No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

PARUMAN
hal 1 | hal 2 | hal 3 | hal 4

Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Andaikan kurang hati-hati mencari pengobat tradisional, bukan tak mungkin bisa terantuk dukun palsu. Alih-alih mendapatkan kesembuhan, justru penderitaan pasien bertambah parah.

Seorang lelaki sebut saja Wayan Jana (bukan nama sebenarnya), asal kawasan Gianyar utara, tersungut-sungut di bale daja. Pikirannya melayang, teringat akan peristiwa yang menimpa mendiang anaknya dua tahun silam. Putri pertamanya dulu menderita penyakit cukup parah. Perutnya kembung tak berkesudahan, kakinya terus membengkak. Keluarga yang tinggal di Jakarta ini, berulangkali memeriksakan sang putri ke dokter, malah sempat sampai opname (menginap di rumah sakit) lebih dari seminggu. Toh, dia tak memperoleh hasil maksimal. Sakit sang putri sempat mereda, tapi dalam beberapa hari kembali kambuh.
Merasa kurang memperoleh hasil di pengobatan medis, bapak tiga putri ini lantas membawa sang putri ke praktek penyembuhan alternatif, pada seorang dukun Jawa sesuai anjuran teman-temannya di kantor. Tiba di dukun, bagian yang selama ini menjadi sumber sakit anaknya diraba. Usai melakukan pemeriksaan, sang dukun mengatakan bahwa di perut si pasien terdapat semacam benda bulat berwujud daging. Benda inilah konon yang menjadikan sakitnya tak sembuh-sembuh. “Dukun itu bilang penyakit itu mesti dikeluarkan sesegera mungkin. Jika tidak, maka bisa mengancam nyawa anak kami,” kenang lelaki yang bekerja di perusahaan swasta ini. Begitu haus Jana akan kesembuhan sang putri, sehingga dia pun mengikuti anjuran sang dukun. Sang dukun mengaku akan mentransfer penyakit putri Jana ke binatang. Namun sebelumnya harus disediakan sarana berupa ayam. Mulailah ritual pentransferan penyakit dilakukan. Ayam yang suah disiapkan untuk menjadi korban pun ada di depan dukun. Berikutnya dukun itu komat-kamit. “Tak ngerti apa yang disampaikan dukun kala itu. Saya hanya bisa pasrah dan mengikuti anjurannya. Terpenting si anak bisa sembuh,” katanya. Usai mengucapkan semacam mantra, tangan si dukun kemudian menekan perut anaknya. Berikutnya tangan yang masih terkepal itu diarahkan ke ayam. Setelah proses pentransferan penyakit tersebut, perut anaknya memang agak mengempes. Sakitnya juga dirasa tak terlalu melilit. Sayang, kesembuhan itu tak berlangsung lama. Tiga bulan berselang penyakit putri Jana itu kambuh kembali. Pasca kejadian itu, dia tak berani berharap banyak. Kecuali tetap memeriksakan anaknya ke pengobatan medis dan sesekali waktu dibawa ke pengobatan tradisional. Namun, semua itu tak banyak membantu hingga akhirnya di tahun 2005, anak Jana harus menghadap Tuhan, kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. “Saya tak bisa berucap apa pun atas apa yang menimpa. Mungkin itu takdirnya. Tyang sekeluarga pun merelakan kepergiannya,” tuturnya sendu. Jana jelas bukan satu-satunya orang Bali yang mengalami kisah tragis merasa diolok-olok dukun. Banyak kasus serupa yang dialami masyarakat. Beberapa menggelembung ke permukaan. Tak jarang pula kasusnya didiamkan. Sebut misalkan kasus satu keluarga di Kota Denpasar yang lama tak memiliki keturunan. Karena saking ‘ngebet’ keluarga ini ingin memiliki momongan, maka istrinya pun diajak pergi ke dukun yang ada di seputaran, kawasan Jalan Jayagiri, Denpasar. Di tempat sang dukun orang bersangkutan berobat. Dukun pun mengaku bahwa, pasiennya memiliki peluang besar untuk punya keturunan. Mendapat angin segar seperti itu, pasien, sebut saja Marni (bukan nama sebenarnya), hatinya semakin berbunga. Dia tiada henti datang ke dukun itu dan selalu mengikuti syarat-syarat yang ditentukan, di antaranya menganjurkan