No. 100/ Tahun IX Agustus 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Kelir
Kalangan
Parinama
Orta
Sasih
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca


   
WIRASA

Pesan pada Pemimpin Bali yang Baru
Perhelatan demokrasi dalam bentuk pemilihan Gubernur Bali periode 2008 – 2013 usai sudah. Dan, pasangan Cagub – Cawagub Made Mangku Pastika berduet dengan Anak Agung Puspayoga yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mampu membuktikan diri sebagai yang terbaik. Berhak menyandang predikat sebagai pemenang dalam Pemilihan Gubernur kali ini.
Terlepas dari siapa yang berhak menjadi Gubernur Bali dalam kurun waktu lima tahun mendatang, yang patut dicermati, pemimpin ini mestilah sekuat tenaga berupaya menjadikan Bali menuju kemajuan dibandingkan dengan sekarang. Kemajuan dimaksud tentu bukan hanya satu sektor, melainkan banyak sektor. Dari ekonomi, sosial, budaya, keamanan, dan lainnya.
Memang terasa berat bagi pemimpin untuk mewujudkan keinginan tersebut. Apalagi waktunya hanya lima tahun. Namun, semua itu haruslah dilakukan demi pembangunan dan kemajuan Bali, dan sudah tentu mewujudkan janji yang sempat terucap mantap sebelum berhak menyandang posisi sebagai orang nomor satu di Pemerintahan Bali ini.
I Gusti Ngurah Darsana
Kintamani, Bangli

Jondra atau Jendra
Terbitan SARAD edisi 99, Juli 2008, pada kolom Orta ada memuat berita berjudul “Sekte Sampradaya dan Desa Pakraman”. Berita ini mengabarkan tentang kegiatan seminar menyangkut sampradaya yang berlangsung di lingkungan Universitas udayana (Unud) Denpasar. Dalam berita itu juga memuat orang yang hadir di antaranya I Gusti Ngurah Sudiana dari Parisada Bali dan tokoh senior sampradaya I Wayan Jondra. Saya agak terkejut dengan penyebutan I Wayan Jondra sebagai tokoh sampradaya. Padahal setahu saya tokoh sampradaya itu Prof. Wayan Jendra. Jadi mana yang benar?
Nyoman Adi Wirawan
Jalan Raya Sesetan Denpasar

Dalam rubrik Orta Majalah SARAD No 99, Juli 2008, yang memuat tentang “Sekte Sampradaya dan Desa Pakraman” memang ada kesalahan penulisan nama okoh sampradaya yang sebenarnya Wayan Jendra ditulis Wayan Jondra. Lewat tulisan ini SARAD menyampaikan ralat atas kesalahan penulisan nama tokoh sampradaya tersebut.
Terimakasih-Redaksi

Mari Bersama Menjaga Besakih
Komentar di media masa banyak yang mempertanyakan peran Pemprop Bali, Pemkab Karangasem, dalam mengelola Besakih. Dari urusan lampu di sekitar pura yang padam sampai semaraknya pasar senggol. Namun menurut saya, tidak ada yang lebih tepat jika mempercayakan sepenuhnya pengelolaan seluruh kegiatan di Ibu dari seluruh pura di Bali tersebut kepada Desa Pakeraman Besakih. Merekalah yang paling dekat, Besakih juga menjadi bagian dari wewidangan desa pakraman tersebut. Dan warga yang ada di Desa Pakraman Besakih pun harus terus tumbuh kesadarannya akan begitu penting pura ini di mata umat Hindu.
Tentu tidak adil jika hanya mengandalkan warga di Desa pakraman Besakih untuk menjaga keberlangsungan dari pura terbesar di Bali ini. Kita semua sebagai warga Hindu, lebih-lebih yang ada bediam di Bali, harus pula ikut memelihara, menjaga pura dari ibu semua pura yang tersebar di Bali ini.  Dan, itu sesungguhnya bisa kita mulai dari berbagai sudut. Misalkan ikut menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan saat tangkil ke pura ini.
Memelihara kebersihan tentulah baru satu cara menjaga kelestarian Pura Besakih. Semua orang yang terlibat wajib menjaga kesucian pura agar tak cemer oleh hal-hal yang terlalu komersial, leteh.
Pendapat yang mengusulkan agar semua orang (tanpa kecuali) yang terlibat baik langsung ataupun tidak langsung dalam pelaksanaan karya di Besakih, harus menggunakan pakaian adat Bali, bagi saya sesuatu yang rasional dan masuk akal. Lewat cara-cara seperti itulah kita sejatinya dapat menjaga agar semua tindak-tanduk kita di sekitar pura dapat menyesuaikan diri dengan suasana ritual.
Sebagai salah satu ikon pariwisata Bali, Besakih memang selalu dipromosikan menjadi obyek andalan. Hanya, terkadang ada tindakan-tindakan yang dialkukan orang-orang tertentu yang dapat mencoreng nama baik Besakih itu sendiri. Sebut misalkan adanya pungutan liar oleh oknum petugas, buruknya prilaku pemandu wisata lokal, sampai eksploitasi mandala utama untuk mendapatkan dollar.
Desakan kebutuhan hidup memang kadang-kadang menjadikan peristiwa-peristiwa di atas menjadi cukup rasional di tengah himpitan kenaikan harga. Namun jangan salah pula, tindakan-tindakan seperti itu justru akan membuat Pura Besakih dan pariwisata Bali pada umumnya akan mendapat predikat sedikit miring di mata wisatawan. Artinya, saya melihat perlu dilakukan pembinaan sumber daya manusia, pembangunan kesadaran akan pentingnya menjaga kesucian Besakih. Hanya dengan jalan itulah kesadaran akan terbangun sehingga kepentingan ekonomi tak terus-menerus menindih kepentingan spiritual, dan sudah tentu membuat Besakih semakin terjaga, semakin diminati wisatawan, dan selalu dirindukan umat Hindu pun umat lainnya. Semoga.
I Gede Galung Prayitna
Lingkungan Banjar Palekan, Batubulan, Gianyar

