PINTU HATI
Madu Hidup
Seseorang terengah-engah berlari di antara pepohonan hutan. Di belakangnya seekor macan mengejar bersimbah gelegak rasa lapar. Jarak yang memisahkan orang itu dengan si macan pun kian sempit. Dalam keadaan terpepet rapat, orang ini memilih mencemplungkan diri ke dalam sumur yang ada di hadapannya. “Aman. Cakar-cakar tajam si macan tak mungkin lagi menjangkau ragaku. Aku pasti selamat,” ia membatin.
Sumur itu kerontang. Musim terik berkepanjangan telah menjadikan air sumur habis. Seekor ular besar nan ganas pun hidup melingkar di dasar sumur. Ancaman baru menghadang lagi: si ular sontak terbangun, menjulur-julurkan lidahnya, hendak mematuk kaki orang itu.
Dengan tenaga yang masih tersisa, orang itu menggapai-gapai dinding sumur. Tangannya terantuk pada seutas akar pohon yang menjuntai ke tengah sumur. Ia pun berupaya keras mengangkat tubuhnya dengan meniti akar pohon, “Huppp! Lumayan, aku terbebas dari patukan gigi ular berbisa mematikan itu,” sebutnya penuh girang.
Supaya lebih aman dari patukan ular yang terus saja menjulur-julur di bawahnya, orang ini pun kian tinggi menggelayut. Tanpa dinyana, sepasang tikus penuh setia dan tekun mengerat akar pohon yang digelayuti orang itu. Gigi-gigi tajam tikus layaknya gerigi gergaji, menggentingkan akar pohon lapis demi lapis. Dan, di tepian bibir sumur, si macan penuh hasrat kian menjuntaikan tubuhnya ke dalam sumur, untuk dapat mencakar daging mangsanya.
Hanya ada satu pilihan tersisa buat orang ini: dia mesti menempatkan dirinya dalam posisi paling tepat agar luput dari cakaran macan sekaligus merdeka dari patukan ular. Dia tak dapat lagi menggantungkan harapan hidupnya pada akar pohon yang kian genting digerogoti sepasang tikus putih dan hitam. Satu-satunya harapan hidup hanyalah sepasang kakinya sendiri yang telah letih digunakan berlari.
“Aku mesti mencengkeramkan kedua kakiku ini ke dinding sumur yang saling berhadap-hadapan. Hidupku hanya bertumpu pada kekuatan kedua kakiku sendiri,” ia mengambil keputusan cepat.
Tak dikira-kira, satu kakinya menginjak dahan pohon yang menjuntai ke tengah-tengah sumur. Pohon bergoyang-goyang seiring dengan gemetar kaki orang itu. Tak pelak, lebah-lebah yang bersarang di pohon itu pun meriung, berterbangan. Seiring dengan itu, madu pun menetes-netes dari sarang lebah, tepat mengenai kepala orang ini.
Ia pun mendongak. Ia membuka mulut lebar-lebar, lalu menjulurkan lidahnya. “Ah, sedap, dan manis sekali! Luar biasa nikmat, indah!” dia berseru pada dirinya sendiri, sesaat usai menelan tetesan-tetesan madu langsung dari sarang lebah yang terus saja bergetar, di atas kepalanya.
Kisah ini berakhir hanya sampai di sini. Namun, para kerabat yang menyimaknya acap kali menebar harapan lebih, lalu bertanya-tanya, “Bagaimana akhir kisah ini?” Yang lain berujar gundah, “Selamatkah orang itu dari terkaman macan dan patukan ular?”
Anda boleh saja memekarkan terkaan-terkaan, membayang-bayangkan akhir kisah sesuai dengan yang Anda inginkan. Ujung cerita ini begitu sangat terbuka—terserah Anda mau menutupnya bagaimana, dengan apa. Dan, begitulah Hidup dan Kehidupan: ia tak pernah selesai, senantiasa terbuka untuk dilanjutkan….
Bagi para penempuh jalan ke kedalaman Hidup dan Kehidupan, segenting apa pun situasi, kondisi, atau peristiwa yang mengepung, toh tetap saja meneteskan sari-sari madu. Semendebarkan apa pun kejadian dan pengalaman yang dilakoni, tetap saja tersedia kenikmatan makna dan guna yang luar biasa. Sedahsyat apa pun pasang surut gelombang Kehidupan, perasaan, karier, kekayaan, hubungan cinta, kesehatan, dan seterusnya, semua itu menebarkan keindahan memesona.
“Serap dan nikmatilah manis madu yang tersembunyi di balik kepahitan setiap langkah yang kau alami,” para Bijak Kehidupan mengingatkan.
Bagi para Bijak Kehidupan, kesanggupan manusia berjalan tegak di atas kedua kaki sendiri itulah keajaiban tersempurna luar biasa—dan satu-satunya—di muka Bumi nan bulat bundar ini. Yang lain-lain, kata mereka, “Biasa-biasa saja.” I Ketut Sumarta