No. 100/ Tahun IX Agustus 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
KALANGAN

Jalan Tengah Teater Modern Bali
Teater modern Bali masih menggeliat.  Persoalan-persoalan yang ditampilkan pun masih tetap sama: antara tradisi dan modernitas. Kompromi diambil dan hasilnya cukup menjanjikan.

Lepas perhelatan besar teater mahasiswa yang dilaksanakan di Bali di awal tahun 2000-an, teater modern Bali seakan meredup. Aktivitas kesenian berganti dengan kegiatan musikalisasi puisi atau pun  pentas monolog. Namun aktivitas teater masih menarik minat kaum muda belia. Atas dorongan ’anak-anak baru’ inilah aktivis teater Hendra Utay tergerak mengadaptasi legenda Jayaprana-Layonsari, sekaligus bertindak sebagai sutradara, dalam satu pentas teater modern yang bertajuk ’Lakon di Layon: Memoriam of Mantram’
Lakon ini dipentaskan pada acara ’Lesehan Budaya’ di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, 20 Juli 2008.
Panggung pementasan yang terletak di depan gedung Prof. Dr. Ngurah Bagus ditata begitu sederhana, yaitu gelaran berupa kain hitam pekat, dengan pencahayaan yang begitu minim. Belum lagi sound system yang terkesan apa adanya.
”Saya cuma ingin mengikuti kemauan anak-anak muda itu,” ujar sang sutradara sembari menunjuk para aktor yang bermain dalam naskah teaternya. Jadi, tidak ada hal-hal yang sifatnya khusus atau ideologi tertentu — entah itu realis atau pun absurd. Karena, ”Kami tidak hanya berteater, tetapi juga mencari uang sendiri”, sambung pria berperawakan sedang ini. Ia juga menampik pertanyaan mengapa legenda Jayaprana-Layonsari yang dijadikan pilihan. ”Ini kebetulan murni,” imbuhnya kalem.
Lebih detail disebutkan, para mahasiswa yang terlibat dalam naskah adaptasinya ini baru memasuki dunia teater. ”Mereka kepingin tahu soal olah vokal, gerak tubuh dan sebagainya. Dalam rangka ini saya lalu membuat naskah,” rincinya.
Naskah ini juga dibuat untuk menghidupkan kembali semangat berteater di era wal tahun 2000-an itu — saat Bali menjadi tuan rumah Festival Teater Mahasiswa Seluruh Indonesia. ”Suasana itu yang ingin dibangkitkan kembali” ujar pria beramput gondrong itu ramah. Lalu, jalan tengah pun diambil: naskah yang ditulisnya mengandung unsur realis maupun absurd, bahkan mistis. Semacam jalan tengah dalam berteater.
Kisah Jayaprana-Layonsari sendiri dikenal masyarakat Bali dalam bentuk gaguritan yang ditulis pendeta beraliran Siwa di era abad ke-18. Bisa dikatakan sang pendeta mengadopsi cerita yang sedang beredar di kalangan masyarakat pada saat itu. Sebab, pada masa itu pula, masyarakat menyakini cerita Jayaprana-Layonsari termasuk dalam ruang-waktu. Padahal tidak — termasuk kuburan Jayaprana.
Gaguritan itu berkisah tentang kesetiaan seorang prajurit pada sang raja. Sang Raja mempergunakan kesetiaan abdinya ini untuk kepentingan diri sendiri. Raja memerintahkan Jayaparana ke garis depan guna menghalau musuh fiktif. Sementara sang raja mengawini Layonsari. Ceritera ini berakhir tragis.
Di tangan sang sutradara, adaptasi ceritera Jayaprana-Layonsari dibuat realis sekaligus absurd. Dikatakan realis karena dari sisi konstum sosok Jayaprana ditampilkan begitu gokil, tubuh kurus, telanjang dada dengan celana dalam yang terlihat jelas. Khas anak gaul model MTV. Lagi pula ceritera yang diambil pun berkisar isu-isu aktual: pemilihan gubernur Bali dan kasus kuropsi ratu lobi Artalyta Suryani.
Disebut absurd, karena Utay menulis lakon ini dalam dua dunia, yaitu dunia saat Jayaprana mau dibunuh oleh Sawunggaling—merujuk pada legenda—dan dunia nyata. Utay mencampurkan masa lalu dan kini dalam satu momen. Lagi pula, ke mana arah naskah ini belumlah begitu jelas, kecuali ’untuk memnuhi permintaan anak-anak muda saja’. Justru di sinilah kekuatan naskah Lakon ’Di Layon: Memoriam of Mantram’, yaitu ketiadaan batas yang jelas masa lalu dengan masa kini, yang hanya dihubungkan dengan kabut mistis. Absurd.
Sinopsis naskah itu berceritera tentang reinkarnasi Jayaprana pada kehidupan kontemporer. Jayaprana dalam kehidupan kontemporer bukan lagi sebagai patih tetapi sebagai kadindat gubernur dari suatu propinsi antahbrantah yang ‘sudah mencapai suara pemilih 75%’ dalam pemilihan kepala daerah (pilkada). “Semua sudah dilakukan oleh tim sukses. Kini, saya tinggal ongkang-ongkah”, kata sang reinkarnasi Jayaprana yang kini bernama Jack.
