Edisi No. 106/ Tahun X Februari 2009
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Jendela/Daftar Isi
Adat
Paruman/Sajian Utama
Lipsus
Seni
Figur
Glosari
Inspirasi
Kelir
Kesehatan
Kerabat Kita
Nyama Braya
Paras-Paros
Peristiwa
Pintu Hati
Pustaka
Sambung Rasa
Sasih
Susila
Tatwa
Laras


   
FIGUR
hal 1 | hal 2

Perhatian Mendalam terhadap yang Kecil

Dari ranah individu dan lokal Ida Ayu Agung Mas memperluas perjuangan pergerakan membela kepentingan rakyat kecil ke ranah publik dengan mempengaruhi kebijakan, langsung di jantung Republik.

Small is beautiful. Filosofi hidup penuh kedalaman makna itulah yang tetap setia dianut dan senantiasa diperjuangkan Ida Ayu Agung Mas. “Saya tetap memasukkan pola pikir gerakan mempengaruhi mainstream yang suka berpikir besar supaya kembali ke filosofi small is beautiful. Ini pada prinsipnya memberi kesempatan bagi yang kecil bangkit, berkontribusi bagi kehidupan bersama yang lebih baik,” papar anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2004-2009 asal Bali ini.
Sejak bocah, nurani terdalam Dayu Mas—begitu dia akrab disapa—memang mudah tersentuh oleh kehidupan nyata rakyat kecil. Tak heran bila sepulang dari studi di Jerman pertengahan dasawarsa 1980-an, dengan ketetapan hati mantap dia melangkah merintis usaha kepariwisataan yang mengusung nilai dasar kehidupan ‘kecil itu indah’, elok, lewat bendera Sua Bali.
Sua Bali inilah laboratorium sekaligus monumen hidup putri sulung pasangan Dokter Ida Bagus Oka dengan Ida Ayu Bintang ini. Di sini ia menerapkan pola pariwisata inti rakyat (PIR) dengan memberikan pembelajaran bagi generasi-generasi baru Bali agar mengarusutamakan pola hidup bersih, sehat, kesederajatan, dan profesionalitas: melayani semua sama dan setara, tanpa membeda-bedakan. Lebih daripada itu adalah melatih para generasi baru Bali dari kalangan rakyat kecil ini supaya mampu dan berani bersuara dan menyuarakan sendiri isi hatinya, mengemukakan pendapat dan penilaiannya sendiri.
Semua ini tentu proses pembelajaran baru dan mendasar yang tidak mudah di tengah-tengah tradisi sepuh yang sangat membeda-bedakan kelas, asal-usul, dalam bungkus politis-halus sor-singgih, anggah-ungguh, tata titi, dan semacamnya. Hanya ketatapan hati, tekad kuat, dan kesabaran sang ibu tulen-lah yang menjadikan proses pembelajaran itu membuahkan hasil elok. Ada kurang lebih 250-an anak-anak muda Bali, putra-putri, dari berbagai pelapisan sosial-tradisonal yang lolos dari tempaan Dayu Mas. “Mereka kini tersebar di sektor pemerintahan maupun swasta,” kenang ibu berputra tunggal ini.
Lewat pola PIR model Sua Bali, tradisi dan budaya klasik Bali memang tak hanya dihadirkan dalam kemasan baru tapi juga dihidupi dan dihidupkan sehingga menjadi lebih segar, mengalir lentur dalam arus zaman. Di titik ini PIR menempatkan krama Bali dan wadah desa pakraman sebagai bagian utuh, integral, dalam denyut kepariwisataan. “Bali jelas memerlukan proteksi kultural karena aset utamanya adalah kultur,” paparnya.
Untuk itulah maka setiap tetamu yang menginap di Sua Bali otomatis dikenakan biaya pemulihan dan pemeliharaan tradisi, budaya, serta lingkungan dalam arti menyeluruh—lingkungan fisik, alam, masyarakat sekitar. Dengan begitu, lewat Sua Bali sosok Dayu Mas sejatinyalah telah mempraktikkan nyata tanggung jawab sosial-ekologis perusahaan nun jauh sebelum orang-orang di Tanah Air kini riuh dengan gagasan corporate social responsibility (CSR).
Atas kecemerlangan gagasan dan laku nyatanya itulah tahun 1995, Dayu Mas dianugerahi penghargaan internasional To Do Award 1995 oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jerman. Seiring dengan itu mengalirlah pengakuan-pengakuan lain dalam wujud berbagai penghargaan dari kalangan internasional maupun nasional terhadap keoriginalan gagasan Dayu Mas lewat Sua Bali-nya. Belakangan, televisi Jerman dan Jepang malah mendokumentasikan konsep dan langkah-langkah nyata Dayu Mas itu lewat media pandang-dengar bertajuk The Real Paradise on Earth.
