No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

PARUMAN
hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4

Bunyi “Kriak” di Pundak Sadra

Bagi seorang dukun, memegang penuh hukum kesantunan hidup, panggilan sebagai pengobat merupakan investasi di bank alam, investasi yang belum tentu mendatangkan keutungan langsung. Lalu.......

Apakah Anda pernah terjebak ulah dukun (balian) palsu? Gampang-gampang susah dijelaskan, tentu. Bila Anda menuntut jawaban berdasarkan data kepolisian, tak ada bukti nyata meyakinkan Anda. Pantauan SARAD di Kepolisian Daerah (Polda) Bali, perihal kurban terlapor diolok-olok dukun palsu nyaris nihil, alias tiada laporan. Dari fakta ini, berdasarkan data terlapor di kepolisian, Bali boleh dianggap aman dari ulah dukun palsu.Tapi nanti dulu, hendaknya Anda jangan kurang waspada. Fakta-fakta di lapangan memperlihatkan begitu banyak orang terjebak dukun palsu. Ni Nyoman Rinti (43), wanita kelahiran Desa Bebandem, Karangasem, ibu dua putra yang kini tinggal di wilayah Desa Kerobokan, Denpasar Barat menuturkan pengalaman pahit. Tujuh tahun didera sakit kepala dan mata berkunang-kunang, beberapa kali ia diperdaya dukun palsu. Sayang ia tak hendak melapor ke polisi, dalihnya; malu dibilang bloon, alias bodoh. Kini Rinti sembuh hanya dengan malukat, menyucikan diri, sembari rajin meminun urine, air kencing sendiri. Kebiasaan ini sudah dilakukan lebih dari satu tahun. “Aneh, ke dokter tak mau sembuh, ke dukun diolok-olok, toh akhirnya sembuh dengan minum air kencing,” tukas Rinti yang kini sibuk berjualan jajan bali di bilangan Jalan Gunung Agung. Suatu hari, ia lupa tahun kejadiannya, Rinti datang berobat pada seorang dukun di wilayah Padanggalak, Desa Kesiman, Denpasar Timur. Ia berniat mengobati sakit kepala yang tak kunjung sembuh. Menurut Rinti, dukun ini berasal dari luar, sang istri kebetulan orang Bali. Ia mengaku bisa mengobati penyakit apa saja. Pasien yang datang pun melimpah, apalagi saat hari-hari libur. Mulanya Rinti percaya, dukun ini penyembuh hebat. Saban kali datang berobat, sebagaimana petunjuk dukun Rinti disuruh membawa satu telor bebek. Begitu datang, setelah mengaturkan canang di tepat yang telah disediakan, telor diambil sang dukun, dibawa masuk ke ruangan khusus, di mana orang lain tidak dibolehkan masuk. Dua tiga menit sang dukun datang menghampiri Rinti, menggelilingkan telor bebek di sekujur tubuh, mulai dari kaki, badan hingga ke seluruh tubuh. Hal ini juga dilakukan juga pada pasien-pasien lain. Sang dukun berlagak sedang konsentrasi penuh, beberapa kemudian telor dipecah. Aneh bin ajaib, dari dalam telor keluar benda-benda nyata, berupa paku, rambut, katik sate, dan benda-benda lain.
“Ini, penyakitnya sudah keluar. Isinya paku, katik sate, dan rambut. Tolong nanti buang ke laut,” sang dukun berguman dingin. Saking gembiranya, Rinti hanya bisa mengangguk. Ia lega sakitnya pasti segera sembuh. Setelah sakit dinyatakan keluar, sang dukun menyodori pasiennya obat-obat paten, ber-merk impor, dengan harga lumayan mahal. Waktu itu Rinti dikasi sebotol minuman suplemen, rasanya enak seperti air kelapa. Enam kali datang ke dukun, Rinti tak kunjung sembuh, sakit kepala makin menjadi-jadi. Padahal menurut sang dukun, sakit sudah dianggap keluar, berupa paku, rambut, batu-batu, dan potongan katik sate. Enam kali berobat, ia telah menghabiskan duit 2 juta lebih. Beberapa hari kemudian Rinti merasa diolok-olok. Rinti curiga, bahwa telor yang dibawa para pasien ditukar dengan telor yang sudah diisi benda-benda nyata, semisal paku, jarum, rambur, tulang, dan benda-benda lain. I Wayan Sadha, kartunis kelahiran Jimbaran, Badung mengamini praktik itu mudah dilakukan. Ia sendiri pernah mengintip seorang dukun sengaja membuat olok-olok itu, yakni dengan melobangi telor. Kedalam telor dimasukkan benda-benda semisal paku, jarum, lidi dan sebagainya. Lubang kemudian ditempel kapur bercampur lem khusus. “Nah telor-telor inilah kemudian yang dipakai mengolok-olok pasein yang mudah terkagum-kagum dengan mujizat nyata,” ujar Wayan Sadha sembari ketawa ngakak.
