|
NYAMA BRAYA
Mantapkan Rohani Bermedia Binroh
Lewat wadah bimbingan rohani (Binroh), penganut Hindu di PT Telkom mempertajam ajaran agama. Menyucikan rohani.
Sejatinya, keseimbangan kecerdasan emosi, kematangan rohani-spiritual serta ketangguhan jasmani merupakan perpaduan sempurna pembentuk integritas diri. Itulah formula ampuh yang diyakini dan senantiasa diupayakan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup dan menjadi berarti bagi makhluk lainnya.
Berangkat dari kesadaran semacam itulah, Bimbingan Rohani (Binroh) PT. Telkom Bali dibentuk. Berkiprah dan mencoba memberi arti bagi eksistensinya dari masa ke masa. ‘’Ini sesuai dengan program institusi bahwa aryawan Telkom harus seimbang dalam hal iman, budaya, dan olah raga,’’ sebut Anak Agung Ngurah Bagus Segara, Manager Customer Care Telkom Bali yang dipercaya menjadi Ketua Binroh Hindu sekaligus Suka Duka Telkom Bali.
Peningkatan iman dan budaya dilakukan melalui Binroh, sedangkan bidang olahraga diwadahi dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali.
Dalam pandangan lelaki kelahiran Pemedilan, Denpasar, 25 Agustus 1965 itu, Binroh ada sejatinya untuk menjawab segala perkembangan dan tantangan hidup yang kian kompleks, sehingga memerlukan ketahanan mental spiritual. Salah satu jalannya melalui kegiatan keagamaan.
Binroh yang merupakan program kedinasan dari Telkom pusat untuk mendukung bisnisnya, telah terbangun sejak lama dan ada di semua kantor PT Telkom seluruh Indonesia. Binroh Hindu pusat ada di Telkom Bandung yang dikomandani I Made Nasa. Ikatan Suka Duka sebagai sesuatu yang khas Bali terbentuk sebelum tahun 2000.
Saat ini, program Binroh Telkom Bali yang saat ini berjumlah 420 orang, sudah melakukan berbagai kegiatan, mulai dari sembahyang rutin, kegiatan agama, dan kegiatan budaya. Dalam menumbuhkan rasa memiliki di kalangan anggota Binroh, penyiapan upacara keagamaan dilakukan bersama dan diwarnai dengan kegaiatan ngayah di pura.
Binroh Hindu Telkom Bali mempunyai agenda rutin internal Binroh yang skalanya cukup besar, yaitu kegiatan Utsawa Dharma Gita. Tahun 2008 dilaksanakan 2-4 Juli lalu di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon. Utsawa Dharma Gita khusus keluarga besar PT Telkom yang dilaksanakan tiap 4 tahun sekali, untuk tahun ini merupakan ketiga kalinya.
Sebelumnya, Utsawa Dharma Gita juga berlangsung di Bali. Karyawan PT.Telkom dari seluruh Indonesia datang ke Bali mengikuti kegiatan ini. ‘’Utsawa Dharma Gita bertujuan meningkatkan keimanan dan mendukung budaya atau kesenian. Memang tidak ada hubungannya dengan pelaksanaan Utsawa Dharma Gita Nasional. Namun pemenang Utsawa Dharma Gita Telkom ini bisa juga nantinya mengikuti Utsawa Dharma Gita Nasional,’’ papar Ngurah Segara.
Selain itu Binroh juga memiliki program Tirtayatra yang rutin dilakukan. Selama ini Tirtayatra masih dilaksanakan di pura-pura atau kawasan suci di Bali, dan ada rencana melakukan Tirtayatra ke luar Bali.
Satu kesadaran yang digulirkan, Binroh bukan hanya berkutat dalam urusan ritual, seremonial, keagamaan, dan sesuatu yang bersifat riuh, suka ria, juga harus senantiasa peduli kepada kaum yang memiliki keterbatasan. Sebuah cara berbagi kepada masyarakat.
Kepedulian itu diwujudkan Binroh Telkom Bali saat pelaksanaan Utsawa Dharma Gita yaitu bertajuk “Telkom Peduli”. Ketika itu pihak Binroh Telkom memberikan bantuan dana untuk pura dan masyarakat miskin terutama dalam hal kesehatan. Bukan hanya program tersebut, ada juga program Corporate Social Responsibility (CSR) yang merupakan program rutin PT.Telkom. Program CSR itu misalnya memberikan bantuan beasiswa pendidikan. Untuk mendapatkan bantuan tersebut, pihak yang memerlukannya perlu mengajukan proposal agar pihak PT.Telkom bisa mengecek kelayakan yang bersangkutan untuk mendapat bantuan. Hingga saat ini lebih dari 20 orang dari seluruh Bali telah memperoleh dana beasiswa pendidikan tersebut.
Dalam melaksanakan program yang telah disusun, Binroh Hindu Telkom Bali senantiasa berkomunikasi dengan Binroh Hindu lain, baik di pusat maupun di kantor cabang di seluruh Bali. Komunikasi berlangsung dengan baik. Untuk mempererat persatuan dan melaksanakan visi misi bersama, dilakukan rapat-rapat rutin. Apalagi kalau ada piodalan, biasanya komunikasi semakin intensif dan anggota bekerjasama menyiapkan piodalan tersebut. Begitupun dalam berkomunikasi dengan Binroh agama lainnya, juga terlaksana dengan baik. Hubungan Binroh Hindu dengan Binroh agama lain berjalan harmonis, saling membantu dan menghargai.