Tetapi, pasangan hidup Jayaprana, Layonsari terhentak karena mau menyan dan lengkingan suara menakutkan, dan ia pun menyadari diri sebagai Layonsari, bukan  sebagai istri calon gubernur. Setelah mengidentifikasi sebagai Layonsari, ia pun berusaha menyadarkan sang suami bahwa dirinya adalah Jayaprana. Tentu saja Jack alias Jayaprana tidak percaya dan menuduh sang istri kesurupan. Sampai akhirnya bau kemeyan dan lengkingan suara kembali muncul menusuk-nusuk telingga sang calon Gubernur.
Jack tak sadarkan diri dan dalam hitungan detik ia kembali sadar dengan menyadari diri sebagai Jayaprana, patih yang dibunuh oleh pengawalnya sendiri (Sawunggaling) atas perintah sang raja. Jayaprana semakin percaya setelah sang istri menunjukan keris yang digunakan untuk membunuhnya.
Lalu kemudian datang Wijil, pria berdasi yang berperan sebagai ketua tim sukses pemilihan gubernur. Di mata Jayaprana-Layonsari, Wijil merupakan reinkarnasi pengawalnya, yaitu Sawunggaling. Kemudian, setengah mati Wijil berargumentasi bahwa dia adalah Wijil, Ketua tim sukses Jack sang calon Gubernur. Wijil bukan Sawunggaling. “Ya…! Kamu memang Jayaprana dan saya Gajah Mada….!!”, kata Wijil sengit.
Lalu, Wijil pun — seperti tokoh Antonio dalam tragedi Shakespheare berjudul Julius Caesar —   berpidato. Hanya saja Wijil selain berpidato seperti politikus, juga berpidato layaknya presentasi dalam seminar multi lavel marketing (MLM).
Upaya Wijil gagal menyakinkan pasangan Jayaprana-Layonsari sebagai calon gubernur. Sampai akhirnya datang tokoh si Brewok yang diidentifikasi sebagai reinkarnasi Sawunggaling, yang dengan senjata laras panjang mengaku sebagai utusan gubernur yang sedang menjabat. Ia menembak Jayaprana.
Layar ditutup. Lalu terdengar teriakan Sawunggaling alias Wijil yang berisi peringatan: “Tuanku Raja mau membunuh Tuanku…!!!”.
Layar dibuka dan tubuh Jayaprana terkulai dengan keris di dada.
Tentu, kekuatan naskah akan menjadi tumpul bila ditunjang hal-hal teknis, terutama kemampuan akting para aktor dan ritme pengadegan.
Utay memulai adegan dengan keluh kesah Layonsari (Novi Dwiyanti) yang rasanya menghabiskan waktu terlalu banyak, yaitu 5 menit dari 40 menit durasi keseluruhan pentas. Karakterisasi Layonsari yang mengiba-iba dan interpretasi karakter Jayaprana (Eko Widiastomo) yang temperamental, menunjukan betapa susahnya melakukan interpretasi yang sifatnya non-konvensional. Eksplorasi mendalam ini yang kurang dimaksimalkan pada aktor-aktor yang terlibat pada proyek jalan tengah teater Bali.
Begitu juga peran Wijil (Moch Satrio Welang) yang dalam naskah mengharuskan ia berpidato. Ini sebenarnya momen bagus untuk mencuri perhatian penonton. Sayang,  momen ini tidak dipergunakan dengan baik. Sangat kelihatan Wijil hanya berteriak-teriak, seolah-seolah latihan mengolah vokal. Padahal olah vokal pun sebenarnya tidak. Sayang naskah yang berisi dinamika pidato persuasif politikus dan presenter multi level marketing pun gagal ditampilkan.
Demikian pula dengan Brewok sang reinkarnasi Sawunggaling diperankan aktor senior di kalangan teater mahasiswa Raditya Pandet, pun gagal ditampilkan. Walau secara fisik Pandet memenuhi syarat berperan sebagai pembunuh, namun ekspresi wajahnya kurang dingin. Ia terlalu banyak mengucapkan kalimat ‘bersiap-siaplah’ tanpa tekanan apapun.
Alhasil, secara keseluruhan pentas ini berhasil mengundang imajinasi penonton untuk kembali ke wilayah historis yang membentuk dunia bawah sadarnya, kepada legenda Jayaprana-Layonsari untuk kemudian merekonstruksi ulang legenda itu dalam kehidupan sehari-hari. Atau dalam rumusan yang lebih sederhana: pentas ini telah memberi inspirasi bagi pendukung kebudayaan Bali untuk — dalam bahasa posmodernisme — dekonstruksi dan menyusun kembali pada imajinasi pada masing-masing kepala orang Bali.
Ini juga merupakan langkah awal yang menjanjikan untuk — sekali lagi —mendekonstruksi pandangan pemikir post-kolonialis yang menyebutkan bahwa eksotika masyarakat Bali dibentuk oleh kaum kolonialis sehingga upaya perubahan masyarakat menjadi bahasa yang ‘terlarang’. begitu eksotiknya Bali menjadikan masyarakat Bali dibuat oleh struktur tertentu untuk takut mengadakan perubahan — termasuk menginterpretasi ulang legenda-legenda hidup, seperti Jayaprana-Layonsari atau cerita rakyat yang lain. Jayakumara