PARUMAN
hal 1 | hal
2 | hal 3 | hal
4
Sudah Jatuh Tertimpa
Tangga
Andaikan kurang hati-hati mencari pengobat tradisional,
bukan tak mungkin bisa terantuk dukun palsu. Alih-alih
mendapatkan kesembuhan, justru penderitaan pasien
bertambah parah.
Seorang
lelaki sebut saja Wayan Jana (bukan nama sebenarnya),
asal kawasan Gianyar utara, tersungut-sungut di bale
daja. Pikirannya melayang, teringat akan peristiwa
yang menimpa mendiang anaknya dua tahun silam. Putri
pertamanya dulu menderita penyakit cukup parah. Perutnya
kembung tak berkesudahan, kakinya terus membengkak.
Keluarga yang tinggal di Jakarta ini, berulangkali
memeriksakan sang putri ke dokter, malah sempat sampai
opname (menginap di rumah sakit) lebih dari seminggu.
Toh, dia tak memperoleh hasil maksimal. Sakit sang
putri sempat mereda, tapi dalam beberapa hari kembali
kambuh.
Merasa kurang memperoleh hasil di pengobatan medis,
bapak tiga putri ini lantas membawa sang putri ke
praktek penyembuhan alternatif, pada seorang dukun
Jawa sesuai anjuran teman-temannya di kantor. Tiba
di dukun, bagian yang selama ini menjadi sumber sakit
anaknya diraba. Usai melakukan pemeriksaan, sang dukun
mengatakan bahwa di perut si pasien terdapat semacam
benda bulat berwujud daging. Benda inilah konon yang
menjadikan sakitnya tak sembuh-sembuh. “Dukun
itu bilang penyakit itu mesti dikeluarkan sesegera
mungkin. Jika tidak, maka bisa mengancam nyawa anak
kami,” kenang lelaki yang bekerja di perusahaan
swasta ini. Begitu haus Jana akan kesembuhan sang
putri, sehingga dia pun mengikuti anjuran sang dukun.
Sang dukun mengaku akan mentransfer penyakit putri
Jana ke binatang. Namun sebelumnya harus disediakan
sarana berupa ayam. Mulailah ritual pentransferan
penyakit dilakukan. Ayam yang suah disiapkan untuk
menjadi korban pun ada di depan dukun. Berikutnya
dukun itu komat-kamit. “Tak ngerti apa yang
disampaikan dukun kala itu. Saya hanya bisa pasrah
dan mengikuti anjurannya. Terpenting si anak bisa
sembuh,” katanya. Usai mengucapkan semacam mantra,
tangan
si dukun kemudian menekan perut anaknya. Berikutnya
tangan yang masih terkepal itu diarahkan ke ayam.
Setelah proses pentransferan penyakit tersebut, perut
anaknya memang agak mengempes. Sakitnya juga dirasa
tak terlalu melilit. Sayang, kesembuhan itu tak berlangsung
lama. Tiga bulan berselang penyakit putri Jana itu
kambuh kembali. Pasca kejadian itu, dia tak berani
berharap banyak. Kecuali tetap memeriksakan anaknya
ke pengobatan medis dan sesekali waktu dibawa ke pengobatan
tradisional. Namun, semua itu tak banyak membantu
hingga akhirnya di tahun 2005, anak Jana harus menghadap
Tuhan, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. “Saya
tak bisa berucap apa pun atas apa yang menimpa. Mungkin
itu takdirnya. Tyang sekeluarga pun merelakan kepergiannya,”
tuturnya sendu. Jana jelas bukan satu-satunya orang
Bali yang mengalami kisah tragis merasa diolok-olok
dukun. Banyak kasus serupa yang dialami masyarakat.
Beberapa menggelembung ke permukaan. Tak jarang pula
kasusnya didiamkan. Sebut misalkan kasus satu keluarga
di Kota Denpasar yang lama tak memiliki keturunan.
Karena saking ‘ngebet’ keluarga ini ingin
memiliki momongan, maka istrinya pun diajak pergi
ke dukun yang ada di seputaran, kawasan Jalan Jayagiri,
Denpasar. Di tempat sang dukun orang bersangkutan
berobat. Dukun pun mengaku bahwa, pasiennya memiliki
peluang besar untuk punya keturunan. Mendapat angin
segar seperti itu, pasien, sebut saja Marni (bukan
nama sebenarnya), hatinya semakin berbunga. Dia tiada
henti datang ke dukun itu dan selalu mengikuti syarat-syarat
yang ditentukan, di antaranya menganjurkan Marni agar
tak pergi ke dokter selama proses pengobatan. Pasca
berobat ke dukun itu, perut Marni memang terus membesar
dan membesar. Deteksi dukun pun makin ampuh.Hingga
waktu lahir si jabang bayi pun tiba. Umur kandungan
ibu paruh baya ini sudah menginjak sembilan bulanan.
