No. 100/ Tahun IX Agustus 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
BALE BENGONG
hal 1 | hal 2 | hal 3

Modernisasi Bali
Agus S Mantik

Modern—versi World Book Dictionary—berarti kekinian (at the present time), waktu lalu yang tidak terlalu lama (of time not long past), dan up-to-date, tidak terlalu silam (not long past). Kalau kita berdiri sendiri saja dan tidak ada komunikasi atau tidak bersentuhan dengan masyarakat lain maka modernisasi tidak akan membawa pengaruh perubahan terlalu besar: waktu akan berjalan sangat lambat dan kita mungkin menjadi salah satu cagar alam dunia.
Yang mengubah semua kini adalah globalisme, asas saling ketergantungan keseluruhan dunia dan rakyatnya. Global artinya menyebar ke  seluruh pelosok dunia dan menjadikan Bumi ini keseluruhan yang tidak terpisah dan saling berhubungan. Yang paling ditakutkan dari globalisme adalah saling ketergantungan yang merugikan perkembangan nasional sendrri dan tentu saja juga kepentingan nasional. Yang disebut dengan perkembangan dan kepentingan nasional tentu saja sudah termasuk tradisi, pembangunan ekonomi, sendi-sendi budaya, hal-hal di masa silam yang menyebabkan adanya kohesi sosial dan tentu saja identitas nasional atau daerah tertentu.
Tidak semua keterkinian (modernisasi) dalam globalisasi berakibat buruk. Pandangan Hindu mengenai hal ini dengan jelas disuratkan dalam Rg Veda: segala sesuatu yang sudah tidak koheren lagi dengan kemajuan zaman (jadi keterkinian) seyogyanya ditinggalkan saja. Mengapa demikian? Karena, begitu mudah dan terus-menerus Hinduisme menyerap adat-istiadat dan gagasan orang-orang yang berhubungan dengannya, sehingga akan sulit bagi kita menemukan bentuk-bentuk keseragaman yang dapat dianggap sebagai pengikat bentuk-bentuk yang demikian beraneka ini. Tetapi, sebagaimana ditegaskan Radhakrishnan, bila tidak ada semangat bersatu yang mengikat ekspresi-ekspresi berbeda dan menghubungkan masa-masa berbeda dari keseluruhan sejarahnya ke dalam satu keseluruhan organik, maka akan tidak mungkin untuk melihat hal-hal yang dicapai oleh Hinduisme.
Sejarah Hinduisme, lanjut Radhakrishnan, bermula ribuan tahun lalu, 5.000 bahkan 10.000 tahun lalu, bahkan waktu itu sudah mencapai peradaban yang tidak pernah terputus sampai saat ini. Hinduisme telah berdiri tegak menghadapi tantangan dan tekanan selama ribuan tahun dalam pengalaman dan pemikiran rohani. Walaupun orang-orang dari berbagai ras dan kebudayaan telah tumpah ruah ke India sejak permulaan sejarah, Hinduisme tetap saja dapat mempertahankan supremasinya, bahkan kepercayaan yang masuk—yang dibela kekuatan politik—tidak bisa juga memaksa sebagian besar masyarakat India supaya mengalihkan pandangan mereka. Kebudayaan Hindu memiliki beberapa vitalitas yang mungkin tidak dipunyai oleh arus-arus kepercayaan lain yang lebih kuat.
Sayangnya, kenyataan demikian tidak seluruhnya berlaku untuk Hindu di Nusantara. Sama dengan di India, penyebaran agama yang dibela kekuatan politik dan ketika Kerajaan Champa di Kamboja jatuh ke tangan penguasa Islam, maka Nusantara berada dalam bahaya. Perlahan tetapi pasti kantong-kantong Islam mulai bertambah kuat dan ketika Majapahit jatuh ke tangan Demak maka kejatuhan Hindu tinggal menghitung waktu saja. Kejatuhan Majapahit adalah point of no return, akan tetapi tidak demikian halnya dengan di Champa: penguasa lama (yang non-Islam) melakukan perlawanan dan kemudian merebut kembali kekuasaan yang menghasilkan Kamboja, seperti keadaannya sekarang.
Kasus Bali sedikit berbeda. Ketika napas penguasa baru untuk menaklukkan seluruh Nusantara sudah mulai redup, di Bali hidup seorang raja yang sangat prajnan dan kuat. Ketika Sunan Perapen (dari Jawa Timur) pada abad XVI berhasil mengalahkan Selaparang (Lombok) bala tentaranya yang sudah menang perang mencoba menyerang Gelgel, tetapi Dalem Batur Enggong berhasil menghalaunya. Bahkan kekuasaan Bali malah meluas sampai ke Banyuwangi, Probolinggo, dan Pasuruan.
Dalam zaman Batur Enggong, kerajaan juga memiliki seorang bhagawanta, seorang refugee asal Jawa yang sangat pintar dan bijak, Danghyang Nirarta. Beliau melihat ikonoklasme yang mewabah di Jawa dan beliau sangat mengerti dialektika pengembangan agama melalui tradisi, logika, dan yang hidup (sravana, manana, nididhyasana): suatu tradisi pelestarian Hinduisme yang memberikan ruang untuk perubahan. Pengenalan padmasana yang menggantikan ikon, pratima, arca, seperti yang kita warisi adalah buah pikiran beliau.
Saya sering mengutip kalimat bahwasanya tradisi adalah sesuatu yang terus-menerus digarap dan disesuaikan dengan zaman untuk menjadi lebih baru dan dibentuk kembali oleh kegiatan-kegiatan yang merdeka dari para pengikutnya. Apa yang dikembangkan sepanjang zaman akan berkembang juga sepanjang zaman. Apabila tradisi tidak berkembang (sesuai dengan modernisasi dan globalisme) maka itu berarti para pengikutnya secara rohani sudah mati!
Sepanjang sejarah Hinduisme, para pemimpin yang berpikir dan bertindak secara terus-menerus sibuk dengan percobaan-percobaan mereka mengenai bentuk-bentuk baru, mengembangkan cita-cita untuk menyesuaikannya dengan keadaan. Sikap mental seperti inilah yang harus dimiliki oleh para pemimpin dan tentu saja juga oleh para pemimpin agama.