No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

SUSILA

Diramal Akibat Gangguan Orang

Keluarga saya sedang mengalami sakit. Kakinya terasa tebal, kepala pusing, dan badan terasa gerah. Sudah diobati, tapi kambuh lagi. Satu ketika dia bertanya kepada orang pintar, dan orang pintar itu meramal bahwa semua kejadian yang dialami saudara saya akibat gangguan alam gaib (niskala), terutama oleh benda tertentu yang dikubur pada pekarangan rumahnya yang dilakukan orang lain.
Saudara saya jadi kebingungan. Di satu sisi apa yang didapat dari jawaban orang pintar tadi bertentangan dengan hati nuraninya. Dia takut, kalau sampai terlalu percaya pada ramalan terebut, perasaan curiga senantiasa menghatui dirinya. Untuk itu, dia memilih tidak melakukan apa pun dan mengabaikan ramalan itu. Salahkah tindakan saudara saya yang mengabaikan ramalan tersebut? Apakah ramalan sejenis layak dipercaya kebenarannya?
Made Sugiarta
Jl. Pramuka, Singaraja

Jawab:
Tindakan keluarga saudara untuk tidak melakukan apa-apa dan bahkan mengabaikan ramalan itu, merupakan tindakan sangat tepat. Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada orang-orang pintar yang sebenarnya berniat baik untuk membantu sesama manusia, maka harus dipahami bahwa ramalan-ramalan itu tidak selamanya mengandung kebenaran. Bahkan dalam batas-batas tertentu, bisa menyesatkan dan menyebabkan saling curiga di antara anggota-anggota keluarga sehingga pada gilirannya memecah belah kerukunan keluarga.
Dasar pemikiran mengapa tindakan anggota keluarga saudara itu dinilai tepat dan mengapa ramalan-ramalan para peramal tadi - mungkin lebih tepat disebut balian saja - bisa menyesatkan, adalah karena para balian itu menggunakan rumus yang sama untuk semua gejala penyakit yang beraneka ragam. Jadi, apapun gejala penyakit yang dialami seseorang, maka kesimpulan akhir dari diagnosanya adalah sama, yaitu: kena serangan black magic, atau ada benda yang dipasang di dalam pekarangan rumah atau lazim disebut “pepasangan”, dan berbagai variasi sejenis itu. Saya ingin berbagi pengalaman dengan saudara Made dari Singaraja. Di desa saya, yaitu:
Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan, ada seorang warga yang mengalami sakit, yang gejala-gejalanya kurang lebih sama seperti yang saudara ceritakan di atas, yaitu kaki membengkak dan terasa tebal, pusing, kurang enak makan dan badan terasa gerah. Dari tiga orang balian yang dimintai bantuan, kesimpulan atas diagnosa penyakitnya adalah sama, yaitu kena serangan black magic dan ada benda yang dikubur di dalam pekarangan rumahnya. Terapi atas penyakit tersebut juga kurang lebih sama, yaitu: melakukan ritual pada malam hari sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Ritual tersebut dilakukan di dalam pekarangan rumah dengan maksud untuk menghalau benda “ajaib” yang menjadi penyebab penyakit tersebut. Selain ritual juga dibarengi dengan memberikan ramuan obat-obatan dalam bentuk pil dan jamu. Sayang sekali, setelah hampir setahun berobat, penyakit warga tersebut malahan semakin parah dan mengkhawatirkan. Alhasil, atas informasi dari berbagai sumber yang diperolehnya, warga tadi mengayunkan langkahnya ke rumah seorang balian usadha di daerah Pengosekan, Ubud, dan balian usadha ini menyimpulkan, bahwa warga tadi, yang adalah seorang ibu yang sudah uzur, tidak ada hubungannya dengan serangan penyakit black magic atau benda yang di pasang di dalam pekarangan rumah. Ibu itu mengalami halusinasi akut karena kebiasaannya sejak muda menjadi pekerja ulet dengan rezeki (penghasilan) yang cukup memadai untuk menghidupi dan membesarkan keluarganya. Ambisinya menjadi pekerja ulet dengan rezeki yang memadai tetap membara ketika usianya semakin uzur. Sayang sekali, fisik dan lingkungan sosial tidak mendukung untuk mengulang kembali kejayaannya bekerja seperti di masa lalu. Ia pun mengalami halusinasi akut. Mungkin ini paralel dengan sejenis syndrome dalam ilmu pengobatan modern. Saya sengaja menekankan pentingnya peranan balian usadha untuk membedakannya dengan balian-balian lain yang mengandalkan kemampuan siddhi-siddhi belaka dalam melakukan diagnosa terhadap suatu jenis penyakit. Tentu saja ini tidak dimaksudkan untuk memandang mereka dengan sebelah mata. Sebagaimana saya uraiakan pada awal tulisan ini, mereka, para balian yang mengandalkan siddhi-siddhi ini sebenarnya mempunyai niat yang luhur untuk membantu sesama umat manusia. Usadha adalah ilmu pengetahuan pengobatan tradisional Bali yang masih digunakan secara luas oleh masyarakat Bali sampai saat ini. Pada intinya, ilmu kesehatan usadha menekankan untuk menjaga keseimbangan Panca Mahabutha yang membentuk tubuh dengan menggunakan potensi atau kandungan obat dalam tumbuh-tumbuhan sesuai dengan kasiatnya. Penyakit terjadi apabila keseimbangan Panca Mahabutha di dalam tubuh terganggu. Penyakit-penyakit non-medis juga bisa dideteksi dengan melihat keseimbangan unsur Panca Mahabutha tersebut. Ilmu kesehatan usadha ini dapat dikatakan sebagai kelanjutan yang lebih detail dari ilmu kesehatan ayurveda yang pada umumnya menguraikan prinsip-prinsip dasar.