Dalam program berdurasi 24 menit yang ditayangkan sebagai inspirasi dunia itu ditunjukkan, bagaimana Dayu Mas memberi energi dan kemasan baru ciri kelokalan Bali yang kental itu sehingga akrab dicerna oleh orang-orang dari belahan dunia mana pun. Energi dan kemasan baru itu sanggup meretas sekat-sekat jarak perbedaan etnis, kebangsaan, kewarganegaraan, agama, kelas sosial, profesi, pendidikan, warna kulit, dan seterusnya hingga menjadi cair, lentur. Di titik itu, Bali dengan budayanya itu pun bermalih rupa menjadi keuniversalan yang mempertautkan, mempersatukan insan-insan manusia dengan aneka keragamannya masing-masing di atas satu meja makan, di dalam satu bangunan beratap ilalang, bertembok batu-bata merah dengan pulasan serba minimalis.
Sarjana sastra Jerman ini dapat merajut, menjembatani itu semua karena dia menghadirkan Bali dalam usaha Sua Bali tidak sebatas dari kulit, sebagai pernak-pernik cindera mata, melainkan menyelam dalam di kedalaman spirit. Dia menyentuh langsung nilai-nilai dasar kearifan kehidupan, mulai dari kebersihan, kesehatan, hingga kelestarian lingkungan dengan penyadaran dan pencerdasan masyarakat. “Ekotorisme, sampah, dan manusia itu merupakan satu kesatuan dalam turisme,” tegas Dayu Mas berulang-ulang.
Bagi Dayu Mas, kepariwisataan di Bali memerlukan sentuhan kejujuran dan kesungguhan kerja. Dua pilar itulah—kejujuran dan kesungguhan kerja—yang tiada henti diupayakannya dari tahun ke tahun, dari satu bidang kerja ke bidang kehidupan lain. Usai berusaha dan memberdayakan masyarakat desa lewat Sua Bali di Desa Kemenuh, Gianyar, peraih sejumlah penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) ini pun memberdayakan masyarakat desa setempat lewat pengelolaan sampah.
Tahun 2000-2004 saat itu, kerusakan lingkungan mulai mendominasi wacana dan fakta lapangan di Bali. Sampah, sebagai bagian integral dan pasti dalam kehidupan manusia, menjadi persoalan kian serius. Dayu Mas melangkah dari Sua Bali ke pendampingan pola hidup bersih lewat pengelolaan sampah bagi masyarakat desa. Lewat gerakan Sekaa Bersih Desa Mandiri, sampah tidak dibiarkan berhenti sebagai luu (kotoran), tapi diupayakan diolah sebagai sesuatu yang luwih (berdaya guna) hingga bernilai ekonomi, terutama bagi sampah-sampah organik. Adapun sampah plastik dan sejenis yang nonorganik diserahkan penanganannya kepada negara.
Pengalaman nyata mencerdaskan masyarakat desa mengelola sampah itu justru menjadi modal penting Dayu Mas manakala dipercaya sebagai Ketua Pansus Pembentukan RUU Pengelolaan Sampah, setelah duduk di kursi DPD RI 2004-2009 yang membidangi sumber daya alam (SDA) dan sumber daya ekonomi (SDE). Di sini dia dapat berkontribusi besar dan leluasa, mulai dari menyerap aspirasi masyarakat kecil di desa, lalu merumuskan dalam bahasa resmi undang-undang yang mengikat semua komponen bangsa di Tanah Air.
Kontribusi besarnya juga tampak pada revisi UU Pariwisata dengan konsep pariwisata inti rakyat (PIR), selain pada UU Pelayaran, dan UU Jasa Lingkungan. Kini perempuan kelahiran 1 April 1949 ini sedang berfokus pada upaya mewujudkan terbentuknya UU Perlindungan Masyarakat Adat sebagai implementasi nyata pasal 18 UUD 1945.
Dalam pemikiran Dayu Mas, masyarakat adat di Tanah Air, terlebih lagi di Bali, sarat dengan tiga masalah utama. Itulah: persoalan tanah, tata ruang, dan hak-hak masyarakat lokal yang kian terpinggirkan. “Banyak orang menyadari, saat terjadi krisis berkepanjangan justru masyarakat adatlah yang liat dan kuat bertahan. Namun tidak ada elite mau mengambil peran langsung membela kepentingan masyarakat adat dengan memberikan perlindungan resmi lewat undang-undang. Justru karena tidak ada mau mengambil itu, maka saya sangat berterima kasih dan mensyukuri mengambil peran sentral itu. Sama halnya dengan UU Pengelolaan Sampah, siapa mau mengambil itu? Saya justru senang,” tuturnya bersimbah senyum.
Dengan mengambil, mengerjakan hal-hal penting dan strategis yang tak mau diambil dan dikerjakan elite lain itulah Dayu Mas justru merasa dapat kian mewujudnyatakan filosofi hidupnya: small is beautiful. Strategi pergerakan aktivis perempuan ini memperjuangkan kepentingan rakyat kecil yang tak berdaya bersuara langsung itu memang telah berubah. Dari pemberdayaan dan pendampingan langsung kepada rakyat kecil di pedesaan, sejak 2004 hingga kini dia telah melangkah ke tataran strategis: mempengaruhi kebijakan para pengambil keputusan. Dengan begitu Dayu Mas telah memperluas peran dan makna kehadirannya dari ranah individu, lokal,  ke ranah publik. Langsung di jantung Republik, di Jakarta. * PRW