|
|
SASIH
Dalam Pesta Kemenangan
Dharma
Sang pejalan di dunia rohani memaknai Galungan
sebagai perjalanan ke ruang batin, sembari berhitung-hitung
seberapa banyak kebajikan telah ditabung di bank alam
semesta.
Langit
kelabu disaput mendung. Kucing gaduh tak tahan menahan
birahi. Bila senja tiba suara cenggeretnong, si kumbang
semak seakan menghibur rasa sedih. Nyanyian katak ibarat
musik Cak saling bersahutan Kunang-kunang beterbangan
di kegelapan malam, bak bintang-gemintang jatuh. Inilah
pertanda mencolok saat Sasih Kaulu (bulan ke-8) tiba.
Bila siklus sasih berjalan normal, angin kencang dan
hujan lebat dipastikan akan mengguyur Bali sepanjang
sasih ini. Sebagaimana juga Sasih Kapitu, Kaulu kini
disebut juga basah gede - hujan lebat sepanjang sasih,
nyaris tanpa jeda berarti. Baik astrologi Jawa dan Bali
menyebut Kaulu sebagai sasih berkarakter sirira, sasih
berhawa sejuk dan berkabut. Matahari jarang tampak,
sinarnya dibendung kabut tebal. Walau hujan tak henti
mengguyur, bagi petani kini merupakan saat tepat menanam
bibit padi. Karena embun yang turun saban malam cocok
untuk pertumbuhan bibit padi. Embun ini disebut damuh
banyu, air penyegar hidup. Sesuai catatan wariga dan
pangunyan sasih dalam setahun embun ini cuma muncul
dua kali, yakni: pada sasih kaulu dan sasih kedasa.
Saat Kaulu kini matahari tengah bergerak ke lintang
utara, seterusnya pada Sasih Kesanga (kesembilan), tepat
pada tilem Kesanga (kesembilan), 6 Maret 2008, matahari
melintas tepat di atas garis khatulistiwa. Orang Bali
menempatkan momen ini sebagi saat tepat melakukan upacara
tawur buta yadnya. Tawur yang secara simbolik diupayakan
untuk mengembalikan unsur-unsur yang membangun alam
semesta ini. Serta-merta di titik ini pula manusia Bali
diharapkan menyadari arti kehadiran di bumi, mengingat
betapa tergantungnya manusia dari kelimpahan alam ini.
Kaulu kini jatuh tepat di hari Selasa Kliwon Wuku Julungwangi,
8 Januari 2008. Di rentang hari-hari penuh suka-ria
dalam pesta raya kemenangan dharma atas adharma -- kemenangan
kebajikan atas kebatilan. Secara tradisi, orang Bali
merayakan momen penting ini sebagai hari raya Galungan,
tepat jatuh pada hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, tanggal
23 Januari 2008.
Sang pejalan di dunia rohani memaknai galungan sebagai
ziarah diri, perjalanan ke ruang batin sembari menghitung-hitung
seberapa banyak kebajikan telah ditabung di bank alam
semesta. Seberapa jauh kemerdekaan diri sudah direngkuh
dari penjajahan nafsu kotor indrawi.Beragam makna bisa
digali dari simbolik hari raya Galungan. Misalnya, kenapa
penjor-penjor ditancapkan dengan penuh kemeriahan dan
keceriaan. Maknanya tak lain, mengibarkan tinggi-tinggi
panji-panji kemenangan batin dari belitan fisik-biotik
nafsu rendah. Inilah makna ziarah itu. Melawati Sasih
Kaulu kini orang Bali dibuat sedikit cemas, memang.
Petir menyambar-nyambar, angin kencang, dan genangan
air tak kunjung surut. Pohon kelapa beradu dibantai
angin, seperti hendak beraadu saling terkam. Dari lubang-lubang
kayu basah, serangga keluar dari sarang, seperti hendak
menanti hangat matahari. Burung-burung menjerit kedinginan,
takut terbang karena sekujur bulunya basah.
Dari hitungan pangunyan sasih, Kaulu kini tengah ngunya
Kapitu (bulan ke-7), hal mana dimungkinkan terjadi “perselingkuan”
antara cuaca hujan terang. “Panes lan udan amatek-matek,”
antara hujan dan terang bisa datang dan pergi tiba-tiba,”
demikian tulis teks pangunyan sasih. Sementara siklus
Kaulu akan berakhir tanggal 7 Februari 2008, Kemis Kliwon,
Wuku Lankir, tepat pada Tilem Kaulu.
Yang paling penting dilakukan saat Sasih Kaulu tentu
menjaga sanitasi tetap bersih. Menguruk genangan air
tempat bersarangnya nyamuk. Mengingat Kaulu merupakan
musim becek, penyakit tak malu-malu menjenguk Anda.
Ini berakibat buruk bagi kesehatan. Karena matahari,
sang membunuh kuman jarang nongol, sinarnya disaput
mendung.Udara dingin rentan mematik rematik dan asma.
Maka itu pastikan diri Anda tetap bugar, sehat lahir
batin.
Bersyukurlah bila bayi Anda lahir saat sasih Kaulu,
dipastikan ia punya sifat luhur, alus budinya, penderma
dan berjiwa sosial. Ia berada dalam kendali Dewa Brahma.
Justru itu amarahnya mudah terbakar bila mendengar sesuatu
yang tidak benar - karena sesungguhnya ia pencinta keadilan.
Prinsipnya cuma satu: menegakkan kebenaran.
Tapi perlu diwanti-wanti, harap sang anak jangan sampai
salah didik. Jika dia salah didik tak mustahil ia menjadi
sangat urakan dan susah diatur. Sifat luhur bisa tumbuh
lewat asuhan pendidikan yang benar, serta lingkungan
sosial yang bersih dari prilaku tercela. Namun jika
Anda berniat melakukan upacara perkawinan sebaiknya
ditunda dulu. Sebab sesuai pangala sasih, baik buruk
hari sesuai hitungan sasih sedang tidak memihak Anda.
Jika dilabrak akibatnya fatal: ala, kapegatan pangan
kinum, buruk, terputus sandang pangan. Jika Anda seorang
“terpelajar” boleh jadi Anda menganggap
ini klenik. Tapi itulah yang disuratkan wariga pangala
sasih. Alasan paling rasional tentu karena Kaulu musim
hujan, sebab itu tidak nyaman menggelar upacara yang
memerlukan ketenangan ekstra.
|