Lain Ni Nyoman Rinti, lain pula pengalaman lucu dialami Made Sadra, pria jangkung asal Desa Padangsambian, Denpasar Barat. Suatu kali berobat pada seorang dukun di Tabanan. Niatnya mengobati rasa kesemutan yang tak pernah sembuh di kaki. Kali ini dukunnya orang Bali, kata orang ia sangat mumpuni, dan lama belajar di luar Bali. Menurut Sadra, sang dukun terlalu banyak cakap. Mengaku-aku telah menyembuhkan banyak orang, termasuk orang asing dan para pejabat. Sebelum berobat, Sadra sempat ragu, jangan-jangan sang dukun hanya sakti di mulut. Tapi, ayah tiga putra ini coba menghilangkan pikiran ragu itu. Sadra kemudian diobati, sekujur tubuh ditusuk-tusuk dengan sarana taring (caling) binatang, entah binatang apa. Beberapa lama, ketika tangan dukun menggapai leher bagian belakang, Sadra mendengar ada benda berbunyi “kriak” di kepalan tangan sang dukun. Sekejap kemudian sang dukun memperlihatkan segenggam tulang-tulang, mirip tulang binatang. Sadra terbengong, terkesima melihat benda aneh yang konon menurut balian keluar dari tubuhnya. Selintas keraguan tetap muncul, bagimana tubuh bisa mengeluarkan tulang-belulang tanpa tindakan bedah. Menurutnya ini aneh. Keanehan ini membuat ia jadi bimbang, antara percaya dan tidak percaya. Yang jadi pertanyaan, saban hari Made Sadra berobat ke dukun ini tubuhnya senantiasa mengeluarkan tulang-tulang melulu. Dari mana gerangan tulang-tulang ini. Sangat aneh, memang. Tapi yang jadi pkiran, kesemutan di kaki tak kunjung sembuh. Saban malam ia susah tidur. Ia pun berhenti berobat ke dukun. Kali ini ia rajin ke dokter, Sadra diberi obat penormal syaraf. Saban hari ia lakukan pemijatan di bagian-bagian tertentu. Berangsur-angsur kesemutan di kaki sembuh, lagi pula sampai kini sakitnya tak pernah kambuh. “Aduh saya sudah mendatangi banyak balian, toh sakit saya tak ada perubahan. Bosan, mungkin saya tak berjodoh di balian,” aku Sadra pada SARAD.
Sadra memang tak menuduh dukun bersangkutan telah berolok-olok, tapi di benaknya ia merasa dipermainkan. Jangan-jangan dukun bersangkutan pandai bermain sulap. “Yang tak habis pikir, selama sebulan berobat ke dukun bersangkutan tubuh saya tetap dinyatakan keluar tulang. Nah, kesangsian saya, apakah mungkin ada sekarung tulang liar di tubuh saya? Lagi pula tulang-tulang selalu keluar lewat tubuh bagian belakang, di wilayah yang sulit saya lihat. Ya, inilah yang membikin saya ragu, alih-alih sakit saya tak kunjung sembuh,” papar Sadra terheran-heran, akhirnya merasa kapok. SARAD menemukan sekian banyak kasus korban jebakan dukun palsu. Kisahnya bermacam-macam, ada yang lucu, ada yang tragis. Misalnya, setelah makan buah tertentu, seorang ibu dipastikan hamil oleh dukun, ternyata orang bersangkutan hamil anggur. Belum lagi berhadapan dengan dukun cabul, mata duitan, sok dekat dengan para dewa. Tapi rata-rata korban enggan melaporkan kasusnya ke pihak berwenang. Alasannya, sebagaimana dituturkan Made Sadra, kasus ini semata karena kebodohan sendiri, mudah termakan propaganda. “Ya buat apa dilaporkan, kecuali mempermalu diri sendiri. Ya sekarang harus hati-hati, jangan mudah termakan propaganda,” ujar Sadra sembari menggendong si bungsu.
