No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

PARUMAN
hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4

Jalan Derma para Penyembuh

Melebihi tugas dasarnya yang utama, panggilan puncak seorang balian jelas diikhtiarkan untuk mengembalikan kondisi seseorang pada hakikat yang murni sejati sempurna-paripurna -- sehat secara fisik maupun batin

Apa akibat jika seorang dukun doyan berlaku pamerih, rakus, curang, suka berolok-olok? Lontar Bodha Kecapi, teks yang menjabarkan bagaimana kesantunan (sasana) seorang balian menjabarkan benderang. “Sentana rusak tani karuan laku, manguntang-mangunting, tiwas tur kereng, ika dahating wigna ing angganta juga, mangke sira angusadani, awya sira mangkana, apan angrubeda ring sentana palania, tan genep pangan kinum, boros tempong. Apan Sanghyang Daksina madruwe kang salwiring sasantun mwang daksina.”
Artinya: Keturunan rusak tak jelas juntrungnya, lakunya bingung tak menentu, kerja berat tanpa hasil. Perilaku ini sangat mencemari dirimu. Bila hendak mengobati, jangan sepert itu, merusak keturunan akibatnya, tidak cukup sandang pangan, boros dan bocor. Karena, pada hakikatnya pemilik semua honor (sesantun) adalah Sanghyang Daksina.
Kutipan teks Bodha Kecapi tadi memperjelas posisi balian, bahwa etik bagi seorang penyembuh tidak di wilayah jual beli, pamer kesaktian, apalagi hendak menjebak-jebak sesama hidup. Bagi seorang penyembuh, yang senantiasa menjaga kesantunan hidup, wilayah jual beli adalah wilayah pemiskinan, hina dan paria. Karena senyatanya perilaku tersebut dianggap mengendat kodrat hidup yang senantiasa mengalir, berkembang, dan bertumbuh. Begitulah senyatanya hidup, mengalir dan mengalir sebagaimana kodrat air. Karena memang jika air itu diempang, tak saja membuat air itu rusak, tercemar, dan sebagainya - tapi banjir yang merusak ekosistem hidup dipastikan bisa terjadi.
Siapa gerangan sejatinya balian itu, hingga sedemikian ketat mengusung kesantunan hidup tinggi? Agak susah menjawabnya, tentu. Karena, jika hendak jujur, jawaban akan amat naïf, dicemoh mereka yang senantiasa berpikir untung rugi, kalah-menang, serta selalu meninggikan harga diri, yang sebaliknya lupa meninggikan harkat diri - sibuk mengejar-ngejar pemuas diri yang sejatinya tak pernah terpuaskan itu. Bukankah nafsu jika tak terkendalikan senantiasa menyala-nyala, bak bara disiram minyak -- pasti senantiasa berkobar-kobar.
Jika hendak memahami hakikat semesta hidup, yang diposisikan sebagai balian tentu tak cuma seorang penyembuh. Melebihi dari tugas dasarnya yang utama, panggilan puncak seorang balian jelas diikhtiarkan untuk mengembalikan kondisi seseorang pada hakikat yang murni sejati sempurna-paripurna -- sehat secara fisik maupun batin. Kerena dengan demikian teks-teks Usada mewanti ketat kendali hidup seorang balian. Yang paling utama balian diharuskan mengerti hakikat tunggal muasal buana agung dan buana alit, weruh ta ring kandaning buana agung-alit. Weruh ta ring tekaning pati lawan urip, paham hakikat mati dan hidup, dan mengerti pola pengobatan, weruh ring kandaning tamba, serta menjauhi praktik hidup yang melawan kodrat hidup.
Tak mudah sesungguhnya memegang sasana balian - apalagi hendak jumawa, mengaku-aku sakti. Karena itu, urusan jual beli, untung rugi, kalah menang, tidak menjadi bagian dari kesantunan hidup seorang balian. Tugas hidup melayani semua bukan lagi menjadi urusan antara panggilan dan terpanggil, antara tugas dan kodrat hidup. Di titik ini yang senantiasa dipegang tentu tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungan sang mahahidup.
Ketulusan mengurangi derita orang lain, meringankan beban sesama menjadi sebentuk investasi di bank alam semesta. Bank yang dalam hidup ini tak bisa dikorupsi, dimanipulasi dengan kecurangan apapun. Karena pada saatnya, jika jatuh tempo datang, seluruh kewajiban bayar-membayar mesti dijalankan. Semua tunggakkan, berikut bunga memiliki tengat pasti untuk ditagih. Dalam ekosistem bank alam semesta ini, manusia sejatinya tidak memiliki apa-apa. Badan ini pun merupakan milik bank alam. Karena suatu saat nanti, jika waktunya tiba, tubuh ini akan diambil jua. Maka itu milik paling berharga dalam hidup ini adalah derma dan ketulusan.
Apa gerangan upah paling berharga bagi seorang penyembuh? Jawabnya tentu bukan uang, materi atau kepuasaan biologis lainnya. Upah paling berharga bagi seorang balian atau penyembuh tentu ketika seseorang tersembuhkan, terbebaskan dari derita hidup, termurnikan ke asalnya yang paripurna. Inilah medali bagi setiap penyembuh, yakni: kebaikan yang ditabur demi hidup dan kehidupan. Tentu tidak ada seseuatu paling berharga di dunia ini terkecuali bagi sang penderma hidup itu sendiri. Kemurnian, ketulusan, dan kerendahatian merupakan biji-biji derma yang kelak akan tumbuh dan berbuah kelak suatu hari nanti. Ibarat pohon, kewajibannya hanya berbuah dan berbuah, tanpa niat hendak mengangkangi buahnya sendiri. Begitu seeloknya panggilan seorang balian, yang tentu tak berharap hasil kerjanya. Buah paling lebat bagi seorang penyembuh tentu karena senantiasa ada kesempatan menolong, tanpa hendak membeda-bedakan sesama.
Karenanya, cinta kasih, ketulusan tanpa cela, tanggung jawab pada sang hidup merupakan obat paling manjur bagi seorang penyembuh. Justru itu, dalam hidup harta paling berharga adalah badan sendiri. Mustahil misi pertolongan bisa dijalankan saat seseorang tidak berbadan, alias mati. Teks-teks susastra Bali teramat gamblang menggambarkan, serta-merta menyarakan, “Lakukan pertolongan selagi Anda masih hidup - jalankan perbuatan baik selagi bank semesta alam belum menagih badan ini.”
Teks-teks susastra Bali menulisskan benderang, hendaknya badan ini tak disia-siakan. Menyia-nyiakan berarti tidak menghargai harta paling utama dalam hidup. Maka jangan heran jika dalam setiap perjumpaan sesama orang Bali yang ditanyakan senantiasa adalah soal sehat. “Kenken, seger?,” begitulah orang Bali biasa bersapa, yang seakan-akan dianggap basa-basi. Namun di balik itu sesungguhnya ada harapan tinggi, ada pengutamaan, bahwa kesehatan, kesembuhan merupakan hak milik paling berharga dalam hidup. Karena itu, seger oger sadia rahayu, sehat dan senantiasa rahayu menjadi harapan setiap orang. Karenanya saban puja puji kehadapan sang pemilik hidup, yang dimohon tentu sehat dan bahagia, seger miwah kenak.
Tak salahlah kemudian apabila dokter pengarang, almarhum Ida Bagus Rai, memahami kesehatan itu sebagai kekayaan paling utama. “Kesehatan taler dados upamiyang, paduran pinih luwih, kasugihan ne utama, langkungan ring raja brana. Artinya: Kesehatan itu dapat juga diumpamakan, milik yang paling berharga, kekayaan paling utama, melebihi kekayaan emas permata. Karena mustahilah orang bisa melakukan derma selagi badan ini dalam kedaaan tidak sehat tak berdaya.
Memang tentang datangnya sakit sungguh tak bisa ditolak. Jika saatnya tiba, bila manusia tak hirau dengan badan, lengah, dan ceroboh, sakit pasti datang tanpa pilih-pilih. Ia datang tidak siang dan tidak juga malam.Orang kaya, miskin, penjahat, si baik budi, tampan atau si buruk rupa “si hantu misteri” bernama sakit pasti datang tanpa mengetuk pintu. Inilah kenapa seorang balian disarankan memahami dengan baik patengering pati urip, memahami dengan baik soal mati hidup seseorang. Sungguh betapa pelik tugas ini, betapa tinggi cita-cita ini bagi manusia biasa.
Tapi bagi sesorang yang bersahabat dengan penguasa hidup, berbaik hati dengan sang penentu waktu, boleh jadi tiada halangan memahami pertanda mati dan hidup. Bukankah teks-teks Usada dan teks-teks kediatmikan di Bali bertutur indah tentang hal ini - kendati terasa lamat-lamat dan sayup, para pejalan yang sadar pada jalan “pulang” disarankan mendalami cara berpulang secara benar.
Bila Anda akrab dengan teks-teks tua, semisal kakawin Nitisastra, sejak awal hal ini memang sudah dirasakan, supaya hidup ini, badan ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk memahami hakikat hidup dan hakikat berpulang. “Taki-takining sewaka guna widya, smara wisaya rwang puluh ing ayusya, tengah i tuwuh san-wacana gegon ta, patilaring atmeng tanu paguroken.Artinya, selagi muda hendaknya seseorang rajin belajar pengetahuan dan keutamaan. Jika usia menginjak dua puluh tahun, orang hendaknya berkeluarga. Bila usia telah separoh baya, berpeganglah pada ucapan baik, tentang lepasnya atma dari badan hendaknya dipelajari,” demikian teks ini menyuratkan.
Tentu darma seorang penyembuh bukanlah soal hidup-mati, akan tetapi, sekali lagi mengembalikan (bali-aken) kondisi seseorang pada fitrahnya yang hakiki, yakni: suci murni tanpa noda, ning nirmala tan paleteh. I Wayan Westa