|
|
CAKEPAN
Phallus-Vagina pada Pura
di Bali
Judul Buku : Jejak Tantrayana di Bali
Penulis : I Gusti Ayu Surasmi
Tebal : 148 halaman
Penerbit : CV Bali Media Adhikarsa
Cetakan : Cetakan Pertama Oktober 2007
Di mata penganut monoteistik, tantrayana
dihakimi sebagai aliran hedonis. Buku ini hendak meluruskan
persepsi yang bengkok itu. Tetapi buku ini terjebak
pada persoalan masa lalu dan kadang salah memberi pengertian
istilah-stilah kunci agama Hindu.
Masyarakat pemerhati masalah Tantrayana patut bersyukur
karena kini telah terbit sebuah buku yang cukup menarik
menyangkut Tantrayana. Langkah ini patut dihargai karena
hadirnya buku ini paling tidak memberikan penawar dahaga
di tengah-tengah kehausan terhadap informasi terkait
dengan Tantrayana yang selama ini lebih dipahami sebagai
ilmu tentang magis, ilmu tentang seksualitas, serta
beberapa predikat miring yang dilekatkan pada ajaran
ini karena dipandang mengusung hal-hal bersifat sangat
materialistis dan hedonis (Panca Ma).
Jika selama ini sangat kuat berkembang pemikiran yang
mengklaim bahwa Hinduisme adalah sebuah warisan besar
dari bangsa Arya, dalam buku ini diberikan sebuah pemikiran
baru bahwa Hinduisme yang terwariskan saat ini adalah
hasil sebuah proses dialektis yang bersifat akulturatif
dari sistem keyakinan Dravida dengan sistem keyakinan
Arya yang datang belakangan ke India (hal.9-20). Jauh
sebelum masuknya agama Arya ke India, di daerah Mahenjodaro
dan Harrapa (kini berada di wilayah Pakistan) sudah
berkembang baik sebuah sistem keyakinan yang mengutamakan
pemujaan terhadap Sakti (Mother Goddes) disamping pemujaan
terhadap Dewa (patung Siwa Pasupati). Arca Dewi yang
bersifat prominen dan Arca Dewa yang digambarkan memiliki
penis dalam keadaan ereksi ini diindikasikan sebagai
atribut-atribut Tantrayana yang akan muncul kembali
sekitar abad ke 5 di India. Ajaran ini sempat tenggelam
ketika India dipengaruhi oleh ajararan-ajaran yang bersifat
Aryan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa munculnya
Tantrayana ini sebagai munculnya kembali agama asli
atau agama lokal India.
Pada saat India didominasi oleh paham Aryan, Dewa Siwa
kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat pada
dewa-dewa pujaan yang tercantum pada kitab-kitab Weda.
Pengaruh Siwaisme kembali berkembang belakangan sebagai
kelanjutan dari benih-benih yang sudah tertanam jauh
pada paham Dravidian. Kondisi ini dapat dibandingkan
dengan Hindu di Bali. Hindu yang terwariskan sekarang
di Bali dan Indonesia memang pengaruh India. Namun harus
diingat bahwa sebelum masuknya pengaruh Hindu, di Indonesia
dan Bali khususnya sudah berkembang agama-agama lokal.
Itu sebabnya mengapa tidak terjadi dominasi Hindu India
di Indonesia, karena adanya proses lokalisasi Hindu
di Indonesia. Sebagai contoh perhatikanlah nama-nama
dewa yang dipuja pada pura-pura atau palinggih-palinggih
di Bali, kebanyakan menggunakan nama-nama dewa lokal
seperti Ratu Nyoman, Ratu Gede Ratu Mujung, Ratu Meres,
dam sebagainya.
Buku ini juga memberikan informasi tentang kuatnya pengaruh
Tantrayana di daerah Sumatera, Jawa, dan Bali (hal.59-83).
Hal ini bisa terjadi tak lepas pula dari adanya proses
akulturatif antara Tantrayana dengan sistem keyakinan
lokal. Ingat bahwa sebelum masuknya pengaruh Tantrayana
ke Indonesia, sistem pemujaan dengan menggunakan simbol-simbol
kelamin sudah berkembang di Indonesia, khususnya Bali
terbukti dari beberapa tinggalan arkeologi yang ditemukan
di Bali.
Buku ini memang memberikan informasi yang memadai tentang
Tantrayana di Bali, namun karena sumber-sumber kajiannya
adalah data arkeologi, maka hasilnya hanya berupa informasi-informasi
tentang Tantrayana di masa lalu. Ini merupakan salah
satu kelemahan penulisan sejarah. Menurut Sartono Kartodirdjo
salah satu kelemahan penulisan sejarah di Indonesia
adalah hanya berorientasi pada artifact, sementara sosifact
dan mantifact sering diabaikan.
Tentu akan menjadi sangat menarik andai buku ini dilengkapi
dengan data-data aktual yang memberikan informasi betapa
kuatnya pengaruh Tantrayana di Bali, jika penelusurannya
menggunakan sumber-sumber sosifact dan mantifact. Beberapa
contoh dapat dikemukan di sini misalnya stilisasi bentuk-bentuk
palus dan vagina dalam ritual di Bali menjadi tipat
bantal, porosan silih asih, banten dewa-dewi, kala badeg
dalam ritual perkawinan di daerah Sesetan Denpasar.
Perhatikan juga bentuk bangunan palinggih di pura dan
mrajan, tidakkah ia merupakan stilisasi dari bentuk
phallus dan vagina?
Di samping itu, catatan lain yang bisa disampaikan adalah
kelengahan di bagian kata pengantar, yaitu pemahaman
tentang triwangsa dan triwarga. Redig menulis: ”yang
dimaksud triwangsa adalah........(1) Dharma, (2) Artha
dan (Kama)” (hal.xiv). Padahal istilah ’triwangsa’
semestinya menunjuk pada (1) Brahmana, (2) Ksatria dan
(3) Wesya. Sebuah kesalahan yang fatal bila perbedaan
pengertian triwangsa dan triwarga tidak diketahui.
Kesalahan lain, masih menyangkut kata-kunci, yaitu bagaimana
penulis menerjemahkan kata ’prawritti’ menjadi
kiri, (right-hand path) dan ’niwritti menjadi
kanan (left-hand) (hal. 6). Padahal Zoetmulder menterjemahkan
kata ’prawrtti’ dengan ’jalan karma’
sementara ’niwritti’ sebagai ’jalan
jnana’. Lalu bagaimana kata ’kiri’
diterjemahkan ke Inggris menjadi right-hand path? Ini
juga persoalan serius.
Kesalahan yang hanya bisa diobati dengan melakukan revisi
pada cetak ulang nanti — kalau perlu disertai
permintaan maaf pada publik. Wayan Budi
Utama
|