Namun layaknya sebuah jalinan yang terus berkembang dan berubah, Binroh Hindu Telkom Bali juga menghadapi sedikit kendala. Tidak jauh berbeda dengan masalah yang umumnya terjadi pada kelompok lain, yaitu tingkat kehadiran anggota. Kadang ada anggota yang jarang datang mengikuti program yang telah direncanakan. Namun begitu, secara umum menurut Ngurah Segara, partisipasi anggota cukup tinggi untuk mengikuti aktivitas Binroh tersebut. ‘’Ya, kalau memang ada halangan tidak apa-apa, jangan sampai tidak mengikuti kegiatan karena malas,’’ujarnya mengingatkan.
Aktivitas Binroh Hindu Telkom di kantor cabang juga berlangsung cukup baik. Seperti penuturan Ketua Binroh Telkom Gianyar, Ida Bagus Arnawa, bahwa anggota Binroh yang berjumlah sekitar 26 orang rajin melaksanakan persembahyangan bersama di kantor. Termasuk pada saat Purnama, Tilem, dan piodalan di pura. Sebulan sekali orang-orang yang menyatu di wadah ini juga melaksanakan arisan dan olahraga yang makin menguatkan persaudaraan di antara mereka. “Untuk Tirtayatra maupun pasraman, belum pernah dilakukan karena banyaknya kesibukan tugas. Namun hal tersebut tidak mengurangi makna kebersamaan mereka dalam wadah Binroh. ‘’Selama ini kami tidak mengalami kendala, lancar-lancar saja. Partisipasi anggota cukup baik,’’ sebut Arnawa. Bahkan, dalam mengimbangi kegiatan keagamaan, dilaksanakan kegiatan sosial, bekerjasama dengan pihak Telkom Denpasar, seperti membuat sanggar telematika untuk masyarakat sehingga masyarakat tersebut juga memiliki pengetahuan mengenai informasi teknologi (IT).
Ni Luh Arie Sri Lestari
Mengelokkan ‘Pura’ dalam Diri
Potensi spiritual dalam masing-masing pribadi harus senantiasa dirawat, diberdayakan dan dikembangkan sebesar-besarnya untuk kehidupan, semesta tanpa batas ini. Karena itu Binroh Telkom Bali tidak ingin melulu terjebak dalam rutinitas kegiatan keagamaan. Anak Agung Ngurah Bagus Segara menegaskan, yang terpenting membaguskan ‘pura’ yang dimiliki dan bersemayam dalam hati masing-masing. Artinya, kecerdasan rohani juga perlu diperhatikan dan ditumbuhkan, bukan hanya membersihkan pura yang berwujud secara fisik. Caranya, sejak anak-anak sampai dewasa harus selalu ada penjernihan dan penghalusan jiwa. Tradisi yang ada jangan dilupakan. Karena itu anak-anak anggota Binroh sejak dini diajarkan untuk membuat banten-banten dasar. Meskipun belum terorganisir dalam kegiatan semacam pasraman, namun muatan-muatan semacam itu tetap diperhatikan dan diakomodasi secara baik. Tujuannya bukan hanya untuk kepentingan institusi, makna yang lebih besar demi pertumbuhan generasi muda Hindu yang cerdas dan memiliki keunggulan kompetitif. Soal yang satu ini, Ngurah Segara mencontohkan pola pendidikan kepada anak-anak dalam tradisi agama lain. Karena polanya jelas dan terarah, mereka punya kompetensi dasar sehingga mampu bersaing dengan manusia lainnya di era global ini.
Dalam cermat Manager Customer Care Telkom Bali ini, kualitas SDM Hindu perlu mendapat perhatian serius. ‘’Saya ingin membuat program-program yang bisa meningkatkan kompetensi generasi muda Hindu sehingga mereka terbiasa menjadi pemimpin, setidaknya anak-anak itu bisa memimpin persembahyangan di keluarganya,’’ ujar lelaki yang menjadi Ketua Binroh Telkom Bali sejak April 2008 ini.
Di era industri kreatif saat ini, manusia harus kuat secara spiritual. Ada tiga pilar penting yang menyangga industri kreatif tersebut yaitu spiritual, teknologi, dan kreativitas. Sesuatu yang kreatif berbasis teknologi jangan sampai dipakai untuk hal-hal negatif, maka perlu kecerdasan spiritual sebagai pengimbangnya. Ngurah Segara kemudian memberi contoh kreativitas manusia menciptakan HP (handphone) yang dilengkapi kamera. Perkembangan teknologi itu sayangnya justru banyak dipergunakan untuk membuat dan menyebarkan sesuatu yang tak elok, misalnya foto atau rekaman gambar porno. Belum lagi situs-situs internet yang leluasa diakses tanpa filter. Anak-anak adalah sasaran empuk perkembangan teknologi kreatif yang kurang mendasarkan diri pada kesadaran spiritual semacam ini. ‘’Karena itu sebagai wujud kepedulian meminimalkan implikasi negatif internet, kami juga mengembangkan teknologi kreatif, menyediakan paket layanan akses komunitas pada jam-jam tertentu dan telah difilter,’’ bebernya.
Tanggung jawab sosial kepada masyarakat, itu kata kuncinya. Bagaimanapun, setiap individu berkontribusi penting untuk penciptaan tatanan masyarakat yang lebih indah. Sehingga mampu mewujudkan dunia yang lebih baik. Semesta nan penuh energi spiritual yang mampu menggetarkan dan memijarkan setiap kesadaran murni bagi semua pencinta kehidupan.LS
|