|
|
ORTA
UNUD Peduli Tanaman Banten
Perkembangan adat Bali yang demikian pesat, seperti
kasepekang, pananjung batu, dan langkanya tanaman banten
memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak. Kondisi
ini menimbulkan gagasan bagi Lembaga Pengadian kepada
Masyarakat Universitas Udayana Denpasar (LPM-UNUD) untuk
melakukan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan semakin
langkanya tanaman banten. “Selama ini masyarakat
menilai Perguruan Tinggi (PT) selalu disamakan dengan
‘menara gading’. Kami menginginkan Unud
juga bisa menjadi menara air. Ini sesuai dengan motto
Unud: unggul, mandiri, dan berbudaya,” ujar Ketua
LPM Unud, Made Pasek Diantha, saat membuka ‘Bali
Shanti’: Pusat Pelayanan dan Pengembangan Adat/Kebudayaan
Bali, di Jalan P Moyo, Denpasar, awal Januari lalu.
Dalam penjelasan Diantha, lembaga yang dipimpinnya ini
melakukan pelayanan kepada masyarakat dalam tiga bentuk
kegiatan: Pertama pengkajian pada kebudayaan Bali dengan
menggunakan catur dresta sebagai tolok ukur. Bentuk
kongkretnya berupa seminar yang rencananya akan dilaksanakan
tiga kali dalam setahun. Kegiatan kedua adalah konsultasi
pada masyarakat. Bali Santhi akan membuka ruang konsultasi
kepada masyarakat menyangkut masalah-masalah adat yang
sementara waktu menggunakan rumah pribadi rektor Unud
di Jln. PB Sudirman, Denpasar. Sementara kegiatan ketiga
terang guru besar Fakultas Hukum Unud ini, berupa pelayanan,
yaitu menyediakan tanaman banten, terutama yang langka
seperti nyuh Rangda, nyuh Sudamala dan sebagainya. Kegiatan
ini diwadahi pada lembaga ‘Bali Shanti’.
Sebanyak puluhan tanaman banten yang bernilai non ekonomis
dibibitkan pada tanah seluas setengah hektar, di kebun
percobaan Fakultas Pertanian Unud Jln P Moyo, Pesanggrahan,
Denpasar.
Rektor Unud, Made Bakta berharap kehadiran Bali Shanti
berguna bagi masyarakat, khususnya sebagai lembaga konsultasi
dan pengembangan adat/budaya Bali. Hal ini sejalan dengan
pengejawantahan Tri Dharma perguruan tinggi di antaranya
memberikan pengabdian kepada masyarakat. Unud yang pola
ilmiah pokoknya kebudayaan dan visinya: unggul, mandiri,
dan berbudaya, tepat sekali memberikan pelayanan, konsultasi
dan pengkajian di bidang adat/buday.
Seks dan Siwalatri
Karya sastra Siwalatri Kalpa ternyata memiliki bias
gender. Ini bisa dilihat dari tokoh-tokoh yang sebagian
besar berjenis kelamin lelaki, seperti Dewa Siwa, Yama
Lubdhaka. Padahal secara konseptual visual sifat kepurusaan
dewa tidak mempunyai arti apa-apa tanpa pradana. Seperti
pasangan Siwa Parwati, Brhma-Saraswati, yang menunjukan
sifat purusa dan pradana sekaligus. ”Itupun, kalau
kita mau berpegang pada prinsip tatwa” ujar Wayan
Budi Utama, dalam diskusi bertajuk Siwaratri di Pura
Universitas Hindu (Unhi) Denpasar, awal Januari lalu.
Sebagai teks Siwaisme, Tantrisme varian Siwaisme justru
lebih memposisikan sakti (pradana) daripada dewa. Paham
penting dalam Tantrisme adalah mencapai penyatuan spiritual
dengan sang pencipta adalah aktivitas senggama, terutama
pasangan itu mencapai orgasme secara bersamaan. ”Untuk
mencapai orgasme, puncal pengalaman siritual, egoisme
masing-masing pihak harus dileburkanSecara sosial harus
dilakukan oleh pasangan yang sah. ”Karena legalisasi
seksual hanya mungkin lewat piranti sosial, tanpa egoisme
satu pihak yang dimenangkan. Perempuan jadi pihak subordinan
terus. Padahal Tanra menghendaki keseimbangan”ujar
dosen Sosilogi Agama Unhi ini. Masyarakat cenderung
menginterpretasikan Siwalatri yang bersifat asketisme.
Dalam cerita memang tidak disebutkan aktivitas seksual
dan orang menterjemahkan adanya larangan berhubungan
kelamin. ”Tetapi, sekali lagi, persoalan ini sangat
tergantung bagaimana perspektif masyarakat melihat teks
Lubdhaka itu. Kalau perspektif yang digunakan tantraisme
maka penyatuan spiritual bisa dilakukan dengan aktivitas
seksual, urai Budi Utama panjang lebar.
Candi Jawa Material
dari Bali
Pada hari Sabtu, akhir Desember 2007, Yayasan Dharma
Kerthi Majapahit, berhasil mewujudkan pendirian padmasana
yang diberi nama Candi Wilwatikta (Majapahit) bertempat
di situs Majapahit, Dusun Denok, Desa Temon, Kecamatan
Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur.