Mangku Pastika – Puspayoga (1)
Selamat kepada pasangan Pastika-Puspayoga yang telah memenangkan pilkada. Saya harap bisa memimpin Bali ke depan lebih baik. Jangan lupa akan janji-janji saat kampanye, janji harus ditepati. Jangan buat masyarakat yang telah memilih anda, merasa  kecewa karena telah memilih anda. Keamanan Bali harus diperhatikan, karena ini modal untuk meningkatkan pariwisata yang menjadi andalan masyarakat Bali. Begitu juga budaya&tanah Bali harus dijaga&dipertahankan, ini asset kita bersama, tidak boleh diganggu gugat. Mari kita dukung bersama program beliau, demi menjadikan Bali yang Mandara. Ingat Bali Mandara adalah sebuah janji yang harus direalisasikan, bukan hanya sebuah konsep yang manis saja.
Ni Wayan Windi
Jimbaran

Mangku Pastika – Puspayoga (2)
Selamat dan salut kepada masyarakat Bali yang telah melaksanakan pilkada dengan aman dan damai. Inilah kemenangan terbesar kita, yaitu terciptanya suasana aman dan damai pada saat ataupun setelah pemilihan. Karena, banyak masyarakat yang ketakutan akan terjadi masalah setelah pemilihan, seperti yang terjadi di daerah lain. Mudah-mudahan suasana damai seperti ini tetap berkelanjutan di bawah pemimpin yang baru. Kepada kandidat yang tidak terpilih agar benar-benar iklas dan menerima hasil ini. Dan, mari kita bersama-sama saling mendukung demi kesejahteraan rakyat Bali, kemenangan ini adalah kemenangan kita semua.
Saya berharap Bapak Mangku dan Bapak Puspayoga juga dapat meringankan biaya pendidikan di Bali. Karena biaya pendidikan sangat mahal, ini sangat terasa setiap pergantian tahun ajaran baru, seperti sekarang. Apalagi sekarang di Bali sekolah-sekolah baru menjamur, banyak sekali pilihan sekolah tapi tidak ada sekolah yang murah.
Ngurah Aryawan
Sanglah, Denpasar

Jaga Bali agar Kondusif
Kemenangan Mangku Pastika – Puspayoga, belakangan mulai diusik kandidat gubernur Bali 2008 yang kalah suara. Alasan yang dipersoalkan adalah status aktif Mangku Pastika di Polri. Bagi saya masyarakat kecil jadi terheran-heran, kenapa baru sekarang diletup-letupkan persoalan itu, bukannya dulu dibahas lebih gencar sehingga proses pencalonan bisa berjalan sesuai aturan. Siapa dan di mana kesalahannya?
Bagi saya dan kita semuanya di Bali tentu tak ingin ada sesuatu terjadi pada pemilihan gubernur ini. Sepatutnya semua mesti berpikir dan kembalikan ke dalam diri. Pemenang jangan terlalu bertepuk dada dan yang kalah haruslah bersifat legawa. Jika itu dilakukan, niscaya keamanan, kenyamanan, dan kedamaian di Bali akan terpelihara sesuai yang didengung-dengungkan dan diharapkan semua kandidat calon Gubernur Bali 2008. Mari jaga Bali agar suasananya tetap terjaga dan kondusif.   
Eka Riantini
Gianyar

