapat mengagungkan Hyang Widhi serta memohon pengampunan kesalahan dan dosa yang kita tidak tahu sudah melakukannya. Setiap saat kita dapat melaksanakan walaupun tidak diperdengarkan. Cukup di hati kita memuja Hyang Widhi serta memohon ampun Beliau. |