Sekitar 300 meter selatan Candi Tikus. Yayasan yang
beralamat di Jalan Gatot Subroto Timur No. 80 Denpasar
Bali tersebut, memiliki kepedulian untuk menjaga kelestarian
dari peninggalan-peninggalan budaya, khususnya mengenai
keberadaan situs-situs kuno kerajaan Majapahit. Menurut
I Gusti Ngurah Subudi tokoh warga Hindu di Jawa Timur,
pembangunan candi sangat diharapkan warga Hindu yang
berdomisili di Jawa Timur dan sekitarnya maupun penganut
Hindu pendatang ke tempat tersebut.
“Pembangunan Candi Wilwatikta ini diharapkan pula
dapat memotivasi masyarakat sekitarnya untuk ikut serta
melestarikan budaya peninggalan kerajaan Majapahit yang
pernah sangat berpengaruh tidak saja di Nusantara, tetapi
bahkan diseluruh dunia pada jamannya” beber Wijana.
Hal sama disampaikan Ida Bagus Suteja, tokoh warga Hindu
yang berdomisili di Mojokerto, yang menyambut positif
keberadaan candi dengan sangat antusias. Pembangunan
candi (berupa Padmasana) itu sendiri dikerjakan dalam
waktu satu hari. Mulai dari upacara ngeruak sampai dengan
melaspas dengan sulinggih bersama rombongan yang datang
dari Bali, di antaranya: Ida Padanda Gede Ketut Keniten
dari Griya Dawan Kelod Klungkung dan Ida Padanda Gede
Purwa Gautama dari Griya Budha Wanasari Karangasem.
Ketua penyelenggara kegiatan, I Gusti Ngurah Agung Wiguna
menegaskan, Candi tersebut dibangun di areal tanah seluas
9.700 meter persegi. Pembagunan fisik candi, dikerjakan
tenaga dari Bali dan dibantu pula oleh warga sekitar,
dengan material bangunan candi (berupa Padmasana) didatangkan
langsung dari Bali.
Bali: Dari Trauma
ke Trauma
Sebuah diskusi buku yang lagi-lagi tentang paradoks
Bali di gelar di Taman 65, Jln. WR Supratman 193, Denpasar,
Bali, pertengahan Januari lalu. Diskusi ini secara khusus
membahas buku yang berisi kumpulan tulisan IBM Palguna
yang berjudul ‘Budaya Kepintaran sampai Budaya
Kekerasan Pikiran’ Dalam bahasan Ngurah Karyadi,
buku Gus Pal (panggilan akrab IBM Palguna) menunjukan
bahwa Bali bergerak dari satu trauma ke trauma lainnya.
Menurutnya, setiap kesatuan bersama memiliki trauma-trauma.
Orang Bali hidup dengan trauma. “Bukankah, keBalian
dibentuk dari pengalaman-pengalaman negatif? Dalam artian
ini, orang Bali hidup dalam trauma. Trauma utama warga
pulau seribu pura ini lahir dari dominasi, yang meniadakan
yang lain bentuk kekuasaan yang sampai di tingkat pemikiran,
telah meninggalkan bekas traumatis,” tuturnya
sembari menunjuk pada tulisan Gus Pal yang berjudul
“Menderita di Dunia, Bahagia di Akhirat”.
Karyadi berharap agar penulis buku memiliki jarak dengan
trauma-trauma itu. “Mudah-mudahan penulis buku
ini tidak kena virusnya, karena mengambil posisi di
perbatasan sebagaimana ditunjukan dalam tulisan berjudul:
Jalan Raya dan Jalan Alternatif”, ujar pria berbadan
ceking itu. Secara terinci, bekas traumatis tersebut
tidak tampil dalam bentuk kebencian terhadap orang luar
atau asing. Namun, lebih percaya daripada dengan sesamanya.
Meskipun keterjajahan sudah dilerai secara politis,
secara psikologis dan budaya tetap berkelanjutan. Orang
luar dapat memimpin lebih baik daripada orang sendiri.
“Itulah prasangka yang tumbuh subur di pulau ini,
terlebih setelah Bali menjadi pusat pariwisata. Suatu
contoh keberhasilan proses cuci otak dari masa lalu,”
tunjuknya. Lebih parah lagi, kini prasangka tersebut
karena membentuk ketidakyakinan diri sendiri terwujud
dalam kenyataan. “Ketidakpercayaan diri tersebut
bersifat traumatis” cecarnya. Trauma itu telah
meyakinkan warga. Bahkan kenyakinan diri itu terlalu
berlebihan. Ketidakpercayaan diri ini sangat berbahaya.
Semua ini akan memunculkan sikap melarikan diri dari
tanggungjawab dan ketakutan bersungguh-sungguh. Wujud
dari sikap melarikan diri itu terlihat dalam beragam
permainan orang dewasa di Bali. “Bukankah orang
Bali suka main-main-lewat tajen, layangan atau ogoh-ogoh?
Atau tampil dengan kepercayaan diri luar biasa dalam
berbagai arena kesenian,” detail pekerja sosial
‘serabutan’ itu.
Trauma akibat itu tidak berakhir saat ini. Pengejaran
atas mereka yang dituduh berbeda atau menentang tradisi
merupakan bagian traumatis berikut, yang mungkin paling
kelam sejarah Bali. Trauma massa ini sesungguhnya tidak
terletak pada peristiwa itu sendiri sudah terjadi. Ketakutan
akan ketakutan, lebih menakutkan dan melumpuhkan, daripada
jenis ketakutan lainnya. Hal inilah yang dimanfaatkan
oleh suatu politik penguasaan massa, dari mereka yang
hendak berkuasa, atau penguasa itu sendiri.
|