Dibalik Perayaan Galungan di Kraton Surakarta
Perayaan Galungan di Kraton Surakarta sudah cukup lama, sekitar 35 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 Juli 1973. Hal ini saya sampaikan tiaa lain untuk menghormati para penggagas dan peserta yang kini sudah sebagian besar kembali ke alam kelanggengan. Tujuan utama perayaan itu tidak banyak yang memahami. Sepintas seperti ada tujuan pamer. Kalau orang paham situasi saat itu tentu akan berpikir lebih serius. Bali saat itu dipimpin oleh seorang gubernur bukan putra daerah, lagi pula seorang dari kalangan militer, karena kondisi Bali dalam fase pemulihan dari krisis. Bali membutuhkan seorang gubernur sipil putra daerah dilihat dari kepentingan pariwisata internasional, sebagai bukti Bali itu aman. Untuk memudahkan negosiasi ke pemerintah pusat dipandang perlu melalui jalur Jawa Tengah, mengingat kepemimpinan daerah pusat berasal umumnya Dari Jawa Tengah. Digunakanlah figur Kraton Surakarta sebagai ranah pendekatan. Dan kebetulan mantan ketua PHDI Jawa Tengah adalah kerabat Kraton Surakarta. Untuk penyelenggaraan acara upacara ada dua panitia, satu dari kraton dan satu lagi dari Bali. Kepanitiaan dari Bali didukung tiga bupati di Bali, yaitu Bupati Buleleng, Badung dan Tabanan dengan koordinator bupati Tabanan waktu itu. Acara kesenian Bali lengkap dengan penari, penabuh dan gamelan disumbang oleh masyarakat desa Sudimara Tabanan. Rombongan dari Bali menyampaikan pidato sambutan yang berjudul: “Dalam rangka kembali kepada kepribadian nasional seyogyanya kita menggunakan tahun Saka sebagai tahun nasional kita” dilengkapi argumentasi yang mendukung pidato tersebut. Bila seseorang dengan cermat menelusuri peristiwa ini sekaligus menelaah isi pidato itu pasti akan mudah mengetahui siapa sebenarnya yang berdiri sebagai arsitek. Yang jelas peristiwa ini direspon secara positif oleh pemerintah pusat. Hanya masalah waktu, kapan waktunya yang tepat bagi Bali memperoleh gubernur putra daerah dan untuk sementara berjalan seperti yang kita lihat. Rupanya pengaruh pidato itu terasa kemudian, dimana tahun fiskal berubah, yaitu berakhir pada 31 Maret, bukan lagi 31 Desember. Muncul UU perkawinan tahun 1974 (bukan UU Pernikahan) yang menimbulkan kontroversi, tetapi tetap berlaku. Diakuinya tahun baru Saka sebagai hari libur nasional. Dan setelah dipersiapkan secara cermat barulah pada tahun 1978 seorang gubernur Bali putra daerah yang sipil diangkat, yaitu Prof. Dr Ida Bagus Mantra MPH, sekaligus mempersiapkan karya Ekadasa Rudra pada tanggal 28 Maret 1979. Hal ini agak aneh karena karya Ekadasa Rudra yang pertama tahun 1963 bersamaan dengan meletusnya Gunung Agung yang memuntahkan material pembangunan berupa batu dan pasir, dan 16 tahun kemudian awal pembangunan fisik lainnya di bawah kendali Gubernur Bali yang Bali. Meskipun kedua karya itu tidak berjarak 100 tahun tetapi hakekat perubahan yang ditimbulkannya bagi Bali benar signifikan. Ternyata waktu yang tepat untuk menunjuk gubernur Bali itu sesuai dengan janji Kyai Agung Sabdopalon, yaitu 500 tahun setelah runtuhnya kerajaan Majapahit.  
Dr. I Dewa Ketut Wisnu Putra
Pensiunan Depkes Bali dan panitia perayaan Galungan di Surakarta
Br. Sembung Kumpi, Kerambitan, Tabanan
.