Soal apakah dukun itu berlaku palsu atau tidak, sungguh tak mudah didifinisikan. Orang pun tidak boleh menuduh sembarangan, apalagi mengada-ada. Akan tetapi, subyektifitas, mudah percaya, dan kerap berpikir instan memungkinkan orang Bali mudah diolok-olok. Umumnya orang Bali mudah percaya mujizat, sebagaimana istilah manik sakecap. Ia tak hendak mau tahu proses, tak hendak mau berpikir rasional, nganutin sulur. Tentu sangatlah berbahaya orang yang tidak mau memahami proses, alih-alih anti pada proses. Celakanya orang cuma akan jadi pemakai, jadi konsumen semata, tanpa tahu prosesesnya. Dalam dinamika hidup kian keras, dalam iklim pasar serba bebas, ajaran belog polos orang Bali bisa memantik badai, tentu. Di kawasan pulau kecil nan terbuka ini senyatanya apa saja bisa terjadi. Orang baik, orang jahat akan sama-sama mengadu nasib di Bali. Justru itu berhat-hatilah dengan segala propaganda, rayuan, apalagi cumbuan. Karena tak cuma turis, peneliti, usahawan, bandit, bandar judi, bandar narkoba, wanita tuna susila (WTS), orang suci, dan yogin akan menyemut ke Bali - akan tetapi yang bernama dukun, tabib, pengobat tradisional juga ramai-ramai berpraktik di Bali. “Jika perut lapar, jangankan materi, teman dekat saja bisa dimakan,” seloroh Nyoman Sukasih, pedagang rempah-rempah di pasar Kumbasari, Denpasar - yang dulu pernah diolok-olok dukun akibat lama tak bisa hamil.
Tak hendak menyudutkan profesi dukun yang sangat penting di masyarakat, nyatanya tidak semua dukun atau balian lega berolok-olok. Di Bali banyak dukun yang baik, tentu. Mereka ikhlas mengabdikan tenaga demi panggilan kemanusiaan, tak berhitung siang dan malam, hari hujan atau terang. Mereka tak berpikir seberapa besar imbalan diterima. Bagi seorang dukun, yang memegang penuh hukum kesantunan hidup, panggilan sebagai pengobat merupakan investasi hidup nyata, investasi yang belum tentu mendatangkan keutungan langsung. Berolok-olok, main jebak-jebakan, pamerih sama artinya dengan memiskinkan investasi hidup -- karenanya ia tidak disebut balian, sang pengembali hidup sempurna. Sebaliknya dukun yang suka pamerih, disebut pula dengan ma-alih-alihan, artinnya; mengemis-ngemis menanti kemiskinan. Bagi yang menghargai hidup, berolok-olok tentu dianggap menistakan sang hidup - karena sejatinya hidup yang senantiasa mengalir memerlukan kerelaan melepas -- mengembalikan seseorang ke kodratnya yang asali, sempurna-paripurna. Perihal dukun palsu tidak merupakan fenomena baru, memang. Ia senantiasa muncul dari zaman ke zaman. Ki Dalang Tangsub, sastrawan pengarang geguritan Basur, sejak zaman silam sudah mewanti-wanti tentang bentuk-bentuk penipuan seorang balian. Bahwa begitu tipis perbedaan antara balian sakti dan balian mabet sakti (pura-pura berlaku sakti). Perbedaannya setipis celana dalam wanita, tentu. Maka itu, alangkah elok jika orang Bali mulai pintar memilih, tak mudah termakan propaganda. Wiweka, senantiasa berhati-hati penting di zaman carut-marut ini. Tim SARAD