No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

WIRASA

Pemangku juga Pendidik
Pulau Bali sudah dikenal dimata dunia sebagai pulau dewata atau pulau seribu pura. Sebagian besar masyarakat Bali memeluk agama Hindu. Di mata orang asing, orang Bali dikenal sangat taat menjalankan ibadah. Padahal kalau kita lihat dalam kenyataannya agama hanya dijadikan tameng untuk menarik para wisatawan agar datang berlibur ke Bali. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kenyataanya banyak masyarakat atau orang Bali kurang percaya dengan agamanya sendiri. Kita bisa lihat dari keseharian yaitu banyak orang yang datang maturan/sembahyang ke pura Besakih, dengan hikmat, tapi tidak jarang kita lihat banyak juga yang memanfaatkan dengan hanya sekedar datang ke pura tersebut untuk mejeng atau hanya sekedar jalan-jalan.
Maka dari itu, perlu diadakan atau dilakukan pendidikan tentang sopan santun, etika dalam bermasyarakat secara tidak langsung oleh para pemangku (penglingsir) agar generasi muda Bali mengerti tentang budaya Bali dan tidak meniru budaya Barat atau tingkah laku orang Barat. Jadi biarpun orang Barat atau asing sering datang ke Bali tidak akan menjadi ancaman bagi kebudayaan Bali itu sendiri. Masyarakat Bali bisa menyaring kebudayaan yang masuk, tanpa harus menghilangkan budaya sendiri.
Made Heli Widiasmini
Br. Kaja Kangin, Desa Tegak Klungkung

Terlalu Banyak Ngayah
Agama Hindu dan kebudayaannya tidak bisa dipisahkan, keduanya saling berkaitan, karena budaya masyarakat Bali lebih sibuk di bandingkan dengan adat-adat lainnya. Karena kesibukan adat, banyak masyarakat tidak bisa melakukan aktivitas/pekerjaan dibelit urusan sedikit-sedikit ngayah. Sebut saja, dari kegiatan Bhuta Yadnya sampai ke Dewa Yadnya. Banyak generasi muda yang sering mengeluh dengan kegiatan adat. Tapi, tidak bisa dipungkiri itulah kebudayaan.
Kebudayaan itu muncul dari sekelompok masyarakat atau suku, berkembang dan terus berkembang kemudian menjadi peraturan-peraturan yang harus dipenuhi dan apabila dilangar maka kita akan dikenakan sangsi bahkan mungkin diusir dari lingkungan adat. Manusia adalah makhluk yang berbudaya, karena budaya itulah yang menyebabkan dia dikenal.
Menurut saya budaya Bali itu terlalu banyak di kait-kaitkan dengan agama. Sehingga menyebabkan dirinya sibuk.
Kalau agama Hindu di luar Bali tidak sesibuk di Bali, karena jumlah-jumlah pura tidaklah begitu banyak.
Dewo Made Pernata
Tembau, Denpasar

Seiring berjalannya waktu, perkembangan Hindu di India juga berdampak pada perkembangan Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. Dulu kasta hanya bertujuan untuk membedakan atau lebih pas digunakan pada kelompok masyarakat yang dianggap mampu di bidang tersebut, seperti: golongan Brahmana yang bertujuan hanya sebagai pemimpin upacara yadnya atau suatu kurban suci. Tetapi kalau kita telaah lebih lanjut seperti seorang polisi. Bila sang ayah jadi polisi apakah anaknya juga jadi jadi polisi? Jawabnya pasti belum tentu. Lalu kenapa golongan Brahmana lalu mempunyai seorang anak dan anaknya itu mewarisi klan dari Bapaknya padahal jabatan itu hanya dimiliki oleh bapaknya? Dampak dari kasta itu terjadi pada saat adanya interaksi baik itu dilakukan dengan seorang Brahmana ataupun dengan anak dari seorang Brahmana dimana golongan sudra atau masyarakat bawah harus hormat kepada anak dari Brahmana tersebut dalam hal tutur sapa sementara mereka yang merasa memiliki kasta yang lebih tinggi seenaknya atau semaunya sendiri dalam berbicara. Menurut saya tradisi seperti ini sudah tidak relevan lagi di jaman sekarang karena jika dilihat dari kacamata agama, sesungguhnya Tuhan tidak membedakan umatnya lalu kenapa kita sebagai manusia justru membuat jurang atau membuat kelompok sendiri untuk membuat kebenarannya sendiri-sendiri.
Agus Kumara
Kedung Tarukan Baru I/19 Surabaya

Soal Awig-awig dan Kipem
Agama Hindu identik dengan kebudayan yang taat dengan peraturan-peraturan (awig-awig). Disini awig-awig dalam lingkungan masyarakat sangat di taati, maupun dalam perkumpulan musyawarah atau yang lebih dikenal dengan istilah banjar dengan awig-awig kehidupan masyarakat menjadi teratur tanpa ada masalah. Karena yang di turunkan dalam awig-awig banjar juga terkandung bagaimana tata cara manusia untuk melakukan upacara yadnya. Misalnya dalam kegiatan ngaben (pelebon) setiap anggota banjar di haruskan membantu tanpa pamrih seperti memberikan beras, uang, perlengkapan yadnya itu sendiri dan lain sebagainya.
Menurut saya tradisi seperti ini dan awig-awiglah yang perlu dilestarikan dalam tata cara agama Hindu bertindak ataupun bersosialisasi dalam masyarakat. Dampak negatif dari awig-awig ini di pandang dari sudut orang pendatang sangat merepotkan juga, karena banyak administrasi yang mereka isi dan taati seperti salah satu contohnya Kipem
Kipem dikenakan bagi orang-orang pendatang di Bali. Tetapi pada akhirnya awig-awig ini juga yang menjaga keamanan Bali.
I Ketut Sumerta

Selamat Merayakan Galungan dan Kuningan
Saya warga Bali yang tinggal di rantau mengucapkan selamat merayakan hari kemenangan dharma melawan adharma atau lumrah disebut Galungan, di tahun 2008 ini. Semoga di hari yang suci ini kita semua bisa mulat sarira, koreksi diri atas segala perbuatan yang bersifat tidak baik.
Diah Ratnadi
Riau

Melanggar Ajaran Agama
Ketika saya mendalami tentang Hindu, saya tahu bahwa agama Hindu merupakan ajaran kebenaran murni. Namun dalam perjalanannya, ada banyak tindakan yang dilakukan warga Hindu seolah-olah tak sesuai dengan ajaran agamanya. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati, apa semua itu terjadi karena persepsi pemeluk yang salah tentang ajaran agamanya, atau keberadaan agama yang dibungkus budaya? Yang jelas ini perlu kita pikirkan lebih jauh dan tindaklanjuti. Satu dari sekian masalah adalah kurangnya perhatian pemerintah tentang APBN khususnya bidang keagamaan contohnya, dari semua agama yang ada di Indonesia, mestinya mendapat kuota yang sama dalam APBN, tetapi Hindu hanya mendapat 2 persen dari 15 persen APBN. Menurut saya Agama Hindu di Indonesia perlu berbenah dan berjuang dalam keminoritasannya di kancah Nasional. Caranya; perlu membuat kepastian kelembagaan umat Hindu, perlu sarana pendidikan khusus agama Hindu dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, menambah sarana warga untuk memperbaiki kwalitas SDM yang masih rendah, serta perlunya persatuan para intelek Hindu Bali untuk berjuang demi agama.
I Kadek Satria
Renon