PARUMAN
hal 1 | hal
2 | hal 3 | hal
4
Jalan Derma para Penyembuh
Melebihi tugas dasarnya
yang utama, panggilan puncak seorang balian jelas
diikhtiarkan untuk mengembalikan kondisi seseorang
pada hakikat yang murni sejati sempurna-paripurna
-- sehat secara fisik maupun batin
Apa
akibat jika seorang dukun doyan berlaku pamerih, rakus,
curang, suka berolok-olok? Lontar Bodha Kecapi, teks
yang menjabarkan bagaimana kesantunan (sasana) seorang
balian menjabarkan benderang. “Sentana rusak
tani karuan laku, manguntang-mangunting, tiwas tur
kereng, ika dahating wigna ing angganta juga, mangke
sira angusadani, awya sira mangkana, apan angrubeda
ring sentana palania, tan genep pangan kinum, boros
tempong. Apan Sanghyang Daksina madruwe kang salwiring
sasantun mwang daksina.”
Artinya: Keturunan rusak tak jelas juntrungnya, lakunya
bingung tak menentu, kerja berat tanpa hasil. Perilaku
ini sangat mencemari dirimu. Bila hendak mengobati,
jangan sepert itu, merusak keturunan akibatnya, tidak
cukup sandang pangan, boros dan bocor. Karena, pada
hakikatnya pemilik semua honor (sesantun) adalah Sanghyang
Daksina.
Kutipan teks Bodha Kecapi tadi memperjelas posisi
balian, bahwa etik bagi seorang penyembuh tidak di
wilayah jual beli, pamer kesaktian, apalagi hendak
menjebak-jebak sesama hidup. Bagi seorang penyembuh,
yang senantiasa menjaga kesantunan hidup, wilayah
jual beli adalah wilayah pemiskinan, hina dan paria.
Karena senyatanya perilaku tersebut dianggap mengendat
kodrat hidup yang senantiasa mengalir, berkembang,
dan bertumbuh. Begitulah senyatanya hidup, mengalir
dan mengalir sebagaimana kodrat air. Karena memang
jika air itu diempang, tak saja membuat air itu rusak,
tercemar, dan sebagainya - tapi banjir yang
merusak ekosistem hidup dipastikan bisa terjadi.
Siapa gerangan sejatinya balian itu, hingga sedemikian
ketat mengusung kesantunan hidup tinggi? Agak susah
menjawabnya, tentu. Karena, jika hendak jujur, jawaban
akan amat naïf, dicemoh mereka yang senantiasa
berpikir untung rugi, kalah-menang, serta selalu meninggikan
harga diri, yang sebaliknya lupa meninggikan harkat
diri - sibuk mengejar-ngejar pemuas diri yang
sejatinya tak pernah terpuaskan itu. Bukankah nafsu
jika tak terkendalikan senantiasa menyala-nyala, bak
bara disiram minyak -- pasti senantiasa berkobar-kobar.
Jika hendak memahami hakikat semesta hidup, yang diposisikan
sebagai balian tentu tak cuma seorang penyembuh. Melebihi
dari tugas dasarnya yang utama, panggilan puncak seorang
balian jelas diikhtiarkan untuk mengembalikan kondisi
seseorang pada hakikat yang murni sejati sempurna-paripurna
-- sehat secara fisik maupun batin. Kerena dengan
demikian teks-teks Usada mewanti ketat kendali hidup
seorang balian. Yang paling utama balian diharuskan
mengerti hakikat tunggal muasal buana agung dan buana
alit, weruh ta ring kandaning buana agung-alit. Weruh
ta ring tekaning pati lawan urip, paham hakikat mati
dan hidup, dan mengerti pola pengobatan, weruh ring
kandaning tamba, serta menjauhi praktik hidup yang
melawan kodrat hidup.
Tak mudah sesungguhnya memegang sasana balian -
apalagi hendak jumawa, mengaku-aku sakti. Karena itu,
urusan jual beli, untung rugi, kalah menang, tidak
menjadi bagian dari kesantunan hidup seorang balian.
Tugas hidup melayani semua bukan lagi menjadi urusan
antara panggilan dan terpanggil, antara tugas dan
kodrat hidup. Di titik ini yang senantiasa dipegang
tentu tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan
sang mahahidup.
Ketulusan
mengurangi derita orang lain, meringankan beban sesama
menjadi sebentuk investasi di bank alam semesta. Bank
yang dalam hidup ini tak bisa dikorupsi, dimanipulasi
dengan kecurangan apapun. Karena pada saatnya, jika
jatuh tempo datang, seluruh kewajiban bayar-membayar
mesti dijalankan. Semua tunggakkan, berikut bunga
memiliki tengat pasti untuk ditagih. Dalam ekosistem
bank alam semesta ini, manusia sejatinya tidak memiliki
apa-apa. Badan ini pun merupakan milik bank alam.
Karena suatu saat nanti, jika waktunya tiba, tubuh
ini akan diambil jua. Maka itu milik paling berharga
dalam hidup ini adalah derma dan ketulusan.
Apa gerangan upah paling berharga bagi seorang penyembuh?