Marni agar tak pergi ke dokter selama proses pengobatan. Pasca berobat ke dukun itu, perut Marni memang terus membesar dan membesar. Deteksi dukun pun makin ampuh.Hingga waktu lahir si jabang bayi pun tiba. Umur kandungan ibu paruh baya ini sudah menginjak sembilan bulanan. Lacur, begitu keluar, ternyata yang hadir bukan cabang bayi melainkan air. Betapa terkejut Marni dan keluarganya mendapati kejadian itu. Dia shock, apalagi suah mengeluarkan biaya cukup banyak. Mencapai puluhan juta. Toh dia tak mampu berbuat banyak kecuali hanya melaporkan kasus ini ke pihak berwenang. Kisah dukun ‘palsu’ yang berulah seperti tadi sejatinya ada banyak di Bali. Ada orang Bali tak jarang dari luar daerah. Masih ingat dengan kasus balian Kalki di daerah perbatasan antara Gianyar timur dengan Bangli. Orang yang mengaku jadi balian itu menyatakan diri sebagai turunan Batara Dalem. Warga pun sempat dibuat gerah oleh ulah si balian tersebut. Kemudian balian yang menghebohkan dan mengaku sebagai manifestasi Batara Siwa di kaasan Panjer, Denpasar. Pun seorang yang membuka praktik mengenai ‘transfer prana’ di mana pada masa jaya dulu pasien hariannya rata rata 800 orang. Setelah beroperasi beberapa tahun berpraktik, dukun ini pun akhirnya tutup toko, karena ternyata transfer uang pasiennya selama ini tidak sungguh-sungguh diiringi oleh ‘transfer prana’-nya. Dalam cermat Ida Bagus Pujaastawa, adanya orang-orang sampai terjebak dalam tindakan dukun palsu bisa dipicu oleh keterbatasan pengetahuan dan kurangnya informasi yang bisa diakses. ” Keinginan cepat sembuh menjadi tujuan utamanya. Akibat dari besarnya kemauan sembuh itu, maka segala cara akan ditempuh keluarga pasien. Termasuk menempuh jalan pengobatan alternatif,” ujar antropolog dari Fakultas Sastra Universitas Udayana. Padahal jika diamati lebih mendalam, pengobatan tradisional sekalipun masih diposisikan sebagai sistem pengobatan alternatif, namun bukan tidak mungkin akan menjadi tandingan bagi sistem pengobatan modern. Terbukti, di saat institusi kesehatan modern, seperti rumah sakit, puskesmas, dan praktik-praktik dokter swasta telah tersebar hingga ke pelosok, namun praktik pengobatan tradisional seperti yang dilakukan oleh para balian tampaknya tetap laris manis. Para pengguna jasa balian pun tidak terbatas hanya kalangan masyarakat tertentu, juga meliputi berbagai status sosial. Dalam hal ini, tunjuk dosen Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Unud ini, keberadaan etnomedisin (tradisional) kerap memberikan alternatif ketika sistem pengobatan Barat (modern) tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Tidak jarang penderita yang telah kehilangan harapan karena “divonis mati” oleh pihak rumah sakit, ternyata sembuh di tangan balian. Kenyataan semacam ini tentu kian meligitimasi keampuhan sistem pengobatan tradisional sehingga keberadaannya patut diperhitungkan masyarakat modern sekalipun. Hal lain yang mendorong bangkitnya sistem pengobatan tradisional adalah berkaitan dengan fungsinya sebagai lambang identitas sekaligus lambang kebanggaan adiluhung bagi sebuah peradaban. Berkenaan dengan ini sejumlah negara telah berupaya menggali dan mengembangkan sistem medis tradisional mereka serta memposisikannya pada status terpisah namun sederajat dengan ilmu kedokteran Barat. Cuma, sekali lagi Pujaastawa mengingatkan, sepatutnya orang lebih selektif dan mencari banyak informasi ketika hendak berobat ke penyembuh jenis ini, sehingga tak sampai terjerumus. Satu ajakan yang patut ditelaah secara bijak, sehingga orang tak terlalu kadropon (tergesa-gesa) yang ujung-ujungnya penderita terbelenggu dalam posisi yang lebih menyakitkan. Seperti pepatah lawas “Sudah jatuh tertimpa tangga”.I wayan Sucipta