No. 94/ Tahun IX Februari 2008
majalah gumi bali [sarad]
prihal pikir, kata dan laku manusia bali
 
Reracikan/Daftar Isi
Paruman/Sajian Utama
Cakepan
Paras Paros
Nyama Braya
Bale Bengong
Dresta
Orta
Sameton
Sasih
Sorot
Susila
Tatwa
Upacara
Wirasa/Surat Pembaca

   

SOROT
hal 1 | hal 2

Angin Surga Berbuntut Petaka

Fenomena pedofil di pulau dewata jadi momok sangat menakutkan. Jika lemah dalam penanganannya, bukan mustahil bisa menjerumuskan generasi penerus Bali.

Fenomena pedofil di pulau dewata jadi momok sangat menakutkan. Jika lemah dalam penanganannya, bukan mustahil bisa menjerumuskan generasi penerus Bali. Berhati-hatilah terhadap orang asing yang berbuat baik, apalagi belum dikenal betul wataknya. Alih-alih mendapat bantuan, babak akhirnya justru terjerat dalam petaka.
Mau contoh? Cobalah lihat anak-anak korban pedofil di Bali yang sesuai hasil penelitian Rohman dari Pusat Studi Kependudukan dan Kawasan (PSKK) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, selama 10 tahun (1995-2005) jumlahnya sekitar 17 orang. Awalnya, anak-anak dari keluarga kurang mampu, korban perceraian, dan kurang mendapat perhatian dari orangtua itu mendapat perhatian sangat besar dari para pedofil. Mereka diajak bermain ke tempat yang bagus, diberikan barang-barang yang menarik hati, dan dibelai dengan penuh kasih sayang. Namun, dibalik tumpahan rasa sayang itu, ternyata anak-anak ini menjadi obyek seksual para pedofil. Dalam usia yang masih belia dihadapkan pada perilaku seks nyeleneh, sesuatu yang tak lazim dalam hidupnya. Mau menolak takut, akhirnya si korban pun mengikuti hasrat hati para pelaku pedofilia. Akibat akhirnya, tentu membawa dampak negatif bagi perkembangan korban. Tekanan mental yang dirasakan para korban pun cukup berat. Dari hasil penelitian I Dewa Gede Basudewa, korban pedofilia akan menderita trauma dan penyesalan yang panjang. Setidaknya ada empat trauma yang dialami, trauma karena kejadian itu sendiri, trauma akibat dimarahi orangtua, trauma bila keluar rumah diejek teman-teman di sekolah, dan trauma diejek masyarakat.
Kalau sampai tak mendapat penanganan secara profesional dan saling mendukung, maka akan menjadi gangguan selama hidupnya. Korban mengalami kesulitan dalam memandang kehidupan selanjutnya, terkait dengan diri dan orang-orang dewasa di sekitar, dan kelak bila dewasa akan berpengaruh pula terhadap hubungan seksual dengan pasangannya. Di mana akan terjadi konflik-konflik. Seperti dialami korban pedofil sebut saja namanya Gede, dari Karangasem. Akibat tindakan para pedofilia, kerap kali dia merasa mual bila mengingat peristiwa menjijikan itu. Di samping itu, pikirannya seringa tegang saat mana bertemu dengan orang asing, terutama laki-laki “Sangat besar akibat yang ditimbulkan dari perilaku para pedofilia terhadap anak-anak di Bali,” dosen Bagian Psikiater dari Fakultas Kedokteran Unud ini mengingatkan. Bukan hanya Gede, korban pedofilia yang lain juga mengalami penderitaan berat. Putu (bukan nama sebenarnya), korban dari Tony pedofil asal Australia, mengaku sering mimpi buruk dan tidurnya tak nyenya, takut kalau ada orang luar yang mendatangi dan minder bila keluar rumah. Dia kerap merasa dikejar-kejar sesuatu serta seakan-akan tinggal di laut sendirian.
Tak berhenti sampai di situ. Putu juga sering jadi objek ejekan teman-teman satu sekolah. Akibatnya dia jadi mudah marah tersinggung tanpa sebab, bingung, dan terkadang menangis sendirian. Beruntung teman sekelasnya tak sampai menistakan Putu. Itu semua akibat besarnya kesadaran di antara teman sesama satu kelas, serta peran wali kelas yang selalu mengingatkan teman-temannya supaya tak menyakiti perasaan orang yang jadi korban pedofilia.