Jawabnya tentu bukan uang, materi atau kepuasaan biologis
lainnya. Upah paling berharga bagi seorang balian
atau penyembuh tentu ketika seseorang tersembuhkan,
terbebaskan dari derita hidup, termurnikan ke asalnya
yang paripurna. Inilah medali bagi setiap penyembuh,
yakni: kebaikan yang ditabur demi hidup dan kehidupan.
Tentu tidak ada seseuatu paling berharga di dunia
ini terkecuali bagi sang penderma hidup itu sendiri.
Kemurnian, ketulusan, dan kerendahatian merupakan
biji-biji derma yang kelak akan tumbuh dan berbuah
kelak suatu hari nanti. Ibarat pohon, kewajibannya
hanya berbuah dan berbuah, tanpa niat hendak mengangkangi
buahnya sendiri. Begitu seeloknya panggilan seorang
balian, yang tentu tak berharap hasil kerjanya. Buah
paling lebat bagi seorang penyembuh tentu karena senantiasa
ada kesempatan menolong, tanpa hendak membeda-bedakan
sesama.
Karenanya, cinta kasih, ketulusan tanpa cela, tanggung
jawab pada sang hidup merupakan obat paling manjur
bagi seorang penyembuh. Justru itu, dalam hidup harta
paling berharga adalah badan sendiri. Mustahil misi
pertolongan bisa dijalankan saat seseorang tidak berbadan,
alias mati. Teks-teks susastra Bali teramat gamblang
menggambarkan, serta-merta menyarakan, “Lakukan
pertolongan selagi Anda masih hidup - jalankan
perbuatan baik selagi bank semesta alam belum menagih
badan ini.”
Teks-teks susastra Bali menulisskan benderang, hendaknya
badan ini tak disia-siakan. Menyia-nyiakan berarti
tidak menghargai harta paling utama dalam hidup. Maka
jangan heran jika dalam setiap perjumpaan sesama orang
Bali yang ditanyakan senantiasa adalah soal sehat.
“Kenken, seger?,” begitulah orang Bali
biasa bersapa, yang seakan-akan dianggap basa-basi.
Namun di balik itu sesungguhnya ada harapan tinggi,
ada pengutamaan, bahwa kesehatan, kesembuhan merupakan
hak milik paling berharga dalam hidup. Karena itu,
seger oger sadia rahayu, sehat dan senantiasa rahayu
menjadi harapan setiap orang. Karenanya saban puja
puji kehadapan sang pemilik hidup, yang dimohon tentu
sehat dan bahagia, seger miwah kenak.
Tak salahlah kemudian apabila dokter pengarang, almarhum
Ida Bagus Rai, memahami kesehatan itu sebagai kekayaan
paling utama. “Kesehatan taler dados upamiyang,
paduran pinih luwih, kasugihan ne utama, langkungan
ring raja brana. Artinya: Kesehatan itu dapat juga
diumpamakan, milik yang paling berharga, kekayaan
paling utama, melebihi kekayaan emas permata. Karena
mustahilah orang bisa melakukan derma selagi badan
ini dalam kedaaan tidak sehat tak berdaya.
Memang tentang datangnya sakit sungguh tak bisa ditolak.
Jika saatnya tiba, bila manusia tak hirau dengan badan,
lengah, dan ceroboh, sakit pasti datang tanpa pilih-pilih.
Ia datang tidak siang dan tidak juga malam.Orang kaya,
miskin, penjahat, si baik budi, tampan atau si buruk
rupa “si hantu misteri” bernama sakit
pasti datang tanpa mengetuk pintu. Inilah kenapa seorang
balian disarankan memahami dengan baik patengering
pati urip, memahami dengan baik soal mati hidup seseorang.
Sungguh betapa pelik tugas ini, betapa tinggi cita-cita
ini bagi manusia biasa.
Tapi bagi sesorang yang bersahabat dengan penguasa
hidup, berbaik hati dengan sang penentu waktu, boleh
jadi tiada halangan memahami pertanda mati dan hidup.
Bukankah teks-teks Usada dan teks-teks kediatmikan
di Bali bertutur indah tentang hal ini - kendati
terasa lamat-lamat dan sayup, para pejalan yang sadar
pada jalan “pulang” disarankan mendalami
cara berpulang secara benar.
Bila Anda akrab dengan teks-teks tua, semisal kakawin
Nitisastra, sejak awal hal ini memang sudah dirasakan,
supaya hidup ini, badan ini dipergunakan sebaik-baiknya
untuk memahami hakikat hidup dan hakikat berpulang.
“Taki-takining sewaka guna widya, smara wisaya
rwang puluh ing ayusya, tengah i tuwuh san-wacana
gegon ta, patilaring atmeng tanu paguroken.Artinya,
selagi muda hendaknya seseorang rajin belajar pengetahuan
dan keutamaan. Jika usia menginjak dua puluh tahun,
orang hendaknya berkeluarga. Bila usia telah separoh
baya, berpeganglah pada ucapan baik, tentang lepasnya
atma dari badan hendaknya dipelajari,” demikian
teks ini menyuratkan.
Tentu darma seorang penyembuh bukanlah soal hidup-mati,
akan tetapi, sekali lagi mengembalikan (bali-aken)
kondisi seseorang pada fitrahnya yang hakiki, yakni:
suci murni tanpa noda, ning nirmala tan paleteh.
I Wayan Westa