Dengan memperhatikan uraian di atas, jelas bahwa penyebab penyakit bukanlah tunggal, bukan hanya disebabkan oleh black magic semata-mata. Dalam bahasa Sanskerta ada istilah klesa yang bisa mewakili pengertian penyakit, penderitaan, kesusahan, kemalangan, keadaan yang sukar/berbahaya. Secara umum dikenal ada tiga jenis penyakit dalam ilmu kedokteran Veda. Pertama, adidaivika klesa, yaitu penyakit yang disebabkan oleh para deva. Para dewa termasuk kedalam kelompok jiwatattva atau makhluk hidup. Namun para dewa bukan makhluk hidup biasa. Ia lebih unggul dari makhluk hidup biasa karena sifat-sifat kebajikan (satvam) yang lebih dominan atau lebih menonjol pada dirinya. Para dewa diberikan tugas kewajiban yang khusus sebagai administrator alam semesta atau penguasa yang diberikan otoritas khusus untuk menjaga keteraturan dan ketersediaan aspek-aspek alam tersebut untuk kebutuhan manusia.
Misalnya, Dewa Varuna sebagai dewa samudera atau dewa yang mengendalikan keteraturan dan ketersediaan lautan bagi kebutuhan manusia dan makhluk hidup lainnya. Demikian juga Dewa Indra dan Dewa Marut yang masing-masing bertugas sebagai pengendali hujan dan udara. Manusia berhutang kepada para dewa karena para dewa itu secara langsung menyediakan berbagai kebutuhan-kebutuhan manusia dan makhluk hidup yang lain melalui aspek alam yang ada. Sebenarnya, semua kebutuhan makhluk hidup disediakan Tuhan. Para dewa menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk membagikan semua aspek alam semesta yang menjadi milik Tuhan. Oleh karena peranannya yang sangat sentral, maka manusia wajib membalas kebaikan para dewa. Apabila para dewa dipuaskan dengan persembahan yang diberikan manusia melalui yajna, maka para dewa akan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan yang berlimpah ruah. Tetapi sebaliknya, apabila para dewa tidak dipuaskan, maka ia akan mengirim bencana. Bencana inilah yang dikenal dengan nama adidaivika klesa. Hujan lebat yang melebihi kapasitas yang semestinya sehingga pada gilirannya menimbulkan banjir bandang adalah salah satu jenis adidaivika klesa. Demikian juga berbagai jenis bencana alam seperti tsunami, kekeringan, perubahan iklim global, termasuk kedalam jenis penyakit adidaivika klesa. Di dalam Bhagavata Purana, terdapat keterangan yang menjelaskan, bahwa Dewa Indra megirim hujan dan petir kepada penduduk Vrindavan selama tujuh hari berturut-turut karena penduduk di daerah Uttara Pradesh itu menghentikan mempersembahkan yajna kepada Dewa Indra. Sebenarnya, setting cerita ini dimulai dengan perintah Krishna kepada penduduk Vrindavan untuk menghentikan yajna kepada Dewa Indra, dan akhirnya, Krishna pula yang melindungi penduduk Vrindavan dari hujan dan petir yang dikirim Dewa Indra, dengan mengangkat bukit Govardhan dengan kelingking tangan kiriNya.
Jenis penyakit kedua adalah adyatmika klesa, yaitu penyakit yang disebabkan oleh sesama manusia. Black magic dan berbagai praktik ilmu hitam termasuk kedalam jenis ini. Sedangkan penyakit ketiga adalah adibautika klesa, yaitu penyakit yang disebabkan oleh mahluk hidup lain. Disengat serangga, keracunan makanan karena bakteri dari makhluk lain seperti tipes, termasuk dalam jenis penyakit ini. Demikian juga penyakit sapi gila dan flu burung termasuk dalam jenis adibautika klesa. Didalam Filsafat Yoga diuraikan lima jenis klesa, yaitu: a-vidya(kebodohan), as-mita(ego, keakuan), raga (keinginan), dvesha (kemalasan) dan abhinivesha (keterikatan kepada dunia material). Didalam ajaran Buddha dikenal 10 klesa, tiga muncul melalui tindakan (mencuri, membunuh, berzinah), empat melalui kata-kata (berbohong, memfitnah, menghardik,memaki-maki, mencaci-maki, menjelek-jelekkan orang lain), dan tiga lagi melalui pikiran (irihati, dengki/benci, dan keragu-raguan, ketidakpercayaan kepada ajaran agama). Sepuluh klesa ini paralel dengan pembagian Tri Kaya Parisuddha sebagaimana diuraikan dalam naskah Sarasamuccaya, meskipun dengan varian yang sedikit berbeda.
Akhirnya, semua penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini, adalah sebagai akibat dari akumulasi karma atau perbuatan yang kita lakukan sejak waktu yang tidak dapat dihitung lamanya. Penderitaan adalah buah matang dari karma kita. Perbanyak subha-karma dan jangan terlalu melekat dengan siddhi-siddhi atau kesaktian yang sering menipu diri kita Astu.