Jika peristiwa kekerasan seperti ejekan dari teman-teman sekolah tak cepat tertangani, dalam amatan Dewa Basudewa, trauma itu akan berimbas negatif secara permanen pada kepribadian anak. Korban akan berkembang senantiasa menjadi anak dengan kewaspadaan tingi, tegang, dan tak percaya pada orang dewasa. Bukan mustahil, si korban merasa tak mempunyai harapan dan pesimistis akan masa depannya. “Korban pedofilia akan merasa sangat tertekan oleh kondisi yang dialami. Lebih-lebih lingkungan sekitar, termasuk orangtua kurang memahami keadaan psikologis yang dialami korban”, cermat Psikolog dari Universitas Udayana, I Made Rustika. Jika kurang mendapat perhatian, maka yang bersangkutan akan merasa terpinggirkan, terkucilkan, dan ujung-ujungnya beban mental terus menekan. Kurang cepat menangani, bukan tak mungkin si korban mengalami stres berat. Kasus-kasus pedofil yang dialami anak-anak di Bali, memang berdampak pada aspek kejiwaan dan psikologis pada diri korban. Di tambah lagi implikasinya pada aspek kepercayaan kultural. Sebab di desa tertentu, seperti pada satu desa di kaki kaki Gunung Agung, Karangasem, muncul kepercayaan orang yang menjadi korban pedofil bisa dikategorikan kotor (leteh/cuntaka), keberadaannya dapat mengganggu keseimbangan alam Buana Alit (diri anak sendiri), dan alam Buana Agung (alam raya).
Meminjam cara pandang kultural dari orang-orang di kaki Gunung Agung seperti itu, berarti dapat diketahui bahwa anak-anak korban pedofil itu, secara kultur telah bernilai cuntaka dan dipandang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan alam Buana Agung - Buana Alit, baik secara skala maupun niskala, yang sekaligus juga harus ditempatkan pada posisi ruang yang nista. Di teben (hilir).
Sedangkan dalam tradisi Bali, anak laki-laki seharusnya tak berada pada situasi dan posisi seperti itu. Semestinya anak laki-laki berada pada tempat (ruang) yang utama (suci), atau pada areal luanan (hulu) karena posisinya sebagai penerus keluarga dan kegiatan adat. Akibat menjadi korban pedofil posisi dan nilai kultural tersebut menjadi tidak bisa diperoleh, dan anak tersebut dipandang oleh kultur telah bernilai cuntaka. Artinya lagi konflik telah terjadi dan apabila tak segara dilukat (dibersihkan/disucikan), dipercaya dapat menimbulkan bencana bagi kultur, termasuk diri anak sendiri. Teramat menyesakkan memang akibat yang dirasakan dari perilaku orang-orang pengidap pedofil terhadap anak-anak di Bali. Mereka telah menutup rapat-rapat peran generasi Bali di tanahnya sendiri. Belum lagi reziko lain yang bisa dialami, seperti gangguan kesehatan masyarakat, HIV/AIDS, HAM, migrasi, kejahatan terorganisir, dan moral (sosial budaya).
Mengingat begitu besar dampak negatif yang ditimbulkan oleh perilaku para pedofilia, selain berdampak pada aspek kejiwaan dan psikologis pada diri anak itu sendiri, juga berimplikasi pada aspek kepercayaan kultural masyarakat Bali maka upaya menekan, mengantisipasi tindakan tersebut agar tak tumbuh kembali harus terus digalakkan. Dewa Basudewa kemudian menawarkan beberapa langkah yang intinya minimal mampu mencegah tindakan pedofilia di Bali. Mewaspadai bantuan orang asing merupakan satu keharusan, sekalipun terhadap keluarga yang dari sudut kemampuan ekonomi kurang menguntungkan. Jika ada orang luar memberikan bantuan hendaklah dibicarakan dulu bersama dengan yang lain. Kalau dirasa ada yang mencurigakan secepatnya dilaporkan ke pihak berwenang. “Sumbangan hendaknya diterima secara selektif,” himbau Basudewa.
Khusus pada anak-anak yang jadi korban, perlakukan secara baik, arif, serta bijaksana. Tak mesti ditempatkan pada posisi yang terpojok. Upaya yang tak kalah penting, ingat Made Rustika, peran keluarga maupun masyarakat dalam usaha memberi semangat hidup pada korban. Sampaikan ke korban, bahwa yang bersangkutan akan bisa menghadapi hidup lebih baik dan bertambah cerah di masa mendatang. Di sisi lain, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak serius menyikapi persoalan ini. Apalagi pedofilia merupakan tinakan kriminal, maka masyarakat mesti meminta pelaku dihukum berat. Tindakan itu penting dilakukan, minimal untuk memunculkan efek jera bagi para pedofil bila berkeinginan melakukan aksinya. I Wayan Sucipta