No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

RERACIKAN 94 (SAJIAN SARAD)

Paruman………………………Lanjut
Bagi seorang dukun, memegang penuh hukum kesantunan hidup, panggilan sebagai pengobat merupakan investasi di bank alam, investasi yang belum tentu mendatangkan keutungan langsung. Lalu kenapa ada orang yang sampai tersandung dukun palsu? Apa penyebabnya dan siapa yang salah hingg kejadian serupa mencuat ke permukaan?

Sorot.................Lanjut
Glamour dunia pariwisata Bali tak hanya menyajikan cerita sukses berupa sumbangan devisa dan lapangan kerja bagi masyarakat, juga menyertakan kepedihan. Genderang “pariwisata budaya” itu, telah mengundang sejumlah besar orang-orang asing yang melakukan perjalanan ke Bali untuk tujuan memperoleh akses seksual menjadi pedofilia. Dan, anak-anaklah sebagai korbannya. Tak ayal, pedofil kini menjadi semacam ‘pembunuh’ baru generasi Bali.

Nyama Braya…........Lanjut
Undang-undang dan peraturan lembaga keagamaan boleh saja mengatur tentang perlindungan terhadap setiap manusia untuk memeluk agam sesuai keyakinannya. Namun di Tengger, Pasuruan Jawa Timur, warga Hindu masih saja tetap jadi incaran untuk pindah ke agama Semit. Jika tak kuat dan berada pada posisi terjepit, besar kemungkinan mereka terhanyut ikut agama lain.

Sameton..................Lanjut
Perhatian Guru Besar langka tentang wilayah perbatasan begitu besar. Menurutnya ada banyak kerugian jika pengelolaan wilayah perbatasan suatu negara terabaikan oleh pemiliknya. Apa saja kerugian itu? Anak Agung Banyu Perwita memaparkan lebih benderang.