Lacur, begitu keluar, ternyata yang hadir bukan cabang
bayi melainkan air. Betapa terkejut Marni dan keluarganya
mendapati kejadian itu. Dia shock, apalagi suah mengeluarkan
biaya cukup banyak. Mencapai puluhan juta. Toh dia
tak mampu berbuat banyak kecuali hanya melaporkan
kasus ini ke pihak berwenang. Kisah dukun ‘palsu’
yang berulah seperti tadi sejatinya ada banyak di
Bali. Ada orang Bali tak jarang dari luar daerah.
Masih ingat dengan kasus balian Kalki di daerah perbatasan
antara Gianyar timur dengan Bangli. Orang yang mengaku
jadi balian itu menyatakan diri sebagai turunan Batara
Dalem. Warga pun sempat dibuat gerah oleh ulah si
balian tersebut. Kemudian balian yang menghebohkan
dan mengaku sebagai manifestasi Batara Siwa di kaasan
Panjer, Denpasar. Pun seorang yang membuka praktik
mengenai ‘transfer prana’ di mana pada
masa jaya dulu pasien hariannya rata rata 800 orang.
Setelah beroperasi beberapa tahun berpraktik, dukun
ini pun akhirnya tutup toko, karena ternyata transfer
uang pasiennya selama ini tidak sungguh-sungguh diiringi
oleh ‘transfer prana’-nya. Dalam cermat
Ida Bagus Pujaastawa, adanya orang-orang sampai terjebak
dalam tindakan dukun palsu bisa dipicu oleh keterbatasan
pengetahuan dan kurangnya informasi yang bisa diakses.
” Keinginan cepat sembuh menjadi tujuan utamanya.
Akibat dari besarnya kemauan sembuh itu, maka segala
cara akan ditempuh keluarga pasien. Termasuk menempuh
jalan pengobatan alternatif,” ujar antropolog
dari Fakultas Sastra Universitas Udayana. Padahal
jika diamati lebih mendalam, pengobatan tradisional
sekalipun masih diposisikan sebagai sistem pengobatan
alternatif, namun bukan tidak mungkin akan menjadi
tandingan bagi sistem pengobatan modern. Terbukti,
di saat institusi kesehatan modern, seperti rumah
sakit, puskesmas, dan praktik-praktik dokter swasta
telah tersebar hingga ke pelosok, namun praktik pengobatan
tradisional seperti yang dilakukan oleh para balian
tampaknya tetap laris manis. Para pengguna jasa balian
pun tidak terbatas hanya kalangan masyarakat tertentu,
juga meliputi berbagai status sosial. Dalam hal ini,
tunjuk dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan
Budaya Unud ini, keberadaan etnomedisin (tradisional)
kerap memberikan alternatif ketika sistem pengobatan
Barat (modern) tidak mampu memberikan jawaban memuaskan.
Tidak jarang penderita yang telah kehilangan harapan
karena “divonis mati” oleh pihak rumah
sakit, ternyata sembuh di tangan balian. Kenyataan
semacam ini tentu kian meligitimasi keampuhan sistem
pengobatan tradisional sehingga keberadaannya patut
diperhitungkan masyarakat modern sekalipun. Hal lain
yang mendorong bangkitnya sistem pengobatan tradisional
adalah berkaitan dengan fungsinya sebagai lambang
identitas sekaligus lambang kebanggaan adiluhung bagi
sebuah peradaban. Berkenaan dengan ini sejumlah negara
telah berupaya menggali dan mengembangkan sistem medis
tradisional mereka serta memposisikannya pada status
terpisah namun sederajat dengan ilmu kedokteran Barat.
Cuma, sekali lagi Pujaastawa mengingatkan, sepatutnya
orang lebih selektif dan mencari banyak informasi
ketika hendak berobat ke penyembuh jenis ini, sehingga
tak sampai terjerumus. Satu ajakan yang patut ditelaah
secara bijak, sehingga orang tak terlalu kadropon
(tergesa-gesa) yang ujung-ujungnya penderita terbelenggu
dalam posisi yang lebih menyakitkan. Seperti pepatah
lawas “Sudah jatuh tertimpa tangga”.I
